Malam itu hujan datang dengan deras, kamar di Malfoy Manor sangatlah gelap dan hanya dipasang sedikit lilin melayang. Kamar Draco berantakan dan perapian yang redup, Draco tidur dengan mata yang membengkak hebat serta tubuh yang makin kurus.
Seminggu setelah ingatan Harry dihilangkan, Draco menjadi kehilangan arah dan selalu marah kepada siapapun yang menganggunya bahkan peri rumahnya sekalipun.
Draco berdiam dibalik selimutnya dan menangis, terus menerus menangis. Tubuhnya sangat berantakan, rambutnya dan semuanya sungguh sungguh memprihatinkan. Tak ada yang bisa datang ke Manor itu bahkan Blaise, Ron dan Hermione sekalipun karena Draco tidak mengizinkannya masuk.
Bunyi Tar muncul dari luar kamar Draco, Tippsy memunculkan meja kecil berisikan makan malamnya. Walaupun Tippsy tahu bahwa makanan itu tak akan pernah disentuh oleh tuannya.
"Pergilah jika kau bukan Harry" teriak Draco dari dalam kamar setelah mendengar bunyi Tar itu muncul.
Itu adalah kalimat yang selalu didengar oleh Tippsy setiap harinya, tak pernah mendengarkan kata-kata lain selain itu.
Dua minggu berlangsung sama, Draco justru jatuh sakit dan dia sering muntah serta jatuh. Tipssy benar benar mengkhawatirkan tuan mudanya. Draco sering menepiskan tubuh kecil Tippsy karena tidak memerlukan bantuannya.
"Pergilah ke dapur Tippsy! aku tak membutuhkanmu— aku butuh Harry— aku butuh dia!"
Tippsy menunduk rendah sekali dan mengucapkan maaf, "Maafkan Tippsy— Tippsy tidak bisa mendatangkan Tuan Harry Potter"
Draco menangis, tubuhnya yang terjatuh di lantai itu menjadi sangat lemah dan tak berdaya. "Kenapa? kenapa kau tidak bisa mendatangkannya? aku membutuhkannya!" kata Draco sambil menangis tersedu sedu.
Tippsy hanya diam, dia menunduk rendah dan menghilang. Draco mengerang kencang dan memukul lantai Manornya.
Tubuh Draco yang tidak terawat itu menjadi sangat lemah, Draco terus menerus menangis setiap harinya. Kini tubuhnya bahkan tak bisa bergeser 1cm pun dari lantai tempat dia terjatuh dan menangis. Dia hanya berpasrah saat dia tertidur disana.
Suara langkah kaki berlari terdengar oleh Draco tetapi ia hiraukan. Langkah cepat dan bergegas itu tak lain lagi adalah Astoria.
"Dracoo!!!" Astoria menghampiri tubuh Draco yang tergeletak dilantai, wajah Draco sekarang benar-benar tidak menggambarkan seorang Malfoy.
"Bangunlah Draco" Astoria mencoba mengangkat tubuh Draco yang lemas. Draco mengernyitkan alisnya marah dan menepis tangan Astoria.
Astoria menahan nafas, membuangnya dengan perlahan. "Draco—Harry tak akan suka ini"
Draco menatap Astoria, "Kau tidak mengenalnya"
Astoria mengangguk paham, matanya menatap mata biru Draco. "Aku tau Draco— maafkan aku"
Draco memutar matanya galak, dia mendorong tubuh Astoria menjauhi tubuhnya. "Pergi lah! bukan kau yang ingin aku temui"
Astoria menghembuskan nafas panjang, "Makanlah Draco— aku bawakan beberapa ramuan untukmu"
Draco berbalik menatap Astoria, "Kau tak akan pernah bisa menggantikan posisi Harry, aku harap kau tau itu Tori"
Astoria mengangguk, "Aku tahu— aku hanya peduli padamu karena kamu tunanganku, tidak yang lain"
Draco menggeleng, "Aku tak pernah bertunangan dengan siapapun. Aku akan melamar Harry suatu saat nanti, hanya Harry yang akan ku lamar. Tidak dengan yang lain" wajah Draco marah dan memerah.
Astoria paham dengan situasi seperti ini, dia hanya perlu memendam semua rasa sakit yang dilontarkan dari lelaki impiannya sejak masih sekolah itu. "Baiklah aku bukan tunanganmu— maafkan aku Draco. Aku memang tak bisa menggantikan Harrymu, tetapi aku datang kesini sebagai orang yang pernah kau tolong hidupnya"
KAMU SEDANG MEMBACA
Memories // DRARRY [COMPLETED]
FantasyBOYSLOVE DRARRY FANFIC "BACK TO MEMORIES" IS OUT NOW (PART 2) Setelah the battle of hogwarts yang ke 2, Harry Potter "The Boy Who Lived" yang masih tetap berjuang untuk menghapus memori memori buruk yang telah dilalui selama 17 tahun belakangan in...
![Memories // DRARRY [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/347743430-64-k51397.jpg)