Epilog 2

731 64 3
                                        

Dunia Muggle,

"Namamu adalah Draco— namamu bintang Draco,jika aku benar menghilang. Jenguklah aku dipucuk gelapnya langit maka aku berada di antaranya— berada bersamamu" Harry mengatakan itu yang membuat hati Draco jatuh dan matanya bergelinang air mata.

Draco menjawab dengan getar, "Kau mengatakan seperti kau sudah tau ending semua ini"

Harry bangun tersentak dan berkeringat. Dia membuka selimutnya dan duduk dengan nafas tersengal.
"Mimpi  itu lagi" Harry bergumam, dia melihat jam dan baru jam 4 pagi.

Setelah ini Harry ada wawancara pekerjaan, dia adalah pemuda yang baru lulus dari Brown University dengan jurusan Politik.

Dia menuju ke kementrian untuk melakukan seleksi wawancaranya, entah bagaimana yang terjadi. Kementrian adalah satu satu pekerjaan yang ditujunya sejak kecil.

Sudah 30 tahun Harry terus memimpikan potongan potongan aneh. Percikan merah, lelaki berambut pirang. Luka pada wajahnya dan masih banyak lagi.

Harry melihat tubuhnya dipantulan kaca, dia melihat wajah tampannya itu. Putih bersih dan mulut serta tak ada luka.

Baru jam 4 pagi dan dia memutuska untuk Jogging keluar sebentar mengistirahatkan pikirannya.

Dia keluar dari Asrama kecilnya, berlari perlahan dan matanya sudah segar. Menghirup udara dingin yang sangat sejuk sungguh menenangkan hatinya

Matahari mulai memperlihatkan dirinya, Harry duduk meregangkan kaki dan nafasnya tersengal sengal. Melihat taman di sekelilingnya,  dia mengecek jam yang berada di tangannya menunjukan pukul 6 pagi. Dan Harry berdiri lalu kembali ke apartement kecilnya.

Harry melihat seseorang dengan Hoodie tertutup, di samping tong sampah. "Aneh sekali" batin Harry.

Harry berlari kecil meliriknya, dan orang itu melirik Harry. Harry mengacuhkannya dan lanjut berlari memandang depan.

Dibukanya tudung Hoodie itu, Draco Malfoy yang sudah berumur Harry menatap punggungnya pergi jauh meninggalkannya, mata Draco berteriak dan terbaca rindu yang amat dalam. Tak lupa dikantongan hoodienya terdapat buku kecil yang selalu dibawa kemana mana.

***
"GRYFFINDOR!" topi seleksi berteriak setelah Rose duduk didepan, Rose tersenyum lebar dan menatap Scorpius yang wajahnya kaku dan sungguh tegang.

"Malfoy— Scorpius" Professor McGonagall teriak, Scorpius menelan ludahnya kasar dan maju dengan badan sedikit gemetar.

Professor Mcgonagall tersenyum padanya, "Duduk dan yakinkan dirimu Malfoy"

Topi mulai berdeham, "Woww perpaduan sempurna— keberanian— kesetiaan— licik juga" Scorpius memejamkan matanya dan berdoa.

"Ku tempatkan mana ya— keberanian milik Potter—GRYFFINDOR!" mata nya terbuka dan tersenyum lebar.
Scorpius berlari menuju meja Gryffindor dan memeluk Rose.

Semua anak berbisik bisik, "Seorang Malfoy Gryffindor"

Scorpius melihatnya dan Rose juga, tetapi Scorpius berusaha mengacuhkanya. Rose berdiri dan memandang galak para anak itu. "Memangnya kenapa kalau Malfoy itu Gryffindor! jangan berani berani kau menganggu suadaraku!— aku ini keturunan Granger dan Weasley!"

Memories // DRARRY [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang