19

881 96 6
                                        

Hari Minggu adalah hari untuk bersantai, Harry berada di asramanya hanya membaca buku ringan sambil tiduran di sofa perapian dan menyeduhkan teh hangat untuknya. Gryffindor masih latihan strategi nanti sore di Hutan Terlarang, Hermione dan Ron sudah menyiapkan sedikit simpang siung strategi dan percikan ide dari Harry juga.

Jadwal siang ini adalah jadwal Slytherin berlatih, dan Draco sudah menyampaikan salam untuk Harry bahwa selesai berlatih dia akan langsung meluncur ke asrama Harry.

"Dasar bodoh!" teriak Draco kepada anak laki laki tinggi berkulit kuning kecoklatan,

Anak laki laki itu kebingungan dan sedikit ketakutan. "Kau tingkat berapa?" tanya Draco sedikit berteriak.

Mereka semua sekarang berada di Hutan teralarang yang sedikit jauh, anak laki laki diajar oleh Draco sedangkan perempuan diajar oleh Pansy.

Anak laki laki itu tergagap menjawa Draco "Aku tingkat 3" katanya sedikit menunduk.

Draco menghembuskan nafasnya kasar merasa malas dan lelah.
"Kalau kau masih meringkuk seperti bayi lebih baik kau bersama perempuan saja untuk berlatih"
Para laki laki dari Slytherin itu tertawa.

"Cukup— ayo lanjutkan kini aku mengajarkan kalian mantra tak termaafkan" kata Draco memandang semua anak laki laki itu. Dengan wajah tegas dan sangarnya dia memimpin.

Pansy mendongak ke arah laki laki berlatih, dia mengernyitkan alisnya dan berjalan menghampiri Draco.

"Kau mengajarkan kutukan tak termaafkan se cepat ini?!" tanya Pansy marah memandang Draco,

Draco menatapnya sebal
"Kalau tak hari ini mau kapan lagi?"

Pansy memutar matanya, dia memasangkan wajah marah.
"Kau tak bisa! kalau kau melontarkan kutukan tak termaafkan sama saja kau melontarkan dirimu ke Azkaban"

Anak anak laki laki dan yang perempuan pun jadi ikut mendekat melihat perdebatan Pansy dan Draco.

"Lihatlah— mereka mau kok belajar mantra itu— lagi pula Professor tidak akan tau" kata Draco menunjuk kepada barisan para laki. Para anak anak laki pun mengangguk angguk.

"Sudahlah Pans— kalau kau tak ingin maka tak usah" kata Blaise melerai mereka, Blaise berjalan menengahi antara Pansy dan Draco.

Anak perempuan ada yang menyeluk,
"Ayo Parkinson kita lanjut saja"
Pansy menoleh, dan mengagguk kecil.

"Dasar keparat!" ucap Pansy saat berbalik.

Draco memutar matanya malas, dia berbalik untuk ke barisan laki laki.
"Baiklah— ku ajarkan Crucio, ada yang keberatan mengenai mantra ini?" tanya Draco melirik. Dia melanjutkan omongannya

"Sangat mudah saat kau mempunyai kemampuan membenci seseorang dari lubuk hati saat melontarkan mantra ini— aku tak akan memberikan contoh pada sesama manusia" lanjut Draco.

Theo dan Blaise saling menatap,
"Aku akan melontarkan padamu" kata Theo menatap Blaise,

"Bangsat" jawab Blaise singkat

Hari sudah mendekati sore, para anak anak perempuan sudah beristirahat duduk di tanah. Sementara laki laki masih sibuk mengernyitkan alisnya dan merapalkan mantra percikan merah pada seekor burung merpati putih.

"Tidak ada yang berhasil" kata Astoria berbisik pada Pansy,

"Mereka tak cukup berani" jawab Pansy sambil terus menatap para laki laki yang sedang berlatih.

"Kecuali Draco— dia sungguh keren"

Pansy menengok mengernyitkan alisnya, lalu kembali menatap lurus pada para lelaki.
"Apa keluargamu menyetujui tunangan itu?"

Memories // DRARRY [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang