Jiwa Yang Terikat

70 35 0
                                        

"Lavon!" Panggil Edith yang baru saja datang bersama Sebastian dan Marcel.

Lavon hanya diam yang masih belum melepaskan genggaman tangannya dari tangan Hoya yang sekarang masih tertidur setelah Jerome menyuntikkan sesuatu padanya.

Jojo dan Sera yang menemani Lavon hanya bisa diam menunggu tanpa suara. Sedangkan Edith segera menghampiri Lavon dan Hoya dengan cepat.

"Kenapa Hoya sampai seperti ini Lavon?" Edith gemetar saat melihat putri bungsunya yang tubuhnya sangat terluka.

"Mamah, seharusnya mamah tidak pernah melahirkan aku. Seharusnya mamah menggugurkan aku saat masih dalam kandungan." Ucap Lavon sembari melepaskan genggaman tangannya dengan pelan.

Semua orang terdiam dan Edith langsung memegang tangan Lavon tapi dengan cepat Lavon tepis hingga Marcel yang melihat hal itu pun tercengang.

"Lavon! Mamah sudah bilang berulang kali ini bukan salah kamu. Kamu bukanlah kesalahan." Ucap Edith.

"Hentikan mamah! Berulang kali aku memastikan Hoya tidak terluka tapi dia akan tetap terluka karena aku. Papah selalu mengancam Hoya dengan dengan keberadaan ku. Apa mamah pikir ini bukan salahku?!" Tanya Lavon hingga Edith terdiam.

"Lavon, kamu juga anak mamah. Bagaimana bisa mamah menyalahkan ini semua karena kamu sayang." Ucap Edith lirih dengan tangan yang hendak menyentuh wajah Lavon.

Tapi Lavon melangkah mundur untuk menjauhi Edith. Lavon merasa hancur saat menyadari semua penderitaan Edith dan Hoya yang tidak bisa berakhir adalah karena dirinya sendiri.

"Mamah dan papah Sebastian tolong ingat ini." Ucap
Lavon dengan wajah dinginnya.

"Ada apa Lavon?" Tanya Sebastian khawatir.

"Jangan pernah untuk mencegahku jika aku melakukan sesuatu untuk adik-adik ku. Bahkan jika aku melenyapkan seseorang, jangan pernah mencegahku!" Ucapan Lavon sontak membuat Edith dan Sebastian terkejut sekaligus takut.

Mereka berdua teringat saat Lavon yang hampir melenyapkan seseorang yang hampir melecehkan Hoya. Mereka tidak bisa melupakan bagaimana kejadian itu.

Wajah dan baju yang dipakai Lavon penuh darah membuat kenangan itu tidak pernah bisa dilupakan oleh mereka berdua. Kemudian Marcel yang dari tadi diam pun mendekati Lavon.

"Apa maksud lo? Apa lo mencoba membunuh orang yang ingin menyakiti Hoya? Apa lo pikir Hoya akan senang kalau liat saudaranya jadi pelaku kriminal?" Ucap Marcel yang mencoba mengubah pemikiran Lavon.

"Kriminal? Gue sudah melakukan itu sejak lama Marcel. Gue juga seorang penjahat seperti bokap kandung gue. Gue yang menutupi semua bukti masalah Leonid yang amnesia. Gue memanipulasi bukti bokap Jojo untuk mengalahkan bukti bokap gue yang ngejebak dia." Ucap Lavon.

"Tapi-"

"Gue bukan orang suci Marcel. Gue melakukan segala cara hanya melindungi orang-orang gue, meski itu akan menghancurkan gue."

"Lavon! Gue yakin lo bukan iblis seperti semua orang katakan. Karena gue yakin apa yang disayangi Hoya maka itu memang pantas untuk di sayang."

"Gue hanya iblis yang ingin mengembalikan seorang malaikat ke surga yang terjebak di neraka bersama gue." Ujar Lavon dengan air mata yang mengalir di pipinya.

Kemudian Lavon pergi keluar dari kamar Hoya, Sera dan Jojo pun mengikutinya di belakang. Sera dan Jojo sangat khawatir melihat Lavon yang sudah begitu putus asa sejak melihat Hoya yang di pukul oleh Darrel.

Marcel pun hanya bisa terdiam dan mengepalkan kedua tangannya. Marcel berjalan mendekati Hoya yang masih tertidur pulas. Marcel sangat terkejut melihat keadaan Hoya yang begitu menyedihkan.

Rose War (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang