Kini menginjak seminggu Harry bekerja di Kementrian, dia akan membuka Barnya pada malam sampai subuh. Orang-orang Kementrian tidak begitu buruk dan tidak seperti pikiran Harry. Begitu pula masalah percintaannya kali ini benar-benar diluar dugaan Harry. Menurut informasi dari Cedric, hasil yang mendalam dan sangat akurat-- begitu katanya. Pemuda pirang impiannya adalah duda dengan anak satu. Cho yang mendengar itu juga ikut sedih melihat Harry yang hanya diam. Patah hati semua wanita-wanita di daerah situ, begitupula Harry. Ngomong-ngomong soal Cho yang diam, ini betulan bahwa akhir-akhir ini Cho diam.
Dimalam hari ini, seperti biasa Harry duduk di bar nya, Cho disampingnya hanya mengelap meja dengan diam dan kadang melirik Harry.
"Ada apa, Cho" Harry seperti mengetahui bahwa Cho sedikit berubah menjadi diam. Cho tersenyum dan menggeleng. Harry merasakan perubahan sifat dari wanita itu, dia berjalan mendekat. "Ceritalah, Cho"
Cho menghela nafas, dia menggeleng lagi. Harry memegang lengan Cho. Bertanya-tanya ada apa dengan perubahan sifat Cho kali ini. "Kau sakit?", Cho menggeleng.
Harry menghela nafas, alangkah susahnya mengerti sikap wanita. Harry lalu berbalik menggeleng heran, Cho menyeletuk, lalu Harry berbalik menghadapnya. Diam 1 menit, batin Cho "Lihatlah temanmu ini sungguh baik dan perhatian tapi mengapa kau curi uangnya"
Cho meraih sakunya, mengeluarkan uang sebesar 25 Euro, hatinya sungguh takut. Dilema menyelimutinya tetapi jika ia tak jujur, dia akan selalu dilanda kegelisahan. Cho menaruh uang itu dimeja, matanya bahkan tak berani menatap Harry.
"Uang apa ini, Cho?"
Cho menelan ludah secara kasar, matanya menatap Harry perlahan. "Jadi...ini uang saat, em... harusnya dia bayar duapuluh Euro tapi, tapi aku menagih empatpuluh Euro" Jantung Cho berdegup kencang ditambah perubahan wajah galak milik Harry.
"Cho! Berani-beraninya kau"
"Maaf, Harry. Habisnya kau kenapa sih tidak ambil untung banyak" Cho ketakutan, tangannya meremas Bolpoint. Wajahnya tak menatap wajah Harry.
Harry melotot, "Segala sesuatu yang kuperintahkan padamu, haruslah kau lakukan dengan setia. Jangan menambahi atau menguranginya" matanya marah menatap Cho. Cho menelan ludah kasar, berusaha membalas tatapan mata Harry.
"Tapi kan memang sepatutnya untung, Harry"
Harry menghela nafas kasar, lelah dengan pemikiran Cho ini. "Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran daripada penghasilan banyak tanpa keadilan" Cho terdiam, merasa malu pada Harry. Dia menundukan wajahnya dengan air mata menggenang.
Harry memejamkan matanya, menghela nafas. Dia meraih tubuh Cho dan memeluknya, "Maaf, Cho. Aku hanya ingin kamu belajar sesuatu, aku tak ingin kau hidup dalam kesia-siaan dan menjaring angin"
Cho menangis memeluk Harry, sungguh beruntungnya Cho mengenal orang sebaik Harry. Setelah kejadian itu, Cho benar-benar belajar dan berubah. Dia tidak lagi memusingkan soal harga minuman yang miring ini, dia mengikuti apa kata Harry.
Akhir-akhir ini, Harry sering menghabiskan waktunya di Rooftop. Entah untuk mencari angin, menyegarkan pikiran atau mau curi-curi pandang melihat Draco. Alasan terakhirnya lah yang menjadi utamanya, tetapi dia tidak melihat Draco ataupun anaknya. Kini, walaupun Harry tau bahwa dia seorang Duda ajak 1, itu tidak menjadikan suatu alasan untuk tidak mengangguminya lagi.
Dan disinilah Harry, berdiri dirooftop dengan angin-angin dingin menyapu tubuhnya. Jam 2 pagi dimana Harry sudah menutup bar nya, giliran dia yang memegang segelas anggur ditangan dan menghirup dalam-dalam udara sejuk pada malam ini, hingga Draco menyeletuk dari belakang yang membuat Harry gugup tak terkira.
"Apakah aku menganggu kesendirianmu?" Harry menoleh, genggaman gelas ditangannya makin erat saking gugupnya. Tak mengira orang yang dia cari akhir-akhir ini datang. Harry menatap Draco tersenyum dan menggeleng, Draco berjalan ke arahnya dan kini berdiri disampingnya.
Draco mengambil nafas panjang, dia memejamkan mata untuk menikmati hembusan angin dan dia menatap Harry disampingnya. Harry ketauan dari tadi menatap Draco langsung menghindarkan pandangannya. Masih sama, Harry yang dulu dan sekarang. Dengan rambut berantakan tersapu angin, pakaian jenis sama, mata hijau yang indah, batin Draco saat menatap Harry.
Harry gugup, dia berdeham membuka percakapan. "Bagaimana kabarmu?" Draco menoleh, dan tersenyum kecil.
"Maaf aku menghilang, anakku sedang sakit" kini Draco menoleh ke arah luar dan melihat pemandangan lampu-lampu kota London.
Jleb, hati dan jantung Harry terasa jatuh bersamaan saat Draco berkata itu. Entah dia mengatakan dia meminta maaf seolah dia menghilang tapi mengapa meminta maaf? Seakan Harry adalah orang yang penting yang harus diberitahu kabarnya dan juga dia mengatakan anakku. Jadi, benar ternyata bahwa Draco sudah punya anak dengan wanita, jelas saja dia tak menyukai pria. Harry juga tak begitu terkejut, pemuda tampan dan sempurna pastilah mempunyai seorang juga. Ah, Harry jadi sakit hati walaupun belum memulainya.
"Kenapa?" Entah yang terceletuk dari otak Harry adalah pertanyan itu, Harry juga keceplosan lagi.
Draco menoleh bingung, alisnya mengernyit menatap Harry. "Kenapa apa?"
Harry menghembuskan nafas, dia meneguk anggurnya menatap Draco. "Kenapa sakit?"
Draco menunduk, dia memainkan kakinya pada pasir. "Mungkin dia merindukan ibunya yang meninggal" katanya lalu menatap pemandangan lampu-lampu lagi.
Harry terdiam, dia memainkan gelas anggurnya sesaat, "Maaf" kata Harry merasa tidak enak.
Draco menggeleng, matanya sayu menatap Harry. "Aku... aku tidak terlalu mencintainya. Mungkin salahku saat aku mengatakannya dulu"
Baiklah, Harry tidak terlalu mengerti posisi ini karena sejujurnya Harry tak pernah jatuh cinta dengan orang lain. Pria yang dihadapannya adalah cinta pertamanya, dan sekarang dia mendengarkan keluh kesah pria itu.
"Sifat yang diinginkan manusia adalah kesetiaannya, lebih baik orang miskin dari pada pembohong. Begitu juga pikiran mantan istrimu, mungkin dia menerimamu tetapi pada saat yang tak tepat saja" Harry menenangkan Draco, Draco terkejut dan tersenyum kecil.
Apakah Harry ini terlahir kembali, bagaimana dia bisa berbeda dengan Harry didunia sihir. Apa yang membuatnya berbeda? Kepada siapapun yang membuat Harry seperti ini, sungguh Draco berterima kasih.
Draco tidak berbicara, "Aku bimbang, apakah aku harus mengejar orang yang kucintai dan meninggalkan anakku? Rasa-rasanya, mantan istriku berada di tubuh anakku"
Harry meneguk anggurnya lagi, dia memberikam gelas itu pada Draco sekarang. "Jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian kemari oleh angin"
Draco meneguknya, dia mengernyitkan alis dan bertanya "Maksutnya?"
Harry tersenyum kecil, "Orang yang mendua hati, tidak akan tenang dalam hidupnya" kini dia menyandarkan tubuhnya pada dinding penyangga menatap Draco.
Draco tersenyum, tertawa kecil menatap Harry. "Kata-katamu manis, seperti anggur"
Jantung Harry bukan main lagi jatuhnya, rasa-rasanya Harry ingin melompat terjun kebawah karena salah tingkah dibilang seperti itu.
Harry mengambil nafas yang dalam, "Dimanakah jalan yang terbaik, tempuhlah itu. Dengan demikian jiwamu mendapat ketenangan" dia berjalan meninggalkan Draco untuk mendapatkan ketenangannya.
Draco tersenyum menayap punggung Harry yang dilihatnya, merasa rindu sekali. Rindu yang tak terbayangkan, merindukan Harry nya sebanyak itu.
Harry yang sedang berjalan menuju kamarnya pun, tersenyum-senyum sendiri setelah mengobrol dengan Draco.
2 orang yang saling jatuh cinta tetapi saling membuta.
KAMU SEDANG MEMBACA
Memories // DRARRY [COMPLETED]
FantasíaBOYSLOVE DRARRY FANFIC "BACK TO MEMORIES" IS OUT NOW (PART 2) Setelah the battle of hogwarts yang ke 2, Harry Potter "The Boy Who Lived" yang masih tetap berjuang untuk menghapus memori memori buruk yang telah dilalui selama 17 tahun belakangan in...
![Memories // DRARRY [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/347743430-64-k51397.jpg)