"Gue udah bilang sama lo buat hati-hati Hoya. Tapi sekarang tangan lo luka lagi!" Ucap Lavon yang marah ketika melihat tangan Hoya yang terbungkus perban.
"Tangan gue nggak sengaja kena pisau ukir. Maaf udah bikin lo khawatir." Ucap Hoya berbohong.
Hoya terpaksa berbohong tentang mengenai Amir yang hampir menusuk Leonid dan Hoya yang melindunginya. Jika Lavon mengetahui hal itu maka Hoya bisa menebak apa yang akan terjadi pada Amir selanjutnya.
Hoya tidak ingin Lavon dalam masalah karena dalam waktu dekat akan ada rapat dengan dewan direksi saham. Karena itu Hoya tidak ingin Lavon terlibat masalah yang akan menjadi kelemahannya.
"Lo kebiasaan banget dah, sekarang lo harus sama gue seharian. Jangan coba kabur dari pandangan gue. Habis lo kalau lo coba kabur!" Lavon mencubit pipi Hoya gemas.
"Iya-iya, gue akan di samping lo. Apa perlu gue gandeng tangan lo?" Ucap Hoya bercanda.
"Awas aja lo!" Ancam Lavon dan Hoya pun tertawa.
Hingga mobil Lavon berhenti di parkiran mall, setelah itu Lavon dan Hoya keluar dari mobil. Mereka berdua masuk ke dalam mall dengan berjalan bergandengan.
Lavon menemani Hoya pergi ke toko buku untuk mencari kanvas lukis dan cat lukis. Lavon dengan senang hati menemani adik perempuannya itu, karena hari ini tidak ada jadwal untuk pemeriksaan Sera ke rumah sakit.
"Lo hari ini nggak mau jalan sama Sera?" Tanya Hoya sambil melihat-lihat cat lukis yang ada dihadapannya.
"Kan gue udah bilang sama lo kalau hari ini gue mau main seharian sama lo." Jawab Lavon dingin.
"Lavon kalau lo nggak suka sama Sera jangan buat dia berharap." Ucapan Hoya membuat Lavon terdiam dan matanya tertuju pada cat lukis yang ada dihadapannya.
Kemudian Lavon mengambil cat lukis itu dan kemudian menyerahkannya pada Hoya. Setelah itu Lavon menepuk pelan kepala Hoya, Lavon tau bahwa sekarang Hoya sedang mengkhawatirkannya.
"Hoya gue nggak ada terbesit untuk nyakitin Sera. Dia juga berarti buat gue, waktu yang gue habiskan buat ngerawat dia dan ngejaga dia adalah waktu yang menyenangkan bagi gue." Ucap Lavon tulus.
Hoya pun tertegun, Hoya memegang erat cat lukis yang diberikan oleh Lavon untuknya. Kemudian Hoya menepuk kepala Lavon seperti yang dilakukan Lavon padanya.
"Apa lo sesayang itu sama Sera?" Ucap Hoya.
"Terima kasih karena lo gue bisa ketemu sama Sera, karena lo juga gue bisa merasakan perasaan tulus tanpa ada keraguan di dalam diri Sera. Tapi gue sudah cukup untuk sekarang, gue nggak mau lebih dari pada ini lagi." Lavon tersenyum tipis.
"Kenapa?"
"Karena gue nggak akan sanggup liat orang yang gue sayang di lukai oleh papah dalam waktu bersamaan." Ucap Lavon lirih.
Hoya pun menatap iba pada Lavon, tapi tanpa mereka sadari bahwa seseorang yang ada di dekat mereka dengan topi hoodie berwarna hitam menutup wajahnya sedang mendengarkan percakapan mereka berdua.
Orang itu adalah Kayrie, Kayrie tersenyum puas saat mendengar ucapan Lavon pada Hoya. Kemudian Kayrie berjalan keluar dari toko buku dengan langkah santai agar Hoya dan Lavon tidak mencurigainya.
"Seperti kata Helena, Sera adalah kelemahan Lavon sekarang." Ucap Kayrie dengan senyuman puasnya.
***
Di sebuah cafe terlihat Leonid duduk berhadapan dengan Vivi. Leonid duduk dengan wajah santai sambil menyeruput minuman kopinya. Sedangkan Vivi menatapnya datar dan penuh waspada.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rose War (END)
Fiksi PenggemarLeonid Xavier Handomo adalah ketua DEVIL generasi ke-3. Anak bungsu dari dua bersaudara dan anak dari pasangan komandan TNI dan seorang guru. Leonid menjalani hari-harinya seperti biasa, hingga dia mengetahui kebenaran tentang keluarga seorang perem...
