"Leo!" Panggil Hoya yang datang dengan pakaian formal ke kantor Erzan untuk menemui Leonid sesuai janji kemaren.
"Hoya! Astaga leher kamu kenapa?! Apa Amir yang melakukannya?!" Tanya Leonid yang terkejut melihat leher Hoya yang mengenakan penutup luka.
"Aku baik-baik saja Leo. Aku sendiri yang melakukannya." Ucap Hoya sambil menyentuh wajah Leonid untuk menenangkannya.
Leonid dan Erzan yang mendengar pun terkejut. Mereka tau bahwa Hoya mengancam dirinya sendiri seperti beberapa tahun yang lalu. Tatapan Leonid menjadi melembut.
"Bukankah aku sudah mengatakan jangan mengorbankan diri mu lagi. Kamu selalu saja membuat ku khawatir Hoya." Ucap Leonid dengan menakup wajah Hoya penuh kasih.
"Apa yang dikatakan Leo itu benar Hoya. Bergantunglah pada kami, aku dan Leo akan melakukannya dengan baik." Ucap Erzan sembari menepuk kepala Hoya pelan.
"Maafkan aku. Ini yang terakhir kalinya, tolong mengertilah karena papah tidak akan menurutiku jika aku tidak melakukan hal itu." Sorot mata Hoya sendu saat mengingat ucapan Darrel yang lembut padanya karena takut melihatnya terluka.
"Sebenarnya Darrel itu membenci anaknya atau tidak. Keluarga ini sangat rumit." Ucap batin Erzan.
"Baiklah, kalau begitu hari ini kita akan menyerahkan semua bukti. Apa kamu siap?" Tanya Erzan.
"Aku siap." Jawab Hoya tanpa ragu dan Leonid pun langsung menggenggam tangan Hoya erat untuk menguatkannya.
Setelah itu Leonid membawa Hoya duduk ke sofa yang ada di dalam ruangan kerja Erzan, dan setelah itu mereka duduk berdampingan. Sedangkan Erzan duduk di depan mereka dengan membawa tumpukan berkas dan bukti yang diberikan oleh Hoya.
"Hoya, bukti ini sebenarnya apa?" Tanya Leonid yang merasa penasaran benda apa yang menjadi bukti kejahatan Darrel itu.
"Itu adalah potongan stampel milik keluarga Hutagalung dan hanya dipegang oleh kakek ku." Ucap Hoya.
"Lalu dimana potongan yang lainnya?"
"Pada papah."
"Apa?!"
"Papah selalu mengancam aku dan mamah bahwa tidak bisa memiliki Hutagalung karena papah memiliki stampel dan surat penunjukan pewaris di tangannya." Ucap Hoya serius.
"Tapi itu hanya kebohongan papah." Lanjut Hoya.
"Apa maksud kamu sebenernya Darrel tidak memilikinya?" Tebak Leonid.
" Tidak Leo, papah memiliki semuanya tapi dia tidak memperlihatkan di depan publik karena stampel itu tidak sempurna. Karena jika ketahuan maka papah akan kehilangan untuk mengendalikan Hutagalung dan papah akan di giring ke polisi karena memiliki benda yang menjadi bukti pembunuhan malam itu." Jelas Hoya.
"Bagaimana kamu bisa menemukan bukti itu Hoya?" Tanya Leonid penasaran.
"Aku menemukan di rumah singgah Rebecca, disanalah papah membunuh kakek di depan mamah Leo." Ucapan Hoya sangat mengejutkan Leonid dan Erzan.
Leonid tidak menduga tempat di mana Hoya selalu membuat karya seninya adalah tempat kelam keluarganya. Leonid tidak bisa membayangkan perasaan Hoya saat menemukan bukti itu."
"Apa Lavon dan keluargamu yang lain mengetahuinya?" Tanya Erzan.
"Hanya aku dan Jerome." Jawab Hoya tegas.
Mendengar penjelasan Hoya, Leonid dan Erzan bertukar pandang. Mereka sadar bahwa bukti yang diberikan oleh Hoya adalah bukti utama. Karena itulah kenapa Hoya menyembunyikannya bertahun-tahun.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rose War (END)
Fiksi PenggemarLeonid Xavier Handomo adalah ketua DEVIL generasi ke-3. Anak bungsu dari dua bersaudara dan anak dari pasangan komandan TNI dan seorang guru. Leonid menjalani hari-harinya seperti biasa, hingga dia mengetahui kebenaran tentang keluarga seorang perem...
