Untuk Draco yang menyamai bintang, di antara udara, di bawah langit
Jutaan kata tak akan bisa menggapai rasa bahagiaku setiap kali aku menatapmu Draco, di hari itu. Ku tulis surat ini dengan genangan air mata, dan aku yakin ini tak akan sampai kepadamu. Kini aku duduk diam menatap langit, berharap melihatmu di atas sana. Dengan suara kotak musik didekatku, nyanyian seorang Muggle yang mengesankan bagiku.
Berpuluh puluh tahun aku hidup, selama hampir 20 tahun kau mengambil memoriku. Aku melanjutkan hidup disini, sendirian tanpa siapapun yang menyayangiku. Kau disana bersama teman teman dan juga kehidupan yang hebat. Tidak sepertiku yang selalu bangun pagi, berlari dan membawa sekantung map serta buku buku ditangan.
Mantra Obliviate yang menyambarku waktu itu, kau berfikir bahwa itu berhasil sepenuhnya. Mereka berfikir begitu, tetapi setelah bertahun tahun aku hidup dengan kesendirian ini. Potongan potongan memoriku tentangmu dan perang itu selalu muncul kembali, berulang kali.
Aku mengingat semua, sebelum tongkatmu mengenai pelipisku dan menarik semua memoriku. Tongkatmu itu terjatuh padaku, kesetiaannya ada padaku saat aku latihan denganmu di Hutan Terlarang itu.
Aku menyesal sekali sungguh, jika aku mempunyai pilihan. Aku akan bersungguh sungguh bilang bahwa aku tak ingin mengingat semua ini. Aku hanya ingin ingat dirimu, bukan perang itu.
Kesedihan yang ku lalui selama ini bahwa kita tidak akan pernah bisa bersama sama, kecuali jiwa kita yang akan terbang bebas disana. Aku yakin Draco, kau akan selalu menghampiriku dalam mimpi atau kau akan berpura pura menjadi orang lain yang kau fikir aku tak tau itu kau. Sungguh, setiap kali aku melihatmu rasanya aku ingin sekali berlari ke pelukanmu dan kau akan menggendongku seperti di saat itu, lalu aku akan mengecup bibirmu dan membisikkan sesuatu.
Draco, aku menyayangimu. Kau dan segala kekesalanmu padaku karena aku sering mengacau dan sering marah terhadapmu. Hanya kepadamu aku akan menyerahkan jiwaku yang seutuhnya ini untukmu. Aku yakin setelah aku dihilangkan, kau akan bertindak hal diluar kendali yang tidak aku sukai. Tetapi aku harap untuk ini, kau mulai berjalan kembali. Dengan anak dipundakmu, aku yakin kau tak akan mengingkar janji itu. Sampaikan salamku pada teman rambut ikal itu, Hermione dan Ron. Kalian semua harus tetap hidup.
Draco jiwaku, janganlah kau hidup di dalam bayang bayang dan kenangan masa lalu. Disaat aku masih menjadi pacar yang suka meracau atau menganggu mu. Jangan terjebak pada memori yang diputar ulang terus menerus yang membuat kau tak bisa hidup. Mulai lah hidup tanpa diriku Draco, karena aku juga akan memulainya walau aku yakin aku tak kuasa.
Saat aku berlari pada dini hari dan melirikmu itu, sungguh rasa degup jantungku hebat karena kau juga melirikku. Aku berlari menghindarimu karena aku takut kau akan mencariku, itu melanggar hukum takdir Draco. Kita ditakdirkan untuk saling mengenang, semua kenangan indah dan memori yang kau kirimkan ini sudah cukup bagiku. Aku akan selalu ada, karena jika aku mati maka kau akan mati.
Kita pasti akan bertemu lagi suatu hari nanti, entah dalam bentuk apa. Walaupun tidak akan ada seorang Draco yang bisa menggantikan dirinya bagiku, bahkan di alam baruku saat nanti.
Yang terberat saat menyampaikan pesan ini adalah untukmu Ginny Weasley, aku membencimu. Kalau saja saat itu aku memberanikan diri untuk membuka jubah Ayahku, maka semua tidak seperti ini. Aku dibalik jubah Ayahku, melihat kau berlari untuk merapalkan kutukan hijau pada pacarku. Aku mengelaknya dan saat itu kau sadar bahwa ada aku dibalik tatapan tak terlihat. Jika waktuku sedikit lebih panjang, izinkan aku untuk menarik rambut panjangmu itu dengan kasar. Semoga Hermione yang membuatmu seperti itu. Semoga kau puas Ginny, melihat aku diluar sini dan Draco didalam sana yang jelas membuat kita tak bisa bersama.
Drayy... mungkin sampai sini saja ku tuliskan pesan hati ku ini kepadamu, sebelum aku mengakhirinya. Tak ada lelaki lain yang kubayangkan yang mampu menghadapiku. Maafkan aku di masa lalu aku bertingkah menjadi pacar yang sangat menyebalkan tapi sungguh aku menyayangimu. Suatu hari nanti, aku percaya bahwa kita hidup bebas dan bahagia diluar sana. Draco, ku kirimkan surat ini melalui memoriku, sekarang aku yakin bahwa kau dapat menerima serta mendengar pesanku. Aku merindukanmu, aku tak punya apapun gambar atau foto berwujud dirimu. Tapi aku mengenangnya, only in my memories.
Harry.
***
Decikan sepatu di lapangan dan sorak sorai anak anak perempuan yang menggelegar. Harry men dribble bola basketnya untuk mengarahkannya ke atas. Jersey di punggungnya bertuliskan POTTER dengan no 7 dibawahnya.
Anak perempuan itu berteriak kencang menyemangati Harry yang sedang berkeringat dan menggiring bola. Nafas Harry tersengal sengal, dia mengusap dahinya dengan bajunya yang memperlihatkan perut ber ototnya itu.
"AAAAAAA" suara anak perempuan berteriak histeris kencang.
Harry tersenyum kecil dan menggelengkan kepala mendengar anak perempuan berteriak untuknya.
"US LEMPAR KE AKU US!" teriak Harry pada sahabatnya itu, mendongak dan melemparkan pada Harry kemudian Harry berlari dan mencetak 3 Point.
Harry dan sahabatnya saling tos satu sama lain, dan berteriak kemenangan.
Seorang perempuan berteriak dipinggir lapangan dengan melambai lambaikan tangannya. "Bilius!"
Bilius mendongakkan kepalanya serta menatap Harry, Harry mengangguk dan tersenyum. Mereka mendatangi anak itu.
"Terima kasih Jean... kau sungguh bodoh"
Jean memukul kepala Bilius dengan handuk ditangannya, dan Bilius tertawa. Harry tertawa,
Apakah hanya Harry saja yang mengingat kehidupan sebelumnya. Hermione dan Ron sama sekali tidak mengingatnya— tetapi dimana yang lainnya. Selama 17 tahun Harry hidup, dia hanya menemukan Hermione dan Ron. Itu pun mereka mengganti nama mereka, walau tak sepenuhnya. Sisanya, tidak pernah diketahui keberadaanya.
Harry menghentikan pikirannya "Bil— setelah ini kita lawan SMA mana?"
Bilius meneguk minumannya, "GREEN BRITISH SCHOOL" Harry mendongak.
"Apa?!— rayakan kekalahan kita deh" Harry duduk bersandar lemas.
Jean memutar matanya, "Apa sih kau ini— lawan dan menang!" dia menggoyang goyangkan tubuh Harry. Harry tersontak menatap Jean dan memiringkan kepalanya.
Bilius memanyunkan bibirnya, "Tuh mereka datang" Harry mendongak ke belakang.
Sebagai Captain Basket, Harry harus menyambut kedatangan mereka tetapi Harry ingin ke toilet karena merasa ingin pipis. Dia berlari cepat karena tak enak dengan GBS yang baru datang.
Harry menabrak seseorang "Dari dulu selalu menabrak terusss" kesal Harry tetapi dia tersenyum meminta maaf dan mendongak.
"Blaise?" kata Harry, dia melihat tubuh besar Blaise dan mengenakan Jersey GBS.
Blaise tersenyum bingung, "Wow kau tau namaku— sungguh luar biasa tapi diamlah— aku sedang bersembunyi dari wanita wanita gila yang meminta foto padaku— siapa namamu— Ah sial" Blaise berlari menghilang karena beberapa anak perempuan mulai berdatangan kepadanya.
Harry mengetahui keberadaan Blaise di dunia ini, dan ini bukanlah mimpi. Tetapi Harry juga tidak tahu apa yang dia lakukan karena sama sekali tak ada yang mengingatnya.
Harry buru buru kencing dan kembali pada lapangan, dilihatnya telah dan dia mendengar sorakan lebih ramai. Harry gugup melawan GBS, karena sekolah itu terkenal dengan basketnya yang luar biasa.
Harry maju ke tengah lapangan dan sorakan mulai berdatangan, para Captain harus ke tengah lapangan untuk menjabat tangan. Tetapi Captain GBS tak kunjung datang. Harry gugup dan memandang Jean/Hermione sahabatnya di ujung sana. Hingga akhirnya ada langkah lari datang menyambarnya. Harry masih tetap menghadap ke arah ujung.
"Wajahmu tampan tanpa luka itu" kata orang disamping Harry. Harry menoleh dan dilihatnya manusia tinggi rambut hitam legam dengan wajah angkuh ciri khas Malfoy.
Mata Harry berkaca kaca, "Draco..." dia mendesis, Draco tersenyum menatapnya. Captain tim basket GBS dengan penggemar paling banyak.
"Halo Harry Potter" katanya dengan menunjukan sederetan giginya.
Harry meneteskan air matanya, menatap mata itu.
"Bukankah menurutmu dunia ini juga menyenangkan?" lanjut Draco tersenyum dan memegang serta mengelus telinga Harry.
KAMU SEDANG MEMBACA
Memories // DRARRY [COMPLETED]
FantasyBOYSLOVE DRARRY FANFIC "BACK TO MEMORIES" IS OUT NOW (PART 2) Setelah the battle of hogwarts yang ke 2, Harry Potter "The Boy Who Lived" yang masih tetap berjuang untuk menghapus memori memori buruk yang telah dilalui selama 17 tahun belakangan in...
![Memories // DRARRY [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/347743430-64-k51397.jpg)