Back to Memories 21

296 31 0
                                        

Jam 5 subuh sudah menjemput pada permukaan atmosfer The Burrow, Ginny mulai mengecilkan suaranya karena Molly dan Arthur pasti sudah bangun. Scorpius dan Rose juga makin diam tidak bersuara, berharap mereka tidak ketahuan bertemu dengan Ginny.

Scorpius menyeletuk, "Kau bercerita dari jam dua subuh hingga matahari muncul tetapi sungguh aku belum mendengar kau menyebut namamu dalam cerita itu" Rose mengangguk setuju, sejak tadi Ginny cerita hanya tentang Harry, Draco, Cho dan Cedric serta beberapa bagian kecil Scorpius disebut.

Ginny tertawa, "Tidak sabaran sekali sih kau ini, mirip seperti Ayahmu! Ini, sebentar lagi kita akan tahu benang merahnya, kecilkan suara kalian atau Nenekmu akan mendengar" Ginny melanjutkan ceritanya.

Sejak pertemuan tak sengaja dengan Draco di Rooftop atas, Harry menjadi lebih lega walaupun hanya sekali mengobrol banyak dan panjang itu tetapi sungguh Harry sangat senang. Hingga pada suatu hari Harry harus menyelamatkan hidup orang.

Harry sedang mengerjakan beberapa kasus keuangan di kantornya, kebetulan meja ruangan Harry ini berada paling pojok dan tertutup dekat ruangan Cedric. Di jam 12 siang tepat saat istriahat makan siang, Harry menyelesaikan sedikit kasusnya dengan meminum kopi.

"Aduh" Harry berjengat dan langsung berdiri saat kopi panasnya tumpah pada pahanya, dia kesakitan dan kepanasan serta air berjatuhan ke lantai dan meja kerjanya. Harry mengepis-kepiskan pahanya yang basah serta kepanasan. Tidak ada orang disitu kebetulan, karena pada keluar makan siang jadi Harry tidak malu malu amat. Harry berlari menuju gudang kecil dilantai bawah, keburu atasan lihat jadi makin jadi urusannya. Dengan celana membasahi pahanya dia berlari kecil menuruni tangga darurat, masuk kedalam gudang penyimpanan alat-alat pembersih dan dia terkejut bukan main.

"Ced!! Ada ap-" Harry membelalakan matanya sat dia melihat kaki Cedric berdarah seperti terkena sayatan.

Cedric juga terkejut bukan main, "Harry lari! Aku dikejar polisi, aku penjahat, Harry. Aku mencuri-- aku mencuri uang. Lari, Harry!! Nanti kau akan terkena juga" dia mengusir Harry dengan cepat.

Harry bingung, wajahnya panik dan memerah bukan main melihat tampilan Cedric yang berdarah ini. "Untuk apa kau mencuri, apa yang kau curi dan dari siapa?"

Cedric mendecak, "Lari! Kau tak perlu tau" dia mendorong-dorong tubuh Harry, Harry menolak keras.

Harry memegang tubuh Cedric, "Aku akan membantumu, Ced" Cedric menggeleng cepat, dia tidak mau. "Cerita padaku dan akan kubantu"

"Aku mencuri uang untuk membeli rumah dan menikahi Cho, puas kau Harry. Lari lah, dengar! Itu sirine polisi, Harry. Selamatkan hidupmu!"

Harry tidak percaya atas kejahatan yang dilakukan sahabatnya, dia melihat sekop besi di alat perkakas itu. Harry mengambilnya kemudian dengan keras menancapkannya pada kakinya sampai berdarah, Harry menahan teriaknya dan merintih kesakitan.
Cedric terkejut bukan main, dia membantu menopang tubuh Harry saat Harry terjatuh lemas.

"Pergilah kerumah sakit, Ced! Selamatkan dirimu" kata Harry, Cedric menangis menggeleng.

Cedric menangis tersedu-sedu sambil menutup kuka Harry yang terus mengeluarkan darah segar. "Dasar bodoh! Kau selalu bodoh untuk membantu orang lain!"

Harry tertawa kecil, badannya lemas dan kesakitan hebat. "Aku akan menggantikanmu, pergi dari kota ini, Ced. Belilah rumah dan nikahi Cho, dia wanita hebat yang kutemui"

Cedric menangis menggeleng, "Kau! Sudah cukup kau mengorbankan nyawamu untuk orang, pertama untuk wanita hamil itu kedua untuk aku yang lemah. Aku tak pantas menerima kebaikanmu, Harry"

Harry tersenyum, dia mendengar anggota polisi menaiki tangga "Sekarang, Ced pergilah" Cedric menangis keras, mencium pucuk kepala Harry dan mengikuti kata-kata Harry. Lalu ditinggalkanlah Harry dalam gudang, dengan kesendirian lagi hingga tibalah garis takdir baru menjemputnya, penjara.

"Tidak mungkin!" Scorpius berteriak pada Ginny dengan keras.

"Sssttt pelankan suaaramu" kata Rose galak, "Harry menjebloskan dirinya kedalam penjara?!" tanya nya dalam bisik.

Ginny mengangguk, "Itu benar"

Scorpius sampai tidak bisa berkata apa-apa, Rose juga. "Kenapa dia sebaik itu? Kenapa dia mau melakukan itu" tanya Scorpius kini dia berbisik juga mengikuti Rose.

Ginny menghela nafasnya, "Saat Draco masuk kedalam pikiran Harry, dia melihat bahwa peluang Harry bertahan hidup adalah kecil. Harry berfikir dia tidak punya siapa-siapa, orangtua dan lainnya. Harry tak bisa menggapai Ayahmu, Harry melihat peluang terbaik adalah peluang hidup Cedric"

Scorpius dan Rose sama-sama tak bersuara dan saling memandang.
"Kok kau bisa tau?" Scorpius bertanya pada Ginny, Ginny tersenyum menyenderkan punggungnya.

"Karena akulah Kepala Sipirnya"

Hari pertama dipenjara, Harry diusung bersama tiga tahanan lainnya. Sidang dilakukan saat itu juga, divonis Harry menyatakan dua tahun penjara. Hal yang meringankan Harry adalah bersikap baik saat sidang, tidak memberontak, dan hal yang memberatkan adalah tidak ada uang untuk menyuap para sipir disini.

"AYO BERGEGAS" teriak Sipir kepada empat tahanan baru, Harry berjalan jongkok untuk kesana kemari karena sipir menyuruhnya.

TRANG TRANG salah satu sipir ikut berteriak sambil memukul terali besinya. Empat tahanan itu diperiksa dibagian depan, menyelesaikan administrasi dan pengecekan tubuh untuk memastikan mereka tak membawa apapun dari luar.

"Heh! Kau yang rambut panjang" Harry menunduk saat sipir mulai teriak-teriak lagi. Dia menoleh pada tahanan lainnya.

Sipir berjalan mendekati Harry dan tahanan lainnya yang kini berjongkok, "Kau yang menoleh dasar bodoh!" Sipir itu menjambak rambut Harry.

"Kau tunggu disini! Kau harus digunduli dulu, yang lain sana masuk" Harry mengangguk kecil, wajahnya tak berekspresi dan dia mengikuti semua perintah sipir.

Harry tetap menunduk saat rambutnya dijambak kasar, sipir itu berteriak diatasnya dan berkata padaa sipir lain. "Gunduli dia, aku mau mengurus yang lain!"

Sipir yang lain berjalan mendekat membawa alat cukur rambut, berjalan dan berhenti dihadapan Harry, Harry hanya berani melihat sepatu hitamnya saja.

"Halo, Potter"

Kepala Harry mendongak keatas, dilihatnya dia. Seorang pemuda pirang yang satu rumah sewa dengannya sedang melakukan tugas pekerjaan, menatap Harry dengan tatapan keji seperti memandang kecoa yang sudah mati.
Harry menghembuskan nafas panjang, dadanya terasa sakit melihat Draco. Draco akan merasa jijik sekarang melihat Harry, bahwasanya dia adakah narapidananya.

Draco mengangkat tangan Harry tanpa bicara, menyuruhnya duduk dikursi dan meminta Harry dengan sopan tanpa kata. Hingga seorang wanita rambut merah, tinggi dan wajah tegas datang memarahi Draco. Harry melihat nama di seragamnya, Ginny Weasley.

"Astaga, Draco! Dia itu bukan raja, dia tahanan. Begini menyuruh napi duduk" Ginny mendorong Harry secara kasar hingga dia duduk dengan lututnya. "Nah, cukur sekarang"

Draco menelan ludah, mengangguk dan mencukur Harry perlahan.

"Draco... Draco, kau ini tidak sedang mencukur presiden! Sinikan alatnya!" Kata Ginny tak sabaran, dalam 3 menit kepala Harry sudah botak. Tak ada sisa rambut dikepalanya, yang ada malahan luka dan darah karena Ginny sangat kasar mencukur rambutnya. Tetapi Harry memilih diam dan menjalani hukumannya.

Pada hari itu, Harry mengubah nasibnya dari bartender dan seorang pemegang keuangan kementrian menjadi seorang narapidana. Malam itu, Harry diboyong oleh Draco untuk memasuki sel berukuran tak lebih dari 3x4 yang berisikan orang-orang baru. Harry juga melihat tiga tahanan yang masuk bersamanya. Draco membuka gemboknya, dan mendorong Harry masuk ke sel. Harry menoleh, menatap Draco dan nihil. Draco bahkan tak menatapnya, seperti tak saling kenal. Harry sakit hati, tetapi dia tak masalah karena masuk akal. Dia adalah sipir sedangkan Harry, hanyalah tahanan.

Memories // DRARRY [COMPLETED]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang