"Nona muda apa anda yakin ingin dirawat dirumah saja? Dokter sangat menentang keputusan anda ini." Ucap Jerome yang sekarang membantu Hoya duduk di kursi roda.
"Aku sudah sangat sibuk sekarang, aku harus menyelesaikan rencana pameran ku. Bahkan Lavon juga sangat sibuk dan aku harus membantunya." Ucap Hoya.
"Tapi nona muda-"
"Hoya?! Kamu mau kemana?" Ucap Leonid yang tiba-tiba muncul dan langsung menghampiri Hoya dengan wajah ketakutan.
"Leonid? Kenapa kamu baru datang, aku sudah lama menunggu." Hoya menatap Leonid dengan perasaan sedikit kecewa.
"Maafkan aku, bunda dan Abang Erzan datang ke Jakarta. Jadi aku harus menemani mereka dulu. Maaf aku datang terlambat." Leonid mengusap lembut pipi Hoya.
Hoya pun tersenyum tipis dan perlahan mengambil tangan Leonid dan menggenggamnya erat.
"Kalau alasan itu aku nggak bisa marah, karena itu kewajiban kamu. Mereka lebih penting dari pada aku." Ujar Hoya tersenyum ramah.
Tapi berbeda dengan Leonid yang menatapnya lurus dengan perasaan khawatir dan ketakutan. Leonid masih bisa melihat wajah pucat Hoya.
Leonid tidak bisa melawan permintaan Gita yang memintanya untuk pulang ke Surabaya untuk terapi, tapi Leonid juga tidak bisa meninggalkan Hoya.
Leonid takut jika kejadian seperti beberapa waktu yang lalu akan terulang kembali. Wajah pucat dan mulut yang di penuhi darah tidak bisa Leonid lupakan.
"Hoya, kamu juga penting di hidupku." Ucap Leonid pelan.
Hoya pun terdiam saat melihat wajah Leonid yang terlihat gelisah. Kemudian Hoya menatap Jerome singkat dan seketika Jerome pun paham untuk segera pergi meninggalkan mereka berdua.
"Leonid, apa terjadi sesuatu pada bunda? Kamu terlihat sangat gelisah." Hoya merasa khawatir melihat Leonid yang menatapnya.
"Hoya, aku harus kembali ke Surabaya dalam waktu dekat." Ucapan Leonid membuat Hoya terdiam membeku.
Tapi detik kemudian Hoya tersenyum tipis dan menggenggam erat tangan Leonid. Hoya merasa sedih tapi Hoya tidak ingin membuat Leonid semakin gelisah.
"Leonid, aku bisa menjaga diriku dengan baik. Banyak orang yang menjagaku jadi kamu jangan khawatirkan aku." Ucap Hoya.
"Aku tidak bisa mempercayai siapapun untuk menjaga kamu Hoya. Kenapa waktu seakan menekan kita? Aku hanya ingin hidup tenang bersama kamu Hoya." Ujar Leonid dengan suara yang lirih
"Maaf Leo, jika saja papah tidak pernah melukai kamu dan keluarga kamu mungkin perasaan bersalahku tidak sebesar ini."
"Hoya, apa kamu bisa melupakan galeri seni Rebecca dan berhenti mengkhawatirkan posisi Lavon?"
"Aku tidak bisa melakukan itu Leo, dua hal itu sangat berarti untukku."
"Baiklah, kalau begitu aku akan merebutnya untukmu. Tapi kamu harus tau suatu hal Hoya." Ucapan Leonid membuat Hoya bingung dan tidak mengerti.
"Apa Leo?"
"Jangan mudah mempercayai siapapun, padaku dan sekalipun dengan keluarga kamu sendiri Hoya."
"Kenapa kamu mengatakan itu?" Hoya tidak mengerti kenapa Leonid seakan mengatakan semua tidak bisa di percaya.
Leonid menyentuh lembut wajah Hoya dan kemudian memasangkan sebuah jepit rambut. Hoya pun terdiam karena merasa gugup karena nafas Leonid terasa jelas di leher Hoya.
"Aku mengatakan itu bukan berarti semua orang tidak bisa di percaya. Tapi semua manusia tidak mengatakan kejujuran 100% Hoya. Seperti yang kamu tau bahwa ada sesuatu yang aku sembunyikan dari kamu." Ucap Leonid.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rose War (END)
FanfictionLeonid Xavier Handomo adalah ketua DEVIL generasi ke-3. Anak bungsu dari dua bersaudara dan anak dari pasangan komandan TNI dan seorang guru. Leonid menjalani hari-harinya seperti biasa, hingga dia mengetahui kebenaran tentang keluarga seorang perem...
