Pagi ini Leonid berdiri di depan pintu apartemen Hoya sambil menatap layar handphonenya untuk melihat pesannya yang baru saja dibaca oleh Hoya.
Leonid tersenyum hingga mata Leonid melebar saat Hoya membuka pintu apartemen dengan mengenakan pakaian formal berwarna putih. Leonid seketika teringat dengan mimpinya tentang Hoya.
Mimpi yang memperlihatkan sosok Hoya yang memuntahkan darah dihadapannya. Seketika wajah Leonid memucat dan tanpa sadar air mata Leonid mengalir hingga mengejutkan Hoya.
"Leo! Kamu kenapa?!" Hoya hendak menyentuh wajah Leonid tapi Leonid menahannya dan langsung menggenggam tangan Hoya.
"Tidak apa-apa. Aku tiba-tiba saja merindukan bunda." Jawab Leonid berbohong.
"Apa kamu baik-baik saja? Kalau kamu sangat merindukan bunda, sebaiknya kamu telpon bunda Gita aja sekarang."
"Aku baik-baik aja, kalau aku tiba-tiba menelpon bunda maka bunda akan khawatir." Hoya pun terdiam dan menatap Leonid dengan sorot matanya yang sendu.
Leonid berusaha tenang dan berpikir jernih, Leonid mengusap kepala Hoya penuh kasih. Kemudian Leonid memberikan goodie bag pada Hoya dan Hoya menatap Leonid dengan kebingungan.
"Apa ini?" Tanya Hoya.
"Kamu suka tiramisu, ini tiramisu brownies menu baru di cafe aku." Ucap Leonid.
"Tiramisu!" Wajah Hoya seketika menjadi sangat senang dan Leonid tersenyum kecil melihat wajah bahagia Hoya.
"Jadi aku pertama yang mencicipinya?!" Ujar Hoya dan Leonid hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
"Aku senang banget sama hadiah ini Leo. Bagaimana aku membalasnya?"
Leonid diam dan langsung memeluk Hoya. Tubuh Hoya menegang saat tangan Leonid perlahan menyentuh tengkuknya. Jari jemari Leonid yang bergerak lembut tapi seakan menghantarkan suhu panas pada tubuh Hoya.
"Le-Leo..." Ucap Hoya terbata-bata.
"Hoya, pastikan sore ini kamu ke rumah singgah Rebecca. Karena aku sudah menyiapkan sesuatu yang indah untukmu. Kamu harus berada di sana sore ini Hoya." Bisik Leonid dengan nafas yang terasa panas di telinga Hoya.
"Sebenarnya apa yang sudah kamu siapkan?" Tanya Hoya penasaran sembari mendorong pelan tubuh Leonid untuk menatap wajahnya.
"Itu kejutan, jadi kamu harus melihatnya sendiri." Leonid tersenyum misterius dan Hoya hanya memasang wajah cemberut.
Melihat wajah Hoya yang menggemaskan seketika membuat Leonid sedikit melupakan apa yang ditakutkan dengan prediksi mimpi tentang Hoya. Leonid tidak pernah ingin mendahulukan takdir Tuhan.
Hanya saja Leonid ingin melindungi Hoya sebisa mungkin karena Leonid ingin menciptakan dunia yang bisa membuat Hoya bahagia tanpa ada rasa sakit untuknya.
Di waktu yang sama dan tempat yang berbeda terlihat Sebastian berdiri sambil memijat pelipisnya dengan raut wajah yang khawatir. Sebastian membaca berkas yang baru saja diberikan oleh Vivi.
Vivi yang berdiri dihadapannya hanya bisa diam sambil tertunduk. Sedangkan di sofa terlihat Marcel duduk dengan santai sambil memakan cemilannya.
"Marcel, apa kamu yakin rencana kamu dan Leonid bisa berjalan dengan lancar?" Tanya Sebastian untuk memastikannya.
"Jika tidak kami yang bergerak, sampai kapan papah akan menunggu putri papah bisa kembali? Ini cara untuk menekan Darrel dan membantu Lavon untuk mendapatkan posisinya." Ujar Marcel dingin.
"Tapi Marcel, ini akan membuat kamu dan Leonid dalam bahaya. Kamu juga tau bahwa hampir setengah kekayaan Hutagalung ada di tangan Darrel."
"Hutagalung bukan milik Darrel. Aku juga percaya pada rencana Leonid karena Leonid tidak pernah mengkhianatiku. Aku harap papah setuju dengan rencana ini." Mendengar ucapan Marcel, Sebastian hanya bisa menghela nafas pasrah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rose War (END)
Fiksi PenggemarLeonid Xavier Handomo adalah ketua DEVIL generasi ke-3. Anak bungsu dari dua bersaudara dan anak dari pasangan komandan TNI dan seorang guru. Leonid menjalani hari-harinya seperti biasa, hingga dia mengetahui kebenaran tentang keluarga seorang perem...
