The Devil Cried

84 32 0
                                        

Sudah tiga hari berlalu semenjak Marcel mengetahui kebenaran tentang dirinya dan Hoya yang sebagai saudara kembar. Sekarang Marcel duduk dihadapan Edith dan Lavon.

Sedangkan Sebastian yang duduk di samping Marcel hanya diam dengan perasaan khawatir. Berbeda dengan Lavon yang bersikap seperti biasanya, dingin dengan orang lain selain Hoya dan Edith.

"Mamah mau makan ini?" Ucap Lavon yang mencairkan suasana yang canggung.

"Baiklah, terima kasih Lavon." Ucap Edith lembut saat Lavon menaruh potongan cake di piring kecilnya.

Kemudian Marcel mengambil sebuah kotak berisi cake strawberry yang dibawanya dari cafe Leonid. Marcel membuka kotak itu dan mengeluarkan cake strawberry tersebut ke atas meja.

"Ini salah satu menu di cafe Leonid. Saya tidak tau rasanya, karena saya alergi strawberry. Tapi saya yakin yang di buat Leonid pasti enak untuk di makan." Ucap Marcel.

"Alergi strawberry? Lo sangat mirip sama mamah Marcel. Mamah juga Alergi strawberry." Ucap Lavon tersenyum tipis.

"Benarkah? Saya sangat terkejut mendengarnya." Marcel menatap lurus pada cake strawberry itu.

"Hoya sangat suka strawberry, gue akan bawa cake ini untuk Hoya saja." Ujar Lavon.

"Bukankah lucu. Bahkan saya tidak tau apa yang bisa dimakan dan apa disukai." Marcel tersenyum kecut dan seketika Lavon dan Edith terdiam.

"Marcel, kamu bisa perlahan mengenal mamah kamu dan saudara-saudara kamu." Sebastian menepuk pelan kepala Marcel.

"Maafkan mamah Marcel, mungkin kamu belum bisa menerima mamah sekarang. Tapi kamu harus tau mamah sangat merindukan kamu." Ucap Edith dengan mata yang berkaca-kaca.

Mendengar ucapan Edith membuat perasaan Marcel pun pecah. Rasa senang, sakit dan kekhawatiran menjadi satu. Kemudian Marcel berdiri dari tempat duduknya.

"Maaf. Saya belum siap untuk pertemuan ini. Bahkan saya masih tidak percaya bahwa ibu yang selama ini yang saya ketahui sudah meninggal sejak kecil tiba-tiba ada dihadapan saya." Ucapan Marcel itu membuat Sebastian dan Edith merasa bersalah.

"Saya juga tidak tau bahwa sahabat dekat saya adalah saudara kembar saya sendiri. Ini bagaikan di siram air panas, saya merasakan bahwa saya sangat menyedihkan sekarang." Marcel mengepal kedua tangannya.

"Marcel, mamah dan papah ada alasan untuk menyembunyikan kebenaran ini." Ucap Lavon berusaha menenangkan Marcel.

"Apa lo pikir, gue bisa hidup dengan mudah tanpa seorang ibu selama ini? Disaat gue merindukan mamah gue, gue selalu datang ke rumah Leonid dan meluk bunda Gita." Marcel mengungkapkan perasaan paling dan me dalamnya.

"Tapi Marcel..."

"Tolong beri gue waktu untuk menerima kenyataan ini." Marcel menatap Lavon dengan sorot mata yang memohon.

Lavon hanya bisa terdiam, kemudian Marcel pun keluar dari ruangan makan itu meninggalkan Edith yang sekarang sudah meneteskan air mata karena melihat kepergian Marcel.

Edith tidak bisa menyalahkan Marcel, karena apa yang dirasakan Marcel itu adalah hal wajar. Ibu kandung yang tidak pernah muncul dan memalsukan kematiannya untuk melindungi putranya itu adalah hal yang kejam untuk seorang anak.

"Bahkan Marcel tidak bisa menerima kenyataan ini dengan mudah, aku takut jika Hoya akan membenciku saat semuanya terungkap nanti." Ucap Edith dengan menatap Sebastian.

"Aku tidak bisa menenangkanmu sekarang Edith, karena aku tau bagaimana perasaan emosional putriku. Aku takut jika dia melakukan hal yang berbahaya lagi karena kita." Ucap Sebastian pelan.

Rose War (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang