Bisikan Iblis

98 28 1
                                        

Sudah dua hari berlalu semenjak Hoya bertemu Darrel di ruang makan saat sedang membuat cake. Sekarang Hoya sedang berjalan menuju ruangan Lavon.

Karena sudah dua hari Lavon tidak pulang ke rumah, Lavon sangat sibuk karena mempersiapkan proyek yang sedang dia kerjakan. Hoya yang khawatir pun berinisiatif untuk menemui Lavon di kantornya.

"Lavon." Panggil Hoya sambil membuka pintu ruangan Lavon.

"Hoya? Lo kesini?!" Ucap Lavon yang sangat terkejut melihat Hoya dihadapannya.

"Hoya?" Ucap Ethan yang sama terkejutnya dengan Lavon yang melihat keberadaan Hoya.

"Lo kenapa ninggalin gue sendirian di rumah? Gue bosan." Ucap Hoya yang langsung duduk di sofa.

Lavon yang mendengar ucapan Hoya pun merasa bersalah karena sudah meninggalkan Hoya sendirian di rumah. Lavon berdiri dan berjalan mendekati Hoya.

Lavon merendahkan tubuhnya sambil memegang tangan Hoya. Hoya yang duduk pun hanya diam menatap Lavon dengan tatapan kosong. Lavon tau bahwa telah terjadi sesuatu di rumah saat dirinya tidak ada.

"Hoya, maafkan kakak. Kakak tidak tau kalau Hoya kesepian saat kakak tidak ada." Ucap Lavon lembut.

Hoya tau bahwa sekarang Lavon merasa bersalah padanya. Karena Lavon akan berbicara dengan menggunakan sebutan kakak maka Lavon sedang merasa bersalah.

"Baiklah." Hoya menganggukkan kepalanya sambil mengusap kepala Lavon.

Ethan yang melihat hal itu pun tersenyum dan merasa iba saat melihat hubungan dua bersaudara yang begitu saling mengasihi. Tapi yang membuat Ethan sedih adalah dua bersaudara itu harus menderita karena keluarga sendiri.

"Gue harap mereka mendapatkan kebahagiaan itu, gue ingin liat Hoya tersenyum kembali seperti dulu." Ucap batin Ethan.

"Sebagai permintaan maaf gue, gimana hari ini kita nonton pertandingan Geo. Gue rasa dia bakalan senang kalau lo nonton dia." Ucap Lavon sambil mengusap kepala adik perempuannya itu.

"Baiklah, kalau gitu gue mau. Gue bosan di rumah, setidaknya lo sama kak Ethan sekarang nemanin gue." Ucap Hoya.

"Baiklah, sekarang jangan marah lagi." Lavon mencubit gemas pipi Hoya.

"Hoya, ayo kita tunggu Lavon di mobil aja. Dia harus menyelesaikan tanda tangan itu sebentar lagi." Ethan mengulurkan tangannya pada Hoya.

Hoya pun menerima uluran itu dengan baik. Ethan merangkul pundak Hoya untuk meninggalkan ruangan Lavon. Tapi saat di dekat pintu, Hoya berbalik menatap Lavon yang menatapnya dengan senyuman.

"Awas aja lo lama turun kebawah, gue bakalan marah sama lo." Ujar Hoya dan membuat Lavon tertawa.

Hoya pun mendengus kesal, dan Ethan tersenyum manis melihat tingkah Hoya yang lucu karena kesal. Kemudian Hoya dan Ethan keluar dari ruangan Lavon.

Dan detik itu juga wajah Lavon berubah menjadi dingin, Lavon berjalan menuju meja kerjanya dan menatap surat perjanjian yang baru saja di berikan oleh pengawal Darrel pagi tadi.

Surat perjanjian itu adalah surat perjanjian bahwa Darrel akan membiarkan Hoya memegang kendali Galeri Rebecca asalkan Lavon memberikan 10% saham miliknya pada Rena.

"Hal ini jangan sampai diketahui oleh Hoya, jika dia tau maka dia akan sangat marah." Ucap Lavon.

Lavon pun menandatangankan surat perjanjian itu, karena Lavon tau bahwa Galeri Seni Rebecca adalah hal yang sangat penting untuk Hoya. Karena itu adalah tempat dimana dirinya merasakan seperti berada di pelukan Edith.

"Sebenarnya kenapa papah memberikan ruang pada Rena di dalam saham Hutagalung? Sebenarnya apa yang direncakan oleh papah." Lavon sangat bingung.

Lavon tau bahwa Darrel tidak pernah menganggap Rena sebagai istrinya, tapi sekarang Lavon heran karena Darrel memberikan ruang pada Rena dalam saham Hutagalung.

Rose War (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang