"Jojo tolong pajang lukisan ini di koridor pintu masuk dan siapkan meja tinggi kecil untuk menaruh guci itu." Ucap Hoya pada Jojo yang sekarang membantunya untuk persiapan pameran lusa depan.
"Baiklah, gue juga akan membereskan semua sampahnya." Ujar Jojo.
"Terima kasih. Maaf gue sudah membuat lo terjebak disini. Ini semua karena Lavon yang tiba-tiba ingin pergi bersama Sera."
"Gue nggak masalah, dari pada gue harus terjebak sama Lavon. Gue lebih suka kerja sama lo."
"Apa lo nggak masalah Lavon bersama Sera?" Mendengar pertanyaan Hoya pun Jojo tertawa kecil.
Jojo tau apa yang dikhawatirkan oleh Hoya. Tapi Jojo juga tau bahwa Lavon akan menjaga adiknya dengan baik. Karena Lavon memiliki perasaan yang murni sama seperti perasaan Leonid untuk Hoya.
"Gue percaya kalau Lavon bisa jaga Sera." Ucap Jojo dan Hoya pun menghela nafas pelan.
Hingga suara handphone Hoya berdering membuat Hoya segera melihat layar handphonenya untuk melihat nama orang yang menghubunginya. Tapi seketika kening Hoya berkerut saat melihat nama Lavon.
"Ada apa Lavon?" Ucap Hoya saat menjawab panggilan dari Lavon.
"Hoya, gue ada kabar buruk." Ucapan Lavon membuat Hoya pun menjadi khawatir.
"Father Falco dan Kakek Alan meninggal karena serangan jantung. Kita harus segera pergi ke gereja setelah itu kita pergi ke Bandung untuk ikut pemakaman kakek Alan." Ucapan Lavon seakan air es mengguyuri tubuh Hoya dengan tiba-tiba.
Jojo yang melihat wajah Hoya berubah menjadi sendu dan mata yang berkaca-kaca. Jojo berjalan mendekati Hoya sembari memegang pundak Hoya pelan.
"Baiklah, gue akan berangkat bersama Jojo." Ucap Hoya.
"Berangkatlah hati-hati, gue tau sekarang lo sedih."
"Bukan hanya gue yang sedih, tapi lo juga Lavon. Mereka berdua seperti ayah bagi kita."
" Lo benar. Baiklah, mari kita bertemu di gereja." Ucap Lavon.
Setelah itu Hoya pun memutuskan panggilan tersebut. Kemudian Hoya terdiam menatap handphonenya, hingga sentuhan tangan Jojo di pundaknya menyadarkannya dari lamunannya.
"Ada apa Hoya? Apa Lavon dalam masalah?" Tanya Jojo yang sekarang juga merasa khawatir.
"Jojo, orang tua yang selalu merawat kami dan ada saat kami dalam keterpurukan dua-duanya pergi di hari yang sama." Ucap Hoya pelan.
"Apa maksud lo Hoya?"
"Lo sudah lama ikut Lavon, lo pasti mengenal sosok Father Falco dan Kakek Alan. Karena itu gue harus pergi sekarang Jojo, gue harus menemui mereka untuk terakhir kalinya." Hoya berjalan pelan menuju kamarnya untuk bersiap untuk berganti pakaian.
Sedangkan Jojo hanya bisa terdiam melihat sorot mata Hoya yang sedang terpukul dan merasakan kesedihan yang mendalam. Jojo cukup mengenal sosok Father Falco dan Kakek Alan.
Karena selama bersama Lavon, Jojo tau bahwa dua sosok itu adalah orang yang menjadi tempat Lavon bercerita dan pulang saat perasaan hatinya kacau.
"Kenapa mereka berdua selalu saja dilanda kesedihan?" Ucap Jojo sambil menatap pintu kamar Hoya iba.
Sedangkan di tempat lain terlihat Leonid sedang sibuk di dapur pastry cafenya. Leonid sibuk membuat beberapa cake untuk di pajang di etalase dan satu cake untuk Hoya.
Leonid ingin membuat tiramisu kesukaan Hoya. Leonid tau bahwa Hoya sedang tidak baik-baik saja setelah mengetahui kebenaran tentang keluarganya dan keadaan dirinya yang sedang sakit membuat Leonid khawatir dengan keadaan Hoya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rose War (END)
Fiksi PenggemarLeonid Xavier Handomo adalah ketua DEVIL generasi ke-3. Anak bungsu dari dua bersaudara dan anak dari pasangan komandan TNI dan seorang guru. Leonid menjalani hari-harinya seperti biasa, hingga dia mengetahui kebenaran tentang keluarga seorang perem...
