Untuk Kematian

139 38 14
                                        

"Hoya lo dimana?" Teriak Lavon saat memasuki rumah.

Lavon baru saja pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya di kantor semalaman dan tidak sempat untuk mengabari Hoya. Lavon melepaskannya jaket hoodienya dan meninggalkannya di lantai begitu saja.

"Gue di ruang makan." Jawab Hoya santai.

"Adik gue sayang, hari ini lo bolos aja ya temanin gue ja-" ucapan Lavon terhenti saat melihat wajah Hoya terdapat beberapa plester luka dan pipi yang memar.

"Hoya! Ada apa sama muka lo?!" Lavon langsung menghampiri Hoya dan menyentuh pelan wajah Hoya.

"Gue baik-baik aja. Gue nggak bisa bolos, tinggal tiga bulan lagi gue ujian." Jawab Hoya tanpa peduli Lavon yang sedang khawatir padanya.

"Gue tanya sekali lagi, muka lo kenapa Hoya?" Mendengar suara Lavon yang dingin, Hoya pun hanya bisa terdiam.

Lavon melihat keterdiaman Hoya pun mengepal kedua tangannya, kemudian Lavon berbalik dan melihat ke arah Darrel yang duduk santai menikmati sarapannya tanpa terganggu.

Lavon tanpa berpikir panjang langsung mengambil piring roti milik Darrel dan melemparkannya ke lantai. Lavon menatap tajam ke arah Darrel dan sedangkan Darrel hanya diam menatap Lavon.

"Beraninya papah menampar adikku lagi!" Ucap Lavon keras hingga membuat semua pelayan ketakutan melihat amarah Lavon.

"Aku hanya mendisplinkan putriku." Jawab Darrel.

"Omong kosong! Sudah ku bilang jangan sentuh Hoya atau papah akan melihat aku mengatakan semuanya!"

"Apa kamu mengancam ku? Jangan lupa kamu masih membutuhkan aku untuk mendapatkan posisi pewaris Lavon."

"Aku bisa melepaskan semuanya demi adikku!"

"Berani sekali kamu Lavon!"

"Papah lebih buruk dari pada sampah!" Darrel yang marah mendengar ucapan Lavon itu. Darrel pun melayangkan tangannya untuk menampar Lavon.

Plak!!!

"Hoya!" Teriak Lavon saat wajah Hoya yang terkena tamparan keras itu.

Hoya berdiri di depan Lavon menghalangi Darrel untuk menyakiti Lavon. Lavon menggenggam tangan Hoya dan Lavon semakin khawatir pada Hoya.

"Papah, aku tidak peduli papah menyakitiku tapi papah harus ingat perjanjian papah padaku. Jika papah menyakiti Lavon dan orang itu maka papah akan melihat kematian ku. " Ucap Hoya dan mata Lavon melebar.

"Jangan lupa kamu juga memiliki perjanjian pada papah Hoya." Ujar Darrel.

"Aku tidak akan mengkhianati perjanjian itu, tapi jika papah berkhianat maka itu akan terjadi. Papah sendiri juga tau bahwa aku adalah orang yang nekat." Ucap Hoya.

Darrel mengepal kedua tangannya karena tidak bisa membatah ucapan Hoya. Hoya pun menatap tajam ke arah Darrel, dan kemudian Hoya menarik tangan Lavon menuju mobilnya.

Hoya dan Lavon masuk ke dalam mobil, Harry yang sudah berada di dalam mobil lebih dulu langsung mengendarai mobil itu meninggalkan rumah tersebut.

"Hoya! Kenapa lo yang menghalangi tamparan itu?! Apa lo sudah gila?!" Teriak Lavon sangat marah melihat luka di sudut bibir Hoya terbuka.

"Gue nggak mau papah nyakitin lo." Ucap Hoya dengan wajah murungnya.

"Gue kakak lo Hoya, dan gue cowok bisa nahan tamparan itu. Tapi lo, lo cewek dan adik kecil gue. Gue nggak mau lo sakit karena gue Hoya."

"Maafin gue Lavon. Gue hanya takut."

"Takut? Takut apa Hoya, gue akan selalu ngelindungin lo."

"Papah bisa melenyapkan kita berdua dengan mudah Lavon, gue nggak mau liat lo mati tepat di depan mata gue. Gue hidup lama bersama lo, bagi gue lo adalah hidup gue. Gue nggak akan bisa hidup tanpa saudara gue." Ucap Hoya dengan air mata yang mengalir di pipinya.

Rose War (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang