Sekarang menunjukkan pukul 03:45, terlihat Lavon dan Hoya duduk diam menghadap dua peti mati dihadapan mereka. Di atas peti mati itu terdapat foto Darrel dan Edith.
Hoya yang baru saja menyelesaikan memadikan jenazah Edith beberapa waktu yang lalu sontak menatap tangannya datar. Lavon juga baru saja selesai memandikan dan menyiapkan pakaian terakhir Darrel.
"Lavon, apa lo sudah menghubungi gereja?" Tanya Hoya.
"Gue sudah mengurus semuanya, kita akan mengantar papah ke gereja setelah menyolatkan mamah." Ucap Lavon sambil mengusap kepala Hoya.
Hoya hanya diam sambil menganggukkan kepalanya, kemudian mata Lavon melihat ke arah Marcel yang duduk jauh menatap kosong peti Edith. Lavon berdiri dan menghampiri Marcel.
"Marcel..." Ucap Lavon.
"Gue baru aja liat nyokap gue, tapi kenapa Tuhan mengambilnya lagi dari gue. Gue bahkan belum tau apa makanan kesukaannya." Ucap Marcel lirih.
Lavon pun diam dan air mata Lavon dan Marcel pun jatuh dengan beriringan dengan lantunan doa. Sedangkan Hoya hanya diam dengan wajah datarnya, dan itu tidak luput dari mata Leonid yang sedari tadi melihatnya.
Hoya yang melihat Sebastian duduk dengan mata yang terluka pada foto Edith yang tersenyum pun menghela nafas panjang. Kemudian Hoya berdiri dan berjalan menuju dapur, dan tidak lama kemudian Hoya kembali dengan membawa segelas teh hangat.
"Papah minumlah dulu." Ucap Hoya lembut dan Sebastian pun menatap Hoya lurus.
"Apa kamu baik-baik saja nak? Kamu yang pertama kali melihatnya." Tanya Sebastian khawatir sambil mengusap kepala Hoya.
"Aku baik-baik saja. Papah jangan khawatirkan aku. Kata Lavon, papah sempat sesak nafas tadi. Aku mohon jagalah kesehatan papah." Hoya menggenggam tangan Sebastian.
"..."
"Pada akhirnya aku kalah dan Darrel yang menang, diwaktu terakhir pun dia yang bersama Edith. Kenapa dia memilih jalan ini, aku seperti kehilangan akalku putriku."
"Papah..."
"Kenapa aku tidak diberikan kesempatan untuk menjadi suaminya yang baik."
"Tidak papah, papah adalah suami dan ayah yang baik. Jangan mengatakan itu."
"Sekarang bagaimana aku hidup, belahan jiwaku sudah pergi." Sebastian seketika menumpahkan air matanya dengan menatap foto istri kesayangannya itu.
Hoya diam dan memeluk Sebastian. Hati Hoya bagaikan remuk melihat Sebastian yang perasaan sangat hancur. Hoya berusaha menenangkan Sebastian sambil memeluknya.
Leonid yang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya pada Hoya merasa khawatir. Karena setelah mengabari kematian Darrel dan Edith pada keluarganya, Hoya tidak memperlihatkan air matanya lagi.
Kemudian Leonid berjalan keluar dan bersamaan dengan kedatangan Erzan dan kedua orangtuanya. Liam menatap Leonid yang terlihat sangat lelah, sedangkan Gita memeluk singkat putra bungsunya itu.
"Ayah, bunda apa kalian bisa temani Hoya sebentar. Aku ingin berbicara dengan Erzan." Pinta Leonid pada kedua orangtuanya.
"Bicaralah, kami akan menjaganya." Ujar Liam pada Leonid.
Leonid pun menganggukkan kepalanya, setelah itu Leonid memberikan isyarat pada Erzan untuk mengikutinya. Rumah Hoya sekarang sangat padat para pelayat.
Bahkan di luar rumah sudah banyak wartawan yang menunggu untuk meliputi tentang kematian suami istri pengusaha sukses dan seniman berbakat yang terkenal. Leonid mengepal kedua tangannya melihat hal itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rose War (END)
Fiksi PenggemarLeonid Xavier Handomo adalah ketua DEVIL generasi ke-3. Anak bungsu dari dua bersaudara dan anak dari pasangan komandan TNI dan seorang guru. Leonid menjalani hari-harinya seperti biasa, hingga dia mengetahui kebenaran tentang keluarga seorang perem...
