Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan.
Dalam setiap ketakutan, ada keberanian.
Dalam setiap kebaikan, ada keburukan.
Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
******
Tekad Kia untuk mengungkap kematian ayahnya yang terasa janggal semakin kuat. Saat i...
Dalam setiap kekuatan, ada kelemahan. Dalam setiap ketakutan, ada keberanian. Dalam setiap kebaikan, ada keburukan. Dan dalam setiap cahaya, ada bayangan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Kia berdiri tegap di depan kantor kepolisian, pandangannya mengarah ke atas, menilik tulisan besar yang terdapat pada bagian atas tiang gedung. Tatapan yang tajam penuh rasa ingin tahu. Dengan tangan yang terkepal kuat, ia bersiap untuk menjalankan misi dalam memecahkan teka-teki yang berkecamuk dalam pikirannya mengenai pembunuhan yang mengorbankan sang ayah.
Dengan langkah mantap, gadis itu melangkah masuk setelah menghela napas panjang. Ia berjalan menuju ruang sel tahanan setelah berhasil mendapatkan izin berkunjung pada pihak kepolisian yang saat itu sedang berjaga. Dengan mengaku sebagai saudara salah satu tahanan, akhirnya Kia dapat menemui pria yang menjadi pelaku pembunuhan sadis terhadap ayahnya.
"Dia pembunuh itu?" tanya Kia dalam hati, matanya menatap tanpa berkedip.
Saat kedua mata mereka saling beradu, tentunya tidak ada rasa penyesalan sedikit pun dari pria yang kemungkinan usianya berjarak dua tahun di atas Kia. Gadis itu menatap tajam ke arahnya sebelum ia mulai membuka suara.
"Apa motif kamu membunuh pak Antonio? Sedangkan beliau sudah menyerahkan semua harta yang saat itu dia bawa tanpa bertindak memberi ancaman, bahkan setelah kamu berhasil membunuh pun semua benda berharga itu tidak ada yang kamu ambil. Ini sangat janggal," tanya Kia tanpa mengalihkan pandangannya dari pria itu.
"Gue cuma anggota gengster yang mau buktiin ke orang-orang bahwa gue kuat, dan bisa ngebunuh orang tanpa belas kasihan. Jadi, siapa pun gak ada yang berani macam-macam sama gue. Dan soal barang-barang berharga itu, temen gue aja yang bego malah keburu lari karna takut di kejar masa," ungkap pria tersebut dengan tatapan datar. Ia berucap dengan santai seolah-olah apa yang ia katakan jauh dari kebohongan.
"Siapa yang suruh kamu ngelakuin hal ini? Saya tahu kamu gak tergiur dengan benda berharga yang dibawa pak Antonio karena kamu sudah mendapatkan bayaran yang lebih besar, kan?"
Pria itu tertawa meremehkan, sesaat ia memalingkan wajah ke arah lain, tak lama ia kembali berhadapan dengan Kia. "Lagian lo siapa, sih? Keluarga? Saudara? Atau pacar rahasianya dia?"
Brak!
Kia menggebrak meja di depannya secara keras sambil langsung berdiri dengan kepala yang didekatkan pada pria itu, "jangan kurang ajar ya kamu!" Telunjuknya mengarahkan pada batang hidung pria itu.
"Kenapa? Ya, gue gak salah kan nanya gitu? Toh, pihak keluarganya aja langsung nutupi kasus ini setelah gue di tahan, dan mereka gak mempermasalahkan apa pun sampai sekarang."
"Justru karena kasus ini langsung ditutup, bikin saya curiga bahwa semua ini ada yang gak beres!" Kia sedikit meninggikan intonasi karena emosinya sudah mulai tersulut. Namun bukannya pria itu merasa takut, ia malah memberi senyuman meremehkan ke arah Kia.