Serangan Sadis

16 5 0
                                        

"Kenapa kamu harus pulang kesini? Apa kamu tidak bisa tinggal di apartemen lagi? " Tanya Leonid yang baru saja mengantar Hoya ke rumah Hutagalung.

"Kenapa? Inikan rumah aku juga. Aku tidak bisa meninggalkan Lavon di saat seperti ini Leo." Ucap Hoya dan Leonid pun merengut.

"Tapi kamu meninggalkanku sendirian." Ucapan Leonid membuat Hoya tertawa kecil.

Kemudian Hoya memeluk dan mencium pipi Leonid. Hoya sadar bahwa Leonid sedang mengkhawatirkan dirinya. Leonid merasa khawatir karena harus tinggal bersama Darrel, terlebih lagi Lavon yang sedang sibuk karena tidak bisa menjaga Hoya.

"Aku akan menemuimu lagi besok, aku janji!" Ucap Hoya sambil tersenyum manis.

"Janji? Kamu harus menepatinya Hoya atau aku akan mencarimu seperti orang gila." Ucap Leonid serius.

Entah kenapa malam ini perasaan Leonid gelisah bercampur rasa takut. Hoya yang menyadari bahwa Leonid sedang gelisah pun hanya bisa pasrah dan perlahan menyentuh wajah Leonid.

"Dengarkan aku Leo, aku tidak akan melakukan hal seperti dulu lagi. Hari ini aku akan melakukan sesuatu, tapi aku tidak bisa mengatakan padamu. Karena itu jika aku dalam bahaya aku akan menghubungimu." Ucap Hoya.

"Apa kamu tidak bisa diam saja? Biarkan aku saja yang melakukannya, aku tidak ingin kamu dalam bahaya Hoya." Ujar Leonid dengan menggenggam tangan Hoya erat seakan enggan melepasnya.

"Aku harus melakukannya sendiri, kamu pasti mengerti maksud ku Leo." Leonid hanya bisa diam karena Hoya pasti ingin berurusan langsung dengan Darrel karena itu Hoya menghalanginya untuk ikut campur.

"Baiklah, hubungi aku jika dalam masalah." Leonid memilih untuk mengalah agar Hoya tidak mengkhawatirkannya.

"Terima kasih Leo. Aku akan masuk sekarang." Hoya tersenyum dengan melepaskan tangannya dari genggaman Leonid. Perasaan Leonid seperti sedang melepas sesuatu yang salah seperti tidak boleh dilepaskan.

Hoya pun masuk ke dalam rumah dan Leonid segera masuk ke dalam mobilnya. Perasaan gelisah masih meliputi Leonid, karena itu Leonid segera menghubungi Erzan.

Sambil menunggu panggilan tersambung, Leonid segera melajukan mobilnya menjauh dari rumah Hutagalung. Hingga panggil itu tersambung dan Leonid mendengar suara Okta yang tidak lain istri Erzan sedang berbicara dengan Liam dan Gita.

"Ada apa?" Tanya Erzan diseberang sana.

"Erzan menjauhlah dari mereka sebentar, gue mau ngomong hal penting." Ucapan Leonid seketika membuat Erzan gelisah.

Erzan pun segera pergi dari ruang keluarga untuk menjauhi keluarganya agar tidak curiga. Erzan berjalan ke taman dengan perasaan gelisah pada adik laki-lakinya itu.

"Ada apa Leo? Apa lo dalam masalah?" Tanya Erzan.

"Erzan, sepertinya Hoya akan melaporkan Darrel. Tapi itu hanya dugaan gue, jika Hoya melaporkan semua kejahatan Darrel maka Hoya dalam bahaya."

"Apa?! Kalau lo tau dia berencana melaporkan Darrel kenapa lo tidak mencegahnya agar dia bisa bersama lo tidak melakukannya sendirian."

"Dia melarang gue, dia ingin melakukannya sendirian karena Darrel adalah papah yang dia sayangi."

"Gue bingung harus seperti apa jika kita menangkap Darrel maka Hoya akan menderita dengan perasaan bersalah."

"Gue juga tau itu, tapi dia ingin sekali menghentikan kejahatan Darrel itu Erzan. Tolong bantu gue, gue khawatir kejadian beberapa tahun yang lalu akan terulang kembali."

"Baiklah, share tempat lo sekarang gue akan nyusul lo. Jangan lakukan apapun sebelum gue datang, gue punya firasat buruk tentang hal ini." Ujar Erzan dan Leonid pun memutuskan panggilan tersebut sambil menghela nafas panjang.

Rose War (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang