Back to Memories 14

307 42 1
                                        

Wah, karena Harry sibuk melihat anak kecil dan Ibu-ibu hamil dia jadi ketinggalan 1 bus yang tengah berhenti itu.
"Tunggu!" Harry berteriak dan berlari namun sudah telat karena bus merah itu melaju kencang sekali. Halte pemberhentian ini dekat dengan taman. Sambil menunggu bus lebih baik Harry duduk di kursi taman ini, dia duduk dan membuka tasnya. Mengambil buku bacan seharinya dan mulai membaca.

"Ah pemuda Brown... aku harap anakku sepintar dirimu " seorang wanita muda menghampirinya dan melihat kalung Co-card beridentitas Brown University. Harry mendongak tetapi tidak langsung menatap matanya, perut buncit itu menjadi pusat perhatiannya. Harry tersenyum lebar dan berdiri, mempersialhkan wanita hamil itu duduk dikursinya. Wanita itu tersenyum.

"Astoria... aku rasa kita pernah bertemu ya" Astoria tersenyum pada Harry dan memperkenalkan diri dengan menjabat tangannya. Harry tersenyum sopan menjawab Astoria.

"Aku Potter... ya mungkin kau sering melihatku berlari mengejar bus" kata Harry dengan tertawa-tawa.

Harry kini duduk disamping Astoria dan merasa agak canggung, tetapi Astoria berhasil memecahkan kecanggungan itu. "Kau selalu berkeringat dipagi hari ya?"

Harry menggaruk rambutnya yang tak gatal, "Karena aku selalu ketinggalan bus". Astoria tertawa, Harry ikut tertawa canggung atas dirinya.

"Kau selalu berjalan-jalan ditaman? Aku baru melihatmu" tanya Harry kini, merasa asing tak asing melihat wanita ini.

Astoria mengangguk, "Mau cari suasana baru. Kita satu umur loh, dimana istrimu?" tanya Astoria.

Harry terkejut ditanyai hal privasi oleh orang yang baru dia kenal tetapi Harry memakluminya karena ini wanita hamil, Harry tersenyum menggelengkan kepalanya.
Astoria mengangguk paham, "Kalau begitu dimana lelakimu?" Astoria tersenyum-senyum, Harry tersenyum dan membelalakan matanya. Tidak percaya jika ditanya se frontal ini.

"Suatu saat akan ada" jawab Harry cengengesan. Astoria tertawa.

"Mau pegang perutku? Supaya pintarnya tertular"

Harry terkejut, tentu saja dia mau tetapi dia menunujukan ekspresi ragu. Astoria melihat itu, dia meraih tangan Harry dan meletakan tangannya ke perutnya.
Harry tersenyum ceria, rasanya canggung dan gugup menjadi satu.

"Berapa bulan?" Tanya Harry, Harry tak bisa mengukur bulannya karena perut ini besar, Harry menebak 7 bulan.

"Delapan bulan"

Ah hanya kurang 1 bulan, batin Harry. Harry melepaskan tangannya yang menempel pada Astoria. Setelah perbincangan asik yang tak terasa sudah berlangsung 10 menit. Harry lupa bahwa dia harus menunggu bus datang.

"Aku ada roti, aku yakin kau belum makan" Astoria mencegah Harry yang sudah berdiri, Astoria meraih tas dibelakangnya dan mengeluarkan satu lapis roti isi. Harry mengernyitkan alisnya, aneh sekali. Wanita ini datang tidak dengan tas, mengapa tiba-tiba dibelakangnya ada tas. Tapi Harry menghentikan itu, dia terfokus pada roti lezat itu, memang rezeki mah tidak boleh ditolak.

"Terima kasih Astoria" kata Harry, Harry membuka plastik itu dan memakannya langsung.

Astoria tersenyum melihat Harry, dia berdiri dan berpamitan.
"Senang bertemu denganmu Potter... aku pergi dulu ya" Astoria terbatuk pelan saat mengatakan itu tetapi tetap berusaha senyum. Harry mengangguk-angguk sembari mengunyah makanan itu.

Bus belum datang jadi dia lanjut duduk dan menghabiskan roti itu, Astoria berjalan pergi kebelakang Harry. Dadanya terasa sakit, dia memegangi dadanya dan berusaha jalan segera menjauh dari Harry.

Astoria telah menaruh racun pada roti itu, dia membuatnya di Manor secara diam-diam. Ia harus segera pergi menjauh dari Harry sebelum Harry mengejang hebat dan meninggal tetapi sesuatu yang kita lakukan terhadap orang lain akan berbalik ke kita. Astoria tersandung batu dan terjatuh, dadanya terasa nyeri sakit. Sakit lama yang ia deritanya kambuh kembali, Astoria berteriak kesakitan ditengah taman membuat Harry mendongak dan terkejut. Harry berlari dan menjatuhkan roti yang sudah ia lahap setengah serta meninggalkan tasnya di bangku taman. Astoria sudah tergeletak jatuh dia berteriak memegangi perutnya dan dadanya naik turun.

Memories // DRARRY [COMPLETED]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang