Perasaan yang hangat seperti berada di dalam mimpi yang menyenangkan, rasa hangat dan lembut menggelitik seperti bulu burung merpati yang lembut hingga membuat mata Leonid terbuka.
Leonid membuka matanya dengan sayu dan perlahan melihat sosok yang ada di dalam pelukannya. Perempuan cantik yang sekarang sudah menjadi istrinya.
Hembusan nafas Hoya yang teratur yang menghembus pelan menerpa dadanya membuat dada Leonid berdesir hebat. Wajah damai Hoya membuat Leonid tersenyum, tubuh Hoya yang hangat membuat perasaan Leonid sangat lega.
"Sayang...ayo bangun." Leonid mengusap lembut pipi Hoya.
"Hmmm?" Gumam Hoya dengan mata yang tertutup dengan mengeratkan pelukannya pada Leonid.
"Ayo bangun dulu, sebentar lagi subuh." Leonid mencium kening Hoya hingga membuat mata Hoya terbuka menatap Leonid dengan mata yang masih berat.
"Kenapa kamu sangat tampan? Bahkan sebelum mandi." Hoya mencubit pipi Leonid.
Sedangkan Leonid tertawa karena mendengar Hoya yang begitu terang-terangan memujinya. Tatapan Hoya perlahan melembut dengan tangan yang terulur menyentuh wajah Leonid. Hoya merasa sangat bahagia melihat Leonid disampingnya.
"Leo, jangan pernah tinggalkan Hoya ya. Hoya sudah banyak kehilangan orang yang Hoya sayang." Ucap Hoya dengan suara serak yang tertahan.
Leonid terdiam saat mendengar ucapan Hoya dengan sorot mata yang menyimpan banyak kesedihan dan rasa rindu yang tertahan dalam hati Hoya. Leonid mengangkat sedikit wajah Hoya dan mengecup singkat bibir Hoya.
"Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu Hoya. Kamu belahan jiwaku dan istriku." Ucap Leonid.
"Hoya sangat mencintai Leonid!" Hoya sangat senang mendengar ucapan Leonid. Hoya pun langsung memeluk Leonid dengan erat.
"Leonid juga sangat mencintai Hoya." Balas Leonid tanpa rasa malu.
Kemudian Leonid merubah posisinya untuk duduk dan menarik tubuh Hoya agar ikut duduk. Wajah Hoya dengan mata yang sayu sangat lucu untuk Leonid.
Hingga mata Leonid jatuh pada beberapa bercak merah di leher Hoya dan bibir Hoya yang sedikit bengkak karena ulah dirinya. Malam tadi Leonid sangat brutal menyerang Hoya.
"Leo, you're crazy! How could you turn into an animal overnight?" Runtuk batin Leonid.
Leonid juga berusaha menahan batasannya karena tidak ingin melakukan tindakkan itu sebelum Hoya mengizinkannya. Tapi setiap melihat wajah Hoya, Leonid seperti menjadi iblis yang lapar untuk mengigit Hoya tanpa ampun.
"Apakah sakit?" Tanya Leonid sambil mengusap bibir Hoya yang bengkak.
"Sedikit, tapi lebih ke rasa kebas sih." Jawab Hoya polos sambil menggenggam tangan Leonid.
"Maafkan aku Hoya."
"Nggak papa. Bukankah selama ini kamu menahannya karena aku. Jadi aku tidak akan marah sama kamu." Leonid terdiam saat mendengar ucapan Hoya yang sangat mengetahui perasaan nakalnya.
Hoya awalnya sangat terkejut dengan apa yang dilakukan Leonid malam tadi. Tapi akhirnya Hoya menyadari bahwa Leonid menahan hasratnya selama ini, sentuhan bibir dan tangan yang begitu hati-hati tapi ganas menggambarkan segalanya.
"Aku sangat buruk! Aku seperti binatang dalam semalam." Leonid merasa bersalah saat melihat leher Hoya yang memerah karenanya.
"Hmm...apa yang salah? Kamu melakukannya dengan istrimu sendiri Leo. Itu bukan dosa." Hoya terkekeh geli melihat Leonid yang merasa bersalah.
Leonid pun tertegun kembali mendengar ucapan Hoya yang begitu tidak ada waspada padanya. Bahkan Leonid menahan diri untuk tidak mencium bibir itu yang selalu tersenyum menatapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rose War (END)
FanfictionLeonid Xavier Handomo adalah ketua DEVIL generasi ke-3. Anak bungsu dari dua bersaudara dan anak dari pasangan komandan TNI dan seorang guru. Leonid menjalani hari-harinya seperti biasa, hingga dia mengetahui kebenaran tentang keluarga seorang perem...
