Tangan Kotor

16 8 0
                                        

"Nanti sore aku jemput, kamu jangan terlalu lelah bekerja Hoya." Ucap Leonid pada Hoya yang baru saja keluar dari mobilnya.

"Iya, kamu juga hati-hati. Kamu hari ini sibuk di cafe juga kan." Balas Hoya sambil mengusap lembut kepala Leonid dari balik pintu mobil.

"Iya, kabari aku kalau ada masalah. Jangan lakukan sendirian, tunggu aku datang aja."

"Iya Leo. Baiklah, aku langsung masuk sekarang. Kamu hati-hati." Hoya tersenyum sambil melambaikan tangannya pada Leonid.

Kemudian Hoya pun masuk ke dalam galeri seninya, sedangkan Leonid diam menatap Hoya yang masuk ke dalam dengan sorot mata yang lurus. Setelah memastikan Hoya masuk, Leonid segera melajukan mobilnya pergi dari tempat itu.

Leonid mengendarai mobil dengan santai, Leonid tidak pergi ke cafenya melainkan ke perumahan elit yang sangat megah. Leonid menatap datar lingkungan perumahan itu, hingga mobil Leonid berhenti di rumah minimalis yang sangat besar.

Leonid pun keluar dari mobil dan berjalan menuju rumah itu, satpam yang menjaga rumah itu terkejut melihat Leonid. Leonid pun berjalan tanpa ragu memasuki rumah itu dengan santai.

Saat Leonid masuk, tiba-tiba langkah kaki menghentikan langkah Leonid. Leonid pun berdiri dan melihat sosok laki-laki tua yang mengenakan baju koko sederhana sambil tersenyum hangat pada Leonid.

"Aku sudah menunggu begitu lama untuk melihat cucu bungsuku." Ucap laki-laki tua itu.

Leonid pun menghela nafas panjang sambil menghampiri laki-laki tua itu sambil membantunya berjalan menuju sofa. Kemudian mereka pun duduk di sofa yang berhadapan.

"Kakek, bukankah kakek tidak suka tinggal di Indonesia. Kenapa kakek tiba-tiba disini?" Tanya Leonid.

"Leo, kamu sangat dingin sekali pada kakek. Kita sudah berpisah selama 20 tahun. Apa kamu tidak merindukan kakek?" Ucap laki-laki tua itu dengan nada bercanda.

"Apa maksud kakek? Bukankah kakek selalu mengawasi kami."

"Kamu sama seperti Liam tidak bisa di ajak bercanda. Erzan lebih ramah padaku."

"Kalau begitu aku akan memanggil Erzan sekarang kalau kakek mau. Tapi kakek tau bagaimana reaksi Erzan jika tau kakek ada disini." Balas Leonid tajam.

"Haha kamu sangat pengertian Leo. Liam dan Gita sangat sukses dalam mendidik anak-anaknya."

"Kakek, sampai kapan kakek bercanda? Sebenarnya apa mau kakek." Leonid menatap laki-laki tua itu dengan lelah.

"Aku tidak mengerti apa maksud kamu Leo?"

"Kakek berhentilah untuk mendekati Hoya. Apa maksud kakek dengan membeli terus menerus karya Hoya?" Ucap Leonid tajam.

Laki-laki tua itu hanya tersenyum, laki-laki tua itu adalah Handomo Ibrahim Cayapata dia adalah kakek dari Leonid. Handomo sudah bisa melihat sorot mata Leonid yang tajam karena tidak suka dirinya berhubungan dengan Hoya.

"Aku tidak melakukan apapun pada anak kecil itu. Aku murni sangat menyukainya dan menyukai karya seninya." Ucap Handomo dengan mengangkat gelas tehnya.

Seketika Leonid pun melihat logo LH di bawah gelas itu dan Leonid tau bahwa itu adalah karya Hoya. Leonid juga melihat beberapa keramik dan lukisan di penjuru rumah itu semua milik Hoya.

"Kakek, jangan sampai Darrel mengetahui hubungan kita sebelum Lavon dinyatakan pewaris. Aku tidak ingin Darrel salah paham pada Hoya, aku tidak tau apa yang akan dilakukan Darrel pada Hoya selain memukulnya." Ujar Leonid.

Leonid sangat mengenal Darrel, Darrel jika liputi rasa amarah dia tidak akan ragu untuk memukul atau menampar anak-anaknya. Bahkan Leonid sangat terkejut saat mengetahui dari Jojo bahwa Darrel pernah memukul Hoya menggunakan tongkat golf.

Rose War (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang