Pembersihan

22 7 0
                                        

Dengan wajah lelah dan mata sembab, Lavon berjalan di koridor kantor pengacara Darrel bersama Geo dan Jojo di belakangnya. Pagi tadi Lavon mendapatkan telpon bahwa pengacara Darrel ingin berbicara dengannya.

"Uncle Daniel? Apa uncle datang karena papah? Tapi aku bahkan lupa mengabari uncle tentang ini." Ujar Lavon yang terkejut melihat Daniel yang berdiri dihadapannya.

Daniel adalah kakak kandung Darrel yang semenjak konflik Darrel yang membuat Edith pergi ke Paris, Daniel yang marah pada Darrel memilih menetap di Las Vegas dan tidak memperdulikan Darrel ataupun keluarga Mahendra.

"Aku datang malam tadi. Maafkan aku yang datang terlambat dan membiarkan kalian mengurusnya sendirian son." Ucap Daniel dengan merasa menyesal.

"Kami baik-baik saja, papah sudah biasa merepotkan kami." Jawab Lavon santai dan Daniel pun tersenyum tipis.

"Dimana malaikat kecilku, kenapa dia tidak bersamamu?"

"Dia sedang tidak sehat, kekasihnya sedang menemaninya. He would be fine if he was with his lover." Mendengar itu Daniel pun tersenyum.

"Baiklah, kita akan bicara lagi nanti. Sekarang kita harus masuk dan mendengarkan apa yang akan diberitahukan oleh Harper tentang wasiat Darrel." Daniel merangkul pundak Lavon akrab untuk masuk ke dalam ruangan Harper yaitu pengacara Darrel.

Mereka semua pun masuk ke dalam ruangan Harper. Harper yang duduk sambil menghisap cerutunya pun menghela nafas berat saat melihat kedatangan Lavon dan Daniel beserta kedua sahabat Lavon.

Lavon dan Daniel duduk di sofa yang ada di ruangan itu, sedangkan Geo dan Jojo berdiri dibelakang mereka. Harper pun berjalan menghampiri mereka dan duduk dihadapan Lavon dan Daniel.

"Lavon aku turut berduka cita dengan apa yang terjadi pada Darrel dan Edith. Aku tidak tau mereka akan memilih jalan gila itu." Ucap Harper.

"Bukankah om lebih mengenalnya, dia bahkan rela melukai anaknya hanya untuk bersama istrinya. Maka dia juga akan patuh jika istrinya meminta untuk bunuh diri bersama." Ujar Lavon dengan sorot mata yang kosong.

Harper dan Daniel pun terdiam mendengar ucapan Lavon. Mereka hanya bisa melihat keterpurukan keluarga itu tanpa bisa membantunya, karena Darrel yang keras kepala dan obsesi gilanya membuat keluarganya sendiri hancur.

Kemudian Harper memberikan sebuah stampel dan beberapa berkas pada Lavon. Lavon pun mengambil berkas itu dan membacanya dengan teliti, tapi seketika Lavon terdiam hingga tanpa sadar melepaskan berkas itu dari tangannya.

"Apa maksudnya ini?!" Tatapan tajam Lavon menyalang pada Harper tanpa peduli bahwa dihadapannya adalah orang yang lebih tua darinya.

"Seperti yang tertulis disana Lavon. Kamu lah pemilik Mahendra sekarang, perebutan kekuasaan yang kalian lakukan itu hanya omong kosong Darrel karena hanya ingin mengikuti ucapan putri kesayangannya." Ujar Harper sambil menghembuskan asap cerutunya.

"Bagaimana bisa itu terjadi?"

"Lavon kau akan menjadi pemilik Mahendra dan adikmu Helena akan menjadi CEO untuk membantumu. Darrel juga sudah memindahkan semua properti yang ada di Riau dan Bandung pada Helena, dia menyanyangi Helena seperti kalian tapi karena rasa bencinya pada Rena membuatnya tanpa sadar melukai Helena."

"..."

"Dia suami yang buruk tapi dia ayah yang baik Lavon, aku harap kamu tidak membencinya. Dia hanya terlalu polos untuk mencintai istrinya. Sedangkan Hoya tidak mendapatkan apapun, karena dia tau Hoya tidak menginginkannya karena itu Darrel hanya memberikan sedikit sahamnya pada galeri Hoya."

"Dia meninggalkan semua ini tanpa pernah bicara jujur padaku? Bukankah itu sangat keterlaluan. Aku sangat muak dengan keluarga ini!" Ujar Lavon yang berdiri dari tempat duduknya.

Rose War (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang