Back to Memories 10

358 38 1
                                        

"Apa? Kenapa Ayahku bisa memilih Drake yang memiliki wajah buruk, harusnya dia memilih yang tampan supaya bisa menarik Harry" Scorpius memotong Luna, Rose memutar matanya.

"Bisa tidak sih kau tidak memotong pembicaraan orang, itu menyebalkan" Rose menatap Scorpius tajam. Scorpius bergidik ngeri melihat saudarinya menatap sinis seperti itu.

"Draco punya alasan sendiri" jawab Luna tenang, wajahnya tampak rileks.

Rose mengernyitkan alisnya, Scorpius bingung.
"Kau tau alasannya?" tanya Scorpius.

Luna menggeleng, matanya mengarah keluar. Scorpius berdiri dan menghadap jendela luar.
"Aku adalah anak yang tidak diinginkan, bukankah begitu Luna?" Tanya Scorpius tanpa pandang.

Rose hanya menatap punggung Scorpius, Luna berdiri dan menghampiri remaja laki-laki itu dan berkata, "Aku belum selesai bercerita, duduklah" Scorpius menoleh pada Rose yang masih duduk.

"Duduk" kata Rose memandang Scorpius galak, sungguh tidak sopan sekali Scorpius ini dengan orang yang lebih tua. Lagi-lagi Scorpius menurut pada Rose karena tatapannya setajam tombak yang siap mengarahkan pada dadamu kapan saja.

Luna pun ikut duduk, Rose memajukan tubuhnya. "Apa yang terjadi setelahnya Luna? Apakah Drake menjadi pacarnya?"

Sudah 2 minggu kini Harry bekerja di Bar milik cedric, Harry berkembang pesat dengan kemampuan meracik minumannya. Walaupun belum menjadi bartender sepenuhnya, tetapi Harry sudah berani membantu bantu Cedric membuatkan minuman untuk pelanggan.

Drake juga semakin sering datang dan berkunjung untuk sekedar mampir atau minum. Harry mulai membaur dengan Drak dan juga para pelanggan lainnya serta kehidupan barunya saat ini setelah mengenal pekerjaan baru ini.

Dan sekarang mereka tengah janjian untuk bertemu di kampus, karena mereka satu kampus tetapi tidak pernah ketemu jadi Harry meminta untuk bertemu secara santai di area kampus.

Kini masih di jam mata kuliah Harry kini sedang duduk dan meletakan dagunya di meja lalu dia memejamkan mata.

"Ayo ikut denganku— aku ingin pergi membeli buku peraturan yang jilid lima" Colin menyaut disampingnya, Harry membuka matanya yang berat. Sudah 2 minggu ini Harry selalu mengantuk dikelas karena jam kerjanya.

"Emm pergilah tidak denganku— aku ingin bertemu dengan temanku nanti"

Colin menyambar tubuh Harry dan menggoyang-goyangkan kencang membuat Harry mengeluh.
"Sejak kau bekerja di bar itu— kau jadi melupakanku"

Harry terbangun, kini dagunya sudah terangkat. "Tidak Colin— aku hanya menambah teman dan mereka menyenangkan, aku rasa kau akan suka"

Colin menggeleng, dia tak mau.

"Baiklah, aku akan menemanimu besok. Hari ini aku sudah ada janji" kata Harry menyelesaikan percakapannya kemudian kelas selesai dan Harry langsung berdiri dan berjalan keluar.

Mereka bertemu di kantin utama didekat danau, ini adalah titik 0 dari kampusnya. Harry sampai pada kursi duduk panjang dengan lampu kuning diatasnya. Hari menunjukan semakin sore, dia mengeluarkan isi sakunya. Mengeluarkan permen dengan banyak rasa.

Drake datang dibelakangnya, dan langsung menyaut. "Itu apa yang kau makan"

Harry menoleh, "Permen segala rasa— sini duduklah" Harry menggeser tubuhnya.

Draco tersenyum jauh disana. Wajah Drake menunjukan ekspresi bingung, "Segala rasa?"

Harry mengangguk, dia menjulurkan kotak permennya kepada Drake. "Benar-benar segala rasa"

Drake mengernyitkan alisnya, dan Harry tertawa melihat ekspresi yang ditunjukan padanya.

"Dulu aku pernah dapat rasa bawang— rasa bayam dan macamnya" Harry menambahkan, kini dia mengambil salah satu permennya dan tangannya menjulur ke arah Drake.
"Buka mulutmu—coba lah"

Draco tersenyum haru, hampir menangis rasanya. Tetapi wajah Drake menunjukan kebingungan, dia dengan ragu membuka mulutnya. Dan Harry melihat keraguan itu tetapi dia yakinkan, tangan Harry mengulur.

Cedric datang dan melahapnya, Drake langsung menatap Cedric dengan pasrah. Harry melihat Cedric senang dan bertanya
"Kau dapat rasa apa?"

Cedric mengunyah permen itu dan merasakannya sambil berfikir. "Emm— aku pikir ini adalah coklat kacang"

Harry memanyunkan bibirnya, "Yah enak dongg— aku berharap kau dapat yang tak enak"

Drake diam, berusaha untuk tidak terlihat cemburu karena ini bukan Draco. "Oh jadi kau berusaha mengerjaiku ya anak kecil" badan Drake maju ke tubuh Harry dan memeluknya erat serta mengacak-acak rambut Harry.

Harry tertawa, "Maaf— maafkan aku, lepaskan tangan sialanmu"
Drake melepaskannya, sungguh Draco sangat amat rindu merasakan bercanda dengan Harry. Hati kecilnya tak berhenti berteriak.

Cedric langsung duduk menengahi mereka berdua, membuat Drake mengernyitkan alisnya sebal.

"Ayo bermain— jika kau dapat yang tidak enak maka kau kalah dan aku boleh meminta apapun"  ajak Cedric.

Drake menoleh pada Harry, Harry tampak menoleh pada Drake dan mengernyit pada Cedric.
"Yahh— main hoki dong" lenguh Harry tampak tidak setuju.

"Bagaimana dengan kau Drake?" Cedric bertanya, Draco berfikir dia mau ikut main tetapi dia harus kembali ke dunia sihir. Dia mengggelengkan kepalanya.

"Ah kau ini"  Cedric tampak sebal,
"Harry kau mau kan— kalau tidak aku akan memecatmu"  guraunya.

"Jangan dong— mau nih" Harry tampak panik dan Cedric tertawa.

"Aku akan pulang, aku ada banyak tugas yang harus kuselesaikan malam ini" Drake berdiri, dia hendak berpamitan.

Cedric tampak menolak, "Kau tidak sabar sekali bertemu istrimu" lalu dia langsung menutup mulutnya.

Drake melotot pada Cedric, dan langsung berkata maaf tanpa suara. Harry mengernyitkan alisnya bingung.

"Istri?! kau beristri?" tanya Harry tak sabaran.

Drake menggeleng cepat, "Tidak— Diggory hanya bercanda iya kan" Drake menginjak kaki Cedric.

Cedric mengangguk, "Aku bercandaa Harry... sudah ayo pergi bekerja— makan dulu aku akan mentraktirmu" dia berdiri dan menarik Harry lalu berpamitan dengan Drake.

"Dasar muggle bodoh" batin Draco saat dia melihat punggung Cedric dan Harry menjauhinya.

Draco berbalik dan berapparate menuju Malfoy Manor, sesampainya disana tubuhnya langsung berubah sesuai wujud dirinya yang asli. Tampak Astoria sedang duduk membaca buku diperpustakaan Manor karena Draco melewati perpustakaan dengan pintu yang terlihat sengaja dibuka lebar.

"Bolehkah aku tau selama ini kau pergi kemana?" Astoria bertanya tetapi matanya tetap membaca buku tebal tua itu.

Draco berhenti berjalan seketika Astoria bertanya, dia mengeluh.
"Kubilang bukan urusanmu" jawabnya cepat.

Astoria menutup bukunya kasar dan berdiri. Draco menatapnya tajam,

"Aku ini istrimu— aku berhak tau"

Draco tertawa sinis, "Hanya formalitas— bermimpilah jika aku mencintaimu"  dia berjalan lagi sebelum itu dia melirik meja-meja yang penuh dengan buku dan perkamen berantakan yang disebabkan Astoria, Draco mengacuhkannya.

"Bisa tidak sih kau bersikap seolah ada aku disini" Astoria berjalan menyusul dibelakangnya.

"Tidak"

Astoria mendengus kesal dengan amarah, "Sungguh Draco aku sungguh lelah"

Draco membalikan badannya dan berteriak pada Astoria. "Kalau lelah— pulang lah sana! kau masih punya rumah, kau tidak lihat bagaimana lelahnya aku menghadapi kesendirian ini?! kau punya rumah— sedangkan aku— dimana rumahku?! rumahku diluar sana sedang menikmati makan malam dengan seorang pemuda tampan dan mapan serta tidak menyakitkan"

Astoria berhenti, mungkin jantungnya ikut berhenti. Apakah Draco lupa bahwa Astoria sedang mengandung anaknya, penerusnya. Kenapa Draco se tega itu untuk menyakiti hati Astoria.

"Kenapa masih diam disini? aku tidak pernah menganggapmu disini Tori— kau memang benar-benar tak ada" kalimat terakhir Draco menghentikan percakapan dihari itu.

Memories // DRARRY [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang