"Ayah, aku harus berangkat ke Jakarta sekarang. Aku harus segera menemui Hoya tanpa diketahui oleh Leonid." Ucap Erzan pada Liam yang ada dihadapannya.
"Apa Hoya ada bicara hal lain selain meminta kamu datang ke Jakarta tanpa diketahui oleh Leonid?" Tanya Liam sambil melihat ke arah Gita yang sedang berjalan bersama Leonid menuju ruang pemeriksaan.
"Tidak ada, Hoya hanya memintaku untuk datang secepatnya. Tapi dari suara Hoya, dia seperti sedang terdesak dan sedikit tersirat rasa ketakutan." Ucap Erzan.
"Baiklah, kamu harus pergi hari ini. Ayah akan menyembunyikan hal ini dari bunda dan Leo."
"Baik ayah."
"Erzan, apapun yang terjadi nanti jangan menyalahkan Hoya. Kamu tau apa yang sudah dilakukan Hoya untuk kita. Aku bahkan merasa malu karena tidak bisa membalas kebaikan anak kecil itu." Liam menatap sendu ke arah putra bungsunya yang sedang bersama Gita.
"Ayah, aku tidak pernah membenci Hoya. Rasa benciku hanya pada Darrel. Karena itu aku tidak pernah menghalangi adikku bersamanya." Ucap Erzan sambil menghela nafas panjang.
Erzan tau bahwa apa yang terjadi pada keluarganya bukanlah kehendak Hoya. Erzan juga tau bahwa Hoya juga mengalami kesulitan disaat hidup bersama Darrel . Kebencian Erzan hanya pada Darrel yang membuat semua kekacauan itu.
Erzan merasa marah saat melihat penderitaan Leonid yang selalu saja tidak bisa bersama dengan Hoya meski dalam waktu sebentar. Bahkan Erzan belum pernah melihat wajah penuh bahagia Leonid dan Hoya.
"Aku hanya ingin melihat adik laki-lakiku bisa bahagia bersama perempuan yang sangat dicintainya itu. Dia sudah melewati banyak hal." Ucap Erzan tulus dan Liam pun menganggukkan kepalanya setuju dengan ucapan Erzan.
Di saat Erzan dan Liam mengkhawatirkan Leonid dan Hoya, di tempat lain terlihat Edith duduk berhadapan dengan Sebastian. Edith sekilas melihat ke arah luar, untuk melihat Darrel yang sekarang berdiri di samping mobilnya.
"Edith, katakan padaku apa yang terjadi? Kenapa kamu bersama Darrel? Apa dia mengancammu lagi?" Tanya Sebastian khawatir.
"Sebastian, mari kita bercerai." Ucapan Edith bagaikan sambaran petir yang begitu mengejutkan.
"Apa yang kamu ucapkan Edith? Aku tidak mendengarnya?!" Sebastian menatap tajam pada Edith.
"Aku ingin kita bercerai secara hukum Sebastian. Aku akan bersama Darrel." Ucap Edith dengan menatap datar pada Sebastian.
"Apa iblis itu mengancammu?! Aku tidak akan pernah menceraikanmu apapun yang terjadi Edith!"
"Kalau begitu, ini adalah pertemuan terakhir kita."
"Apa maksudmu?"
"Aku akan tetap bersama Darrel. Sampai akhir pun aku akan dikenal sebagai istri Darrel." Ucap Edith.
Sebastian sontak menatap Darrel yang berdiri di luar dengan wajah angkuh. Sebastian tau bahwa Edith dalam tekanan Darrel sekarang. Kemudian Sebastian bangun dari tempat duduknya dan menarik pelan tangan Edith untuk berdiri berhadapan dengannya.
"Dengar Edith, tidak satu kata pun yang aku percaya dari ucapanmu tadi. Aku sangat mempercayai perasaanmu padaku. Aku tidak pernah meragukan sedikitpun perasaan cintamu padaku." Ucap Sebastian lembut sambil menyentuh wajah Edith.
Darrel yang melihat dari luar ingin sekali menarik tangan Sebastian dari wajah Edith. Tapi Edith sudah meminta pada Darrel untuk tidak ikut campur urusannya, karena Edith sudah berjanji untuk mengakhiri hubungannya dengan Sebastian.
"Bastian, aku tidak pernah merasakan rasa cinta seluas ini selain padamu. Karenamu juga aku mendapatkan dua anak kembar yang sangat aku cintai. Hanya saja, aku seperti menentang takdir Tuhan jika tetap bersamamu." Ucap Edith pelan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rose War (END)
FanfictionLeonid Xavier Handomo adalah ketua DEVIL generasi ke-3. Anak bungsu dari dua bersaudara dan anak dari pasangan komandan TNI dan seorang guru. Leonid menjalani hari-harinya seperti biasa, hingga dia mengetahui kebenaran tentang keluarga seorang perem...
