Hari ini Hoya berada di galeri seni Rebecca untuk membersihkan barang-barang yang sudah cukup lama tidak dibersihkan. Hoya pun mengangkat kardus yang berisikan alat-alat ukirnya.
Tapi di saat Hoya berjalan beberapa langkah, tiba-tiba sebuah tangan mengambil alih kardus itu darinya. Hoya terkejut tapi seketika wajah Hoya menjadi datar saat melihat sosok Amir yang mengambil kardusnya.
"Gue nggak pernah ngasih izin orang asing masuk ke galeri gue tanpa undangan gue. Kenapa lo ada disini?" Tanya Hoya.
"Karena gue diminta sama bokap kesayangan lo buat ngawasin putri nakalnya ini." Ujar Amir santai.
Seketika Hoya teringat dengan ucapan Lavon yang mengatakan bahwa dalam waktu dekat bahwa Darrel akan mengirim Amir untuk mengawasinya.
"Gue nggak nyangka lo jadi patuh sama bokap gue. Seorang anak dewan patuh dengan seorang pengusaha kriminal, bukankah itu sangat memalukan."
"Entahlah, mungkin gue hanya iseng. Karena gue bisa dekat sama lo itu adalah kepuasan yang menyenangkan buat gue."
"Basi!" Ucap Hoya yang mendengar Amir yang menggodanya.
Sedangkan Amir pun tertawa, setelah itu Hoya berjalan menuju mejanya untuk bekerja tapi sejenak Hoya melihat wajah Amir yang terlihat penuh lebam. Hoya merasa curiga karena hanya ada dua orang yang bisa membuat Amir terluka.
"Bagaimana muka lo jadi kaya gitu?" Tanya Hoya.
"Kenapa? Khawatir ya lo sama gue." Ujar Amir dengan wajah yang senang pada Hoya.
"Khawatir sama lo? Apa lo pikir gue hilang kewarasan? Gue nanya karena hanya dua orang yang bisa buat muka lo kaya gitu, Lavon dan Leonid. Jadi siapa yang bikin muka lo habis Amir?"
"Lo sungguh cewek yang dingin Hoya. Gue semakin ingin merebut lo dari Leonid."
"Lo terlalu percaya diri Amir. Bahkan Leonid cowok yang gue suka bahkan dia tidak bisa mendapatkan gue, dan lo yang sebagai orang yang gue benci berharap bisa dapatin gue." Hoya berjalan mendekati Amir.
"Sebaiknya tutup mulut lo, sebelum gue buat lo jadi bahan karya seni gue." Bisik Hoya dingin dan Amir pun tertawa.
"Sungguh kehormatan buat gue kalau lo menjadikan gue karya seni lo." Ucap Amir dengan menyentuh pipi Hoya.
Mendengar ucapan Amir yang tidak terpengaruh dengan ancamannya membuat Hoya marah. Hoya pun menepis kasar tangan Amir dari pipinya. Sedangkan Amir hanya tertawa dan pergi membawa kardus yang dibawanya ke dalam ruangan Hoya.
"Gue yakin luka yang di dapatkan Amir itu adalah dari Leonid." Ucap batin Hoya dengan tangan yang mengepal kuat.
Hoya menghela nafas panjang sambil mengikat rambutnya menjadi satu. Kemudian Hoya hendak mengambil kunci mobilnya yang ada di atas meja, tapi tiba-tiba Amir lebih dulu mengambil kunci mobilnya.
"Gue yang akan nyetir, lo mau kemana?" Ucap Amir dengan wajah penuh kepuasan.
Sedangkan Hoya hanya diam dengan menahan amarahnya. Karena Hoya tidak ingin membuat masalah ini lebih besar lagi dan berefek pada Lavon yang akan dihukum oleh Darrel hanya karena dirinya.
"Antar gue ke cafe dessert yang ada di dekat sini." Ucap Hoya.
"Baiklah tuan putri." Amir tersenyum puas melihat Hoya yang sudah berjalan lebih dulu ke mobil.
Amir merasa menang karena bisa sedikit menguasai Hoya dengan kuasa yang diberikan oleh Darrel padanya untuk mengawasi Hoya. Amir tersenyum dan segera menyusul Hoya ke dalam mobil.
Setelah berada di dalam mobil, Amir segera mengendarai mobilnya menuju cafe dessert yang terdekat sesuai keinginan Hoya. Sedangkan di waktu bersamaan Kayrie sedang bersama Athena.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rose War (END)
FanfictionLeonid Xavier Handomo adalah ketua DEVIL generasi ke-3. Anak bungsu dari dua bersaudara dan anak dari pasangan komandan TNI dan seorang guru. Leonid menjalani hari-harinya seperti biasa, hingga dia mengetahui kebenaran tentang keluarga seorang perem...
