Terlihat Hoya berjalan ke sebuah apartemen dengan mengenakan dress berwarna merah muda dengan rambut tergerai.
Hoya pun masuk ke dalam apartmen tersebut dan membuka pintu kamarnya. Hoya menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Hoya menutup matanya, untuk menenangkan pikirannya. Hari yang penuh lelah dan berat membuat Hoya tidak sanggup lagi.
"Apa sangat melelahkan?" Ucap seseorang.
Seketika mata Hoya terbuka dan melihat sosok Leonid yang jaraknya cukup dekat karena wajahnya yang sejajar dengan Hoya.
"Leonid, rasanya sangat menyakitkan dan lelah. Aku tidak ingin melukaimu lagi, jadi mari berhenti sampai disini." Ucap Hoya yang menatap sendu Leonid.
"Tidak, aku tidak akan pernah meninggalkanmu!"
"Jika kamu tetap berada disampingku, kamu akan tetap menahanku di dunia penuh api neraka ini."
"Tidak! Tidak Hoya!" Leonid berteriak dan seketika mata Leonid terbuka dengan memperlihatkan Leonid yang baru saja bangun dari mimpinya.
Napas Leonid terengah-engah, Leonid menatap jam yang ada disampingnya. Leonid mengusap wajahnya dengan kasar saat melihat jam menunjukkan pukul 02:00 pagi.
"Apa lagi ini?! Ini mimpi yang berbeda, tapi mimpi gue masih berkaitan sama Hoya." Leonid menghela nafas lelah.
Leonid pun mengambil sweater hitamnya dan mengambil kunci motornya. Leonid segera keluar dari kamarnya.
Saat Leonid membuka pintu rumah, sebuah tangan menahan pundak Leonid. Leonid yang terkejut langsung berbalik untuk melihatnya.
"Mau kemana kamu Leo? Ini masih jam dua pagi." Ucap Liam yang menatap Leonid lurus.
"Aku hanya ingin mencari angin diluar." Jawab Leonid datar.
"Nanti saja, selesai subuh baru kamu boleh pergi. Aku tidak ingin mendengar istriku ribut di pagi hari hanya karena anaknya nakal."
"Bukankah ayah sangat suka melihat bunda marah-marah."
"Ya, karena dia sangat menggemaskan saat marah." Ucap Liam.
Leonid pun menggelengkan kepalanya saat mendengar ucapan Liam. Terkadang Leonid heran bagaimana bisa seorang Liam yang dingin bisa berpasangan dengan Gita yang terkenal sangat aktif.
Kemudian Leonid lebih memilih duduk di sofa sambil menunggu waktu subuh. Leonid menyalakan tv dan Liam pun ikut duduk disampingnya.
"Bagaimana keadaan teman kamu itu?" Tanya Liam.
"Teman? Temanku yang mana?" Tanya Leonid yang bingung dengan pertanyaan Liam.
"Hoya, bagaiamana keadaan Hoya? Ayah merasa khawatir saat melihat luka lebam ditangannya itu." Ujar Liam.
"Aku tidak tau, dia mendapatkan luka itu dari mana. Aku ingin menanyakannya secara langsung tapi aku takut jika itu akan melukai harga dirinya."
"Apa dia pernah mengatakan sesuatu tentang dirinya?"
"Dia pernah bilang, kalau aku terus memperdulikan dia maka itu akan jadi bomerang untukku sendiri." Ucapan Leonid terasa aneh menurut Liam.
Liam bingung bagaimana bisa kepedulian seseorang akan menjadi masalah untuk diri orang itu sendiri.
Liam merasa bahwa teman Leonid yang bernama Hoya memiliki rahasia, dan Liam rasa Hoya sedang menyembunyikan sesuatu dari Leonid.
"Leo, apa kamu ingat nasehat ayah?" Tanya Liam.
"Ingat, lindungi perempuan dan lakukan sesuka hati jika itu salah." Ucap Leonid dengan serius.
Liam pun tersenyum dan menatap putra bungsunya itu. Leonid lebih mirip seperti dirinya, melakukan tidakan sesuai apa yang dia anggap benar meski melawan hukum.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rose War (END)
FanfictionLeonid Xavier Handomo adalah ketua DEVIL generasi ke-3. Anak bungsu dari dua bersaudara dan anak dari pasangan komandan TNI dan seorang guru. Leonid menjalani hari-harinya seperti biasa, hingga dia mengetahui kebenaran tentang keluarga seorang perem...
