"Leo, apa kamu mau mendengar cerita masa kecilku?" Tanya Hoya sambil memainkan tangan Leonid yang sekarang memeluknya.
"Berceritalah, aku akan mendengarkannya dengan baik." Ucap Leonid sambil mencium singkat kepala Hoya.
Posisi Leonid yang berada di belakang Hoya memudahkan Leonid untuk memeluk Hoya sambil bersantai di sofa. Hoya menatap pintu apartemen Leonid yang masih terbuka lebar dan cahaya terang membuat Hoya merasa aman.
Leonid merasakan kekhawatiran dari ucapan Hoya. Leonid mengusap kepala Hoya untuk menyalurkan perasaan tenang, Hoya yang merasa lebih nyaman pun menyenderkan kepalanya ke dada Leonid sambil menggenggam erat tangan Leonid.
"Leo, apa aku adalah orang jahat karena menyembunyikan keburukan papah dari hukum?" Pertanyaan Hoya membuat tubuh Leonid menegang.
Seketika Leonid merasa khawatir dan teringat sosok Erzan yang pernah bekerjasama dengan Hoya. Leonid khawatir jika Erzan pernah mengatakan sesuatu pada Hoya yang berkaitan dengan Darrel.
"Hoya, apa Erzan ada mengatakan sesuatu sama kamu?!" Tanya Leonid khawatir.
"Tidak Leo. Jangan coba bertengkar dengan kak Erzan hanya karena ucapan ku ini." Peringatan Hoya tajam sembari mencubit tangan Leonid.
"Aku hanya bertanya saja, kenapa kamu sangat marah padaku." Canda Leonid dengan membalas mencubit gemas hidung Hoya.
"Hanya saja aku merasa seperti orang jahat yang menutupi kesalahan papah. Aku tidak bisa memberikan bukti itu pada kalian. Bagaimana pun papah memperlakukan ku, aku tidak bisa membencinya Leo."
"Meski kamu sudah tau kebenaran bahwa dia bukan papah kandungmu?"
"Hampir seumur hidup ku, aku hidup bersama papah Darrel. Dialah yang menggendongku saat aku masih kecil Leo."
"Apa ada kenangan yang tidak bisa kamu lupakan bersamanya?"
"Saat papah membuat cake untukku dan Lavon. Papah tersenyum hangat saat membuat cake itu. Tapi setelah kepergian mamah ke Paris, semenjak itulah papah yang hangat pun juga pergi." Ucap Hoya lirih.
Leonid merasakan kesedihan dan kerinduan dari ucapan Hoya. Sedangkan Hoya teringat bayangan saat Edith pergi dan Darrel yang sangat marah.
Pada saat itu Darrel menghancurkan isi rumah seperti orang gila, bahkan Darrel memukul Lavon hingga membuat punggung Lavon cedera parah pada saat itu. Hoya juga harus dikurung didalam kamar selama dua hari tanpa di beri makanan.
"Hoya, apa aku boleh bertanya?" Tanya Leonid hati-hati.
Hoya menatap Leonid yang sekarang memasang wajah yang canggung. Hoya pun tertawa kecil, Hoya mengetahui bahwa Leonid sangat berhati-hati karena takut jika dirinya akan sedih ataupun tersinggung.
"Kamu boleh menanyakan apapun Leo. Aku bercerita ini padamu karena aku sangat mempercayaimu." Ucap Hoya dengan senyuman yang menghangatkan perasaan Leonid.
"Apa alasan mamah kamu pergi meninggalkan kalian berdua? Aku yakin mamah kamu tau bahwa meninggalkan kalian berdua dengan Darrel adalah pilihan yang salah." Leonid sangat penasaran dengan alasan Edith yang meninggalkan Hoya dan Lavon.
"Ya Leo, seperti dugaan kamu. Mamah sebenarnya tidak ingin meninggalkan kami hanya saja keadaan memaksanya." Ujar Hoya.
"Keadaan?"
"Mamah adalah pewaris Hutagalung setelah om Gabriel yang memberikan posisinya pada mamah. Tapi pertengkaran hebat pun terjadi, itu adalah pertengkaran keluarga yang tidak bisa aku lupakan."
"Jika kamu tidak bisa menceritakannya, jangan di paksa. Aku tidak ingin kamu bersedih karena harus mengingat kenangan buruk itu." Leo mengusap bibir Hoya lembut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rose War (END)
FanfictionLeonid Xavier Handomo adalah ketua DEVIL generasi ke-3. Anak bungsu dari dua bersaudara dan anak dari pasangan komandan TNI dan seorang guru. Leonid menjalani hari-harinya seperti biasa, hingga dia mengetahui kebenaran tentang keluarga seorang perem...
