Terungkapnya Luka

175 40 6
                                        

Sekarang Leonid sudah memarkirkan motornya dan langsung berlari menuju taman untuk mencari keberadaan Hoya.

Dengan nafas tersenggal-senggal, Leonid mencari Hoya dengan perasaan khawatir. Hingga matanya melihat Hoya yang sedang bermain ayunan dengan wajah yang datar.

"Hoya..." panggil Leonid yang datang menghampiri Hoya.

Hoya pun diam dan menatap Leonid yang sekarang berdiri di depannya dengan nafas yang tersenggal-senggal. Leonid menatap khawatir pada Hoya.

"Ada apa lo cari gue? Kenapa semalam ini lo nggak pake jaket?" Ucap Leonid sambil melepaskan jaket denimnya.

Leonid memasangkan jaketnya kepada Hoya. Hoya pun diam dan menuruti saat Leonid memasangkan jaket padanya. Leonid bersimpuh di bawah Hoya yang duduk di atas ayunan.

"Lo kenapa Hoya? Bilang sama gue." Ucap Leonid sembari menatap Hoya sendu dan iba dalam bersamaan.

"Jangan tatap gue seperti itu Leonid. Gue akan semakin terasa rendah saat lo natap gue kaya gitu." Ucapan Hoya membuat dada Leonid bergemuruh.

"Hoya, gue..."

"Lo udah liat semuanya kan di restoran tadi? Gue berbeda sama lo Leo."

"Apa maksud lo? Bagi gue lo tetap sama Hoya." Leonid mengusap pipi Hoya yang memar karena tamparan Darrel.

"Gue bukan anak baik, gue juga bukan berasal dari keluarga baik-baik seperti lo. Gue hanya anak yang tidak diinginkan oleh bokap gue sendiri." Ucap Hoya lirih.

Untuk pertama kalinya Leonid melihat Hoya tidak berdaya dan kehilangan tujuan. Mata Hoya yang redup dengan tangan yang gemetar membuat hati Leonid terasa sesak.

Leonid pun yang tidak tahan melihat Hoya terpuruk pun memeluk Hoya untuk menenangkannya. Tapi detik kemudian Leonid merasa tangan Hoya membalas pelukannya dengan lembut.

Leonid sangat terkejut saat Hoya membalas pelukannya. Tapi Leonid bisa merasakan bahwa sekarang keadaan Hoya sangatlah rapuh.

"Leo, ini adalah pertemuan terakhir kita sebagai seorang teman. Setelah ini kita akan seperti orang asing seperti dulu." Ucap Hoya yang mengejutkan Leonid.

"Apa? Apa maksud ucapan lo Hoya? Pertemuan terakhir?" Leonid melepaskan pelukannya agar bisa melihat wajah Hoya.

"Karena lo sudah melihat apa yang tidak harus lo liat Leo." Ucapan Hoya seakan dejavu untuk Leonid.

"Gue akan anggap ini gue nggak dengar, lo cuma lelah aja malam ini. Makanya ucapan lo aneh."

"Gue dalam keadaan sadar Leo, ini yang terakhir kalinya gue bilang sama lo. Jangan mencoba berhubungan dekat lagi sama gue, karena itu akan buruk buat lo."

"Hoya! Lo selalu aja seperti ini. Lo seakan menjauhkan gue dari sesuatu yang bahkan gue nggak tau."

"Karena ini yang terbaik buat kita."

"Terbaik?! Terbaik untuk melupakan kenangan? Apa lo senang liat gue seperti orang bodoh yang melupakan sesuatu?!" Hoya sangat terkejut mendengar ucapan Leonid.

Hoya tidak menduga bahwa Leonid mulai menyadari tentangnya yang melupakan masa lalu antar dirinya. Tangan Hoya semakin gemetar dan Hoya langsung berdiri masih dengan keterkejutannya.

"Dari keterkejutan lo, gue tau kalau lo tau tentang gue yang amnesia. Sebenarnya apa hubungan kita Hoya, kenapa lo membuat gue menjauhi lo?!" Ujar Leonid.

"Hubungan itu sudah tidak penting lagi Leo, karena semuanya sudah berakhir." Hoya melepaskan tangannya dari genggaman Leonid.

"Bagi gue itu penting! Jika itu berkaitan sama hidup gue, berari lo adalah orang yang berarti buat gue."

Rose War (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang