"Harry, apa Hoya masih dikamar?" Tanya Lavon pada Harry yang menuruni tangga.
"Iya tuan muda. Tapi sekarang demamnya mulai turun." Jawab Harry.
"Syukurlah, aku hampir frustasi karena Leonid dan Marcel sudah dua hari berada di Surabaya." Perusahaan Leonid tiba-tiba ada masalah, Lavon tidak mengabari mereka karena Lavon takut jika akan membuat mereka panik dan khawatir dengan keadaan Hoya.
"Tapi tuan Marcel menghubungi saya, jika hari ini mereka akan sampai kesini." Harry berusaha menenangkan Lavon.
"Syukurlah. Kalau begitu tolong pinta pelayan untuk membuatkan cokelat panas dan bubur labu untuk Hoya. Aku akan mengecek Hoya terlebih dahulu." Perintah Lavon dan Harry membungkuk hormat pada Lavon.
Kemudian Lavon berjalan menuju kamar Hoya, dengan pelan Lavon membuka pintu kamar Hoya. Aroma mawar yang menjadi aroma khas Hoya selalu membuat Lavon seperti berada di taman bunga.
"Apa itu lo Lavon?" Ucap Hoya yang sekarang duduk dengan mata sayunya menatap Lavon.
Lavon terdiam saat melihat sorot mata Hoya yang sayu. Wajah pucat Hoya membuat perasaan Lavon gelisah. Langkah Lavon perlahan mendekati Hoya memecahkan keheningan yang terasa dingin.
Suasana yang berbeda meski dengan aroma yang sama membuat perasaan gelisah dan takut merasuki tubuh Lavon. Lavon tersenyum manis dan duduk di atas tempat tidur Hoya, dimana Hoya sekarang duduk menyender.
Beberapa hari yang lalu Lavon melihat Hoya seperti bunga mawar yang mekar dengan cantik saat bersama Leonid. Tapi sekarang Hoya terlihat seperti bunga yang akan layu dengan kesunyian.
"Kenapa lo sampai demam begini Hoya? Lo selalu aja buat gue khawatir." Tangan Lavon menepuk pelan kepala Hoya.
"Lavon, apa kita bisa pergi ke Paris? Gue kangen sama mamah, kalau perlu gue sendiri yang minta izin sama papah." Ucapan Hoya seperti sambaran petir menghantam tubuh Lavon.
"Apa maksud lo Hoya? Mamah-"
"Gue sangat ingin memeluk mamah. Papah juga melarang kita bertemu dengan father Falco dan kakek Alan. Gue sangat kesepian Lavon." Bibir Lavon seakan terkunci mendengar ucapan Hoya.
Detik itu juga Lavon sadar bahwa gejala ingatan Hoya yang menghilang sekarang muncul kembali. Wajah Hoya yang sedih dengan perasaan terluka terlihat jelas.
"Lavon, kenapa lo diam? Apa lo juga ingin melarang gue? Gue sangat lelah Lavon, gue hanya ingin di peluk mamah sebentar." Mata Hoya yang berkaca-kaca seperti memperlihatkan sosok Edith di dalamnya.
Seperti sosok Edith yang berada di dalam mata Hoya dengan perasaan rindu yang menyiksa. Lavon seakan kehilangan kata-kata, tapi Lavon tidak ingin membuat Hoya semakin layu karena perasaan rindu yang menghancurkannya.
"Hoya, kita akan pergi menemui mamah besok. Biar gue yang ngomong sama papah. Sekarang lo harus sembuh." Lavon mengusap pipi Hoya dengan penuh kasih sayang untuk menenangkan perasaan gelisah Hoya.
"Sungguh! Terima kasih Lavon. Gue sangat menyanyangi lo!" Hoya langsung memeluk Lavon hangat.
Hoya sangat senang karena Lavon menerima ajakannya. Sedangkan Lavon hanya tersenyum tipis, perasaan yang terkoyak begitu dalam pada hati Lavon tidak bisa dijelaskan.
Lavon takut jika Hoya akan perlahan melupakan semuanya. Lavon tidak bisa membayangkan untuk melihat hidup adik kesayangannya yang akan seperti patung tanpa ada di jiwa dan kenangan di dalamnya.
"Jangan ambil ingatannya ya Tuhan. Dia sudah sangat menderita karena ku, kenapa dia harus dihukum karena kesalahan kehadiran ku di dunia ini." Batin Lavon dengan membalas pelukan Hoya dengan erat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rose War (END)
Fiksi PenggemarLeonid Xavier Handomo adalah ketua DEVIL generasi ke-3. Anak bungsu dari dua bersaudara dan anak dari pasangan komandan TNI dan seorang guru. Leonid menjalani hari-harinya seperti biasa, hingga dia mengetahui kebenaran tentang keluarga seorang perem...
