"Apa kita perlu berbicara disini?" Tanya Hoya.
"Karena hanya tempat ini yang tidak pernah tersentuh kenangan buruk." Jawab Leonid santai sambil menatap anak-anak yang bermain di hadapan mereka.
Hoya hanya menghela nafas panjang, Hoya tidak menduga bahwa Leonid akan mengajak dirinya ke tempat pemukiman yang ada di bawah jembatan tol yang pernah mereka berdua kunjungi saat masih SMA.
"Apa ada yang mau lo katakan sama gue?" Tanya Leonid.
"Sepertinya urusan gue sama lo udah lama selesai Leo." Ujar Hoya.
Leonid yang mendengar itu pun hanya bisa tersenyum kecut. Leonid menatap wajah Hoya tapi Hoya berusaha keras mengalihkan pandangannya dari Leonid.
"Seperti biasanya, lo selalu menghindar Hoya. Apa lo semudah itu melupakan semuanya? Apa lo juga melupakan gue yang pernah jadi sahabat lo?" Ucapan Leonid membuat dada Hoya sesak.
"Leo, lo tau bahwa bukan itu maksud gue. Tapi gue -" ucapan Hoya terhenti dengan tangan terkepal.
Kemudian Leonid melihat suasana di sekitar mereka cukup sepi dan Leonid pun berdiri dan berjalan mendekati Hoya. Leonid merendahkan tubuhnya dan seketika wajahnya sangat dekat dengan wajah Hoya.
"Leo?" Dada Hoya berdebar keras saat melihat wajah Leonid tepat dihadapannya.
"Hoya dari ucapan lo, lo mengizinkan gue untuk mendekat asalkan gue tetap jadi teman lo. Karena itu gue akan menggunakan kesempatan itu dengan baik." Ucap Leonid dengan nada yang dingin.
Tangan Leonid dengan pelan menyentuh wajah Hoya, kemudian ibu jari Leonid menyentuh bibir Hoya dengan lembut. Leonid menatap wajah Hoya yang begitu dia rindukan selama ini.
Hoya pun sejenak menatap wajah Leonid yang sudah lama ingin dia lihat. Tanpa sadar tangan Hoya terulur menyentuh wajah Leonid. Leonid yang terkejut pun tanpa sadar memasukkan ibu jarinya ke mulut Hoya.
Hoya tanpa sengaja menggigit ibu jari Leonid itu, tapi Leonid hanya tersenyum melihat hal itu. Hoya yang sadar pun melepaskan gigitannya dan menjauhkan wajahnya dari hadapan Leonid.
"Tidak berubah sama sekali, lucu dan menggemaskan." Ucap Leonid lembut.
Pipi Hoya memerah dan mata yang berkaca-kaca. Kemudian Leonid tersenyum hangat pada Hoya sambil mengusap lembut kepala Hoya sambil merapikan rambut Hoya yang sedikit berantakan.
"Gue akan ngejar lo, jadi bersiaplah untuk menerima serangan gue Hoya." Ucap Leonid.
"Leo, apa lo sebegitu tidak takutnya sama bokap gue. Gue nggak mau lo ataupun keluarga lo terlibat masalah sama bokap gue." Hoya menatap Leonid dengan sorot mata yang sedih.
"Jangan mengkhawatirkan gue, lo sudah banyak mengorbankan kebahagiaan lo buat gue. Karena lo nama baik bokap sama saudara gue tetap baik dimata semua orang." Hoya terdiam karena Leonid menyadari semuanya.
"Karena itu Hoya, gue mohon hiduplah egois untuk diri lo sendiri. Jangan pikirkan keluarga gue, karena gue bisa menjamin mereka tidak akan bisa disentuh siapapun."
"Tapi Leo, papah bukan orang yang mudah di tebak. Bahkan dia tidak ragu akan melukai anaknya, apa lagi hanya untuk menghancurkan satu keluarga yang baginya hanya di bawahnya." Leonid tersenyum mendengar kekhawatiran Hoya pada keluarganya.
"Sikap lo seperti lo sudah menjadi menantu keluarga gue Hoya. Sangat manis." Ujar Leonid.
"Leo, kenapa lo malah bercanda disaat gue serius." Hoya menghela nafas panjang sambil menutup wajah dengan perasaan lelah.
"Gue nggak mau bikin lo semakin tertekan, hidup seperti Hoya saat lo bersama sahabat-sahabat lo Hoya. Lo cewek yang penuh kebaikan Hoya dan lo pantas bahagia." Leonid membuka tangan Hoya yang menutupi wajahnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rose War (END)
Fiksi PenggemarLeonid Xavier Handomo adalah ketua DEVIL generasi ke-3. Anak bungsu dari dua bersaudara dan anak dari pasangan komandan TNI dan seorang guru. Leonid menjalani hari-harinya seperti biasa, hingga dia mengetahui kebenaran tentang keluarga seorang perem...
