Perasaan Aneh

67 26 0
                                        

Malam ini terlihat Hoya dan Lavon sedang bersantai di sebuah cafe. Lavon menatap Hoya dengan bingung, karena sedari tadi Hoya hanya diam melamun sambil mengaduk minumannya.

"Lo kenapa Hoya? Apa ada masalah lagi lo sama Leonid? Atau Amir ganggu lo lagi?" Tanya Lavon khawatir.

"Lavon? Gue baik-baik aja kok." Ujar Hoya yang sudah tersadar lari lamunannya.

"Apa lo mulai bohong sama gue? Lo sudah banyak membohongi gue Hoya? Apa gue nggak bisa lo percaya?" Lavon menatap Hoya dengan wajah sedih.

"Lavon, bukan kaya gitu. Lo orang yang paling gue percaya, kenapa lo ngomong kaya gitu ke gue."

"Kalau gitu cerita sama gue, kenapa lo dari tadi cuman diam dengan wajah khawatir lo. Gue takut kalau lo melakukan apa-apa tanpa sepengetahuan gue lagi Hoya." Hoya yang mendengar itu pun menghela nafas pelan.

Hoya tau apa yang dirasakan oleh Lavon, Hoya selalu merasa bersalah pada Lavon karena selalu membuat kekacauan yang harus membuat Lavon menderita.

"Maafkan gue Lavon, gue sudah mengecewakan lo. Baiklah, gue akan cerita sama lo." Ujar Hoya sambil menggenggam tangan Lavon yang ada di atas meja.

Lavon pun tersenyum manis dan kemudian mencubit pipi Hoya gemas. Pemandangan manis itu tidak luput dari pandangan orang-orang yang ada di cafe.

Mereka melihat Lavon dan Hoya seperti pasangan yang sedang romantis. Mereka tidak tau bahwa mereka adalah adik dan kakak. Sorot mata iri terlihat jelas mengarah ke arah Hoya yang mendapat perlakuan manis dari Lavon.

"Lavon, beberapa hari yang lalu gue sama mamah makan siang bersama kan. Apa lo ingat?" Ucap Hoya.

"Iya, yang gue nggak bisa ikut karena ada rapat di kantor itu kan." Ujar Lavon dan Hoya pun menganggukkan kepalanya.

"Terus kenapa? Apa ada Rena disana dan ganggu lo berdua?!"

"Jika saja itu Rena, gue udah nggak terkejut lagi."

"Jadi?" Lavon menatap Hoya dengan perasaan penasaran.

"Waktu di restoran, mamah nggak sengaja nabrak Marcel disana. Tapi yang mengejutkan adalah mamah tiba-tiba nangis saat melihat wajah Marcel." Seketika Lavon terkejut saat mendengar ucapan Hoya.

"Apa? Marcel?" Tanya Lavon untuk memastikannya.

Hoya pun menganggukkan kepalanya dan seketika wajah Lavon memucat. Hoya yang melihat wajah tegang Lavon pun bingung dan mengerutkan keningnya.

"Gue bingung kenapa mamah nangis ketika liat wajah Marcel. Apa Marcel juga pernah jadi korban papah makanya mamah nangis karena merasa bersalah." Ucap Hoya.

"Apa mamah ada ngomong sesuatu sama lo?" Tanya Lavon.

"Nggak ada, maka dari itu gue bingung. Apa yang terjadi sebenarnya sama mamah Lavon? Gue khawatir." Hoya menggenggam erat tangan Lavon.

Lavon pun terdiam saat melihat wajah kebingungan dan kekhawatiran adik perempuannya itu. Tapi Lavon tidak bisa mengatakan yang sebenarnya.

Alasan Edith yang menangis karena sangat merindukan anak laki-lakinya yang sudah terpisah lama yang bahkan Hoya tidak mengetahui bahwa Marcel adalah kembarannya.

"Hoya, jangan terlalu khawatir. Mamah mungkin hanya merasa lelah. Lo juga tau selama lo sakit mamah berusaha menjaga galeri seni agar tetap ditangan lo di saat Rena berusaha mengambilnya." Ucap Lavon berbohong.

"Tapi yang membuat gue bingung kenapa mama nangis saat melihat wajah Marcel."

"Mungkin disaat mamah nggak sengaja nabrak Marcel, emosi mamah tidak tertahankan lagi. Maka dari itu Hoya, kita harus melindungi mamah. Jangan terlibat masalah sama DEVIL."

Rose War (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang