Suasana hening dan dingin terasa di kamar Hoya, malam yang terasa panjang membuat Leonid tanpa sadar tertidur dengan posisi duduk di samping Hoya sambil menggenggam tangan Hoya lembut.
Terlihat mata Hoya perlahan terbuka dengan mata yang berat. Tapi mata Hoya menajam hingga kesadarannya pun kembali. Hoya terkejut melihat Leonid tertidur sambil menggenggam tangannya, Hoya juga bisa melihat wajah lelah dan mata yang bengkak.
"Leo..." Panggil Hoya pelan sambil mengusap tangan Leonid.
Leonid seketika langsung terbangun saat mendengar suara Hoya yang menyebut namanya. Leonid menatap Hoya dengan seksama, meneliti wajah Hoya yang sekarang menatapnya lembut.
"Leonid, kenapa kamu ada disini? Apa kamu langsung kesini saat pulang dari Surabaya? Kamu pasti sangat kelelahan." Hoya yang sekarang sudah duduk menghadap Leonid dengan perasaan menyesal.
"Mata kamu sangat bengkak Leo. Kamu sangat kelelahan tapi kamu tetap menemuiku ke sini." Tangan Hoya terulur menyentuh wajah Leonid.
Leonid hanya diam, perasaan yang seperti di roller coaster membuat Leonid tidak percaya bahwa Hoya menyebutkan namanya lagi. Hingga perasaan itu tidak tertahankan lagi, Leonid menarik pelan tubuh Hoya dan memeluknya erat.
Hoya sangat terkejut, Leonid yang sedari tadi diam tiba-tiba memeluknya. Hoya berusaha merenggangkan pelukannya tapi Leonid semakin mengeratkan pelukannya. Perasaan khawatir pun seketika muncul, karena Hoya bisa merasakan tubuh Leonid yang dingin dan gemetar memeluknya.
"Leo.."panggil Hoya hati-hati.
"Sebentar. Aku mohon sebentar saja seperti ini Hoya. Tolong peluk aku dan sebut namaku." Pinta Leonid lirih.
Ini pertama kalinya Hoya mendengar Leonid seperti sangat terpuruk. Hoya selalu merasa nyaman dalam pelukan Leonid, tapi pelukan sekarang terasa seperti perasaan takut dan itu membuat perasaan bersalah itu pun menghinggapi Hoya.
"Leonid, apa aku membuatmu marah? Tolong maafkan aku. Aku sungguh tidak tau apa yang membuatmu sedih seperti ini." Hoya mengeratkan pelukannya pada Leonid.
Leonid yang mendengar suara Hoya yang menahan tangis pun merenggangkan pelukannya dan menatap Hoya. Leonid akhirnya bisa bernafas lega saat Hoya kembali mengingatnya.
Aroma mawar yang harum dan sorot mata Hoya yang tertuju padanya membuat Leonid akhirnya menyadari bahwa Hoya-nya sudah kembali padanya. Air mata Hoya yang jatuh seperti serpihan kaca yang menusuknya.
Perlahan Leonid menarik kepala Hoya untuk mendekatinya. Jarak wajah yang sangat dekat hingga hembusan nafas Leonid beraroma mint menerpa wajah Hoya seketika dada Hoya berdegup kencang.
"Le-Leo...apa yang kamu lakukan?" Tanya Hoya yang gugup.
"Menurutmu apa yang aku lakukan?" Tanya Leonid yang semakin mengikis jarak wajah mereka berdua.
Hoya menarik wajahnya untuk menjauh, tapi Leonid menahan tengkuknya. Degupan dada Hoya yang semakin tidak karuan dengan tangan Hoya yang mencengkram kuat selimut dengan gelisah membuat Leonid tersenyum puas.
Hoya melirik ke arah pintu kamarnya yang terbuka dan Hoya pun yakin bahwa Leonid tidak akan melakukan apapun yang Hoya tidak sukai. Leonid yang sadar Hoya menatap pintu kamar yang terbuka pun tersenyum tipis.
Perlahan Leonid semakin mengikis jarak wajahnya hingga membuat Hoya tanpa sadar menutup matanya. Leonid menghela nafas lega karena melihat wajah Hoya yang ada dihadapannya tanpa menghindar seperti sebelumnya.
"Dia sangat imut, hingga aku lupa semua perkataannya sebelumnya." Ucap batin Leonid.
Leonid menyentuh rahang Hoya dengan lembut hingga tubuh Hoya merasakan desiran panas, kemudian Leonid mencium pipi Hoya lembut hingga mata Hoya terbuka lebar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rose War (END)
Fiksi PenggemarLeonid Xavier Handomo adalah ketua DEVIL generasi ke-3. Anak bungsu dari dua bersaudara dan anak dari pasangan komandan TNI dan seorang guru. Leonid menjalani hari-harinya seperti biasa, hingga dia mengetahui kebenaran tentang keluarga seorang perem...
