Heart to Heart

29K 625 0
                                        

Happy Reading
❤️‍🔥❤️‍🔥❤️‍🔥
*****

Clarissa masuk ke dalam ruangan sang atasan sembari membawa teleponnya dengan tergesa-gesa. Darren sampai dibuat kesal karena suaranya membuka pintu itu keras sekali.

"Clarissa-"

"Jangan marahin saya, Pak! Ini telepon untuk Bapak! Genting! Darurat kuadrat ini!" heboh Clarissa panik.

Darren mendengus. "Siapa yang telepon?" tanyanya.

"Pak David," cicit Clarissa.

Darren semakin menatap sekretarisnya itu dengan tatapan dendamnya. "Saya udah bilang. Kalau Ayah saya telepon itu bilang saya nggak ada-"

"Clarissa! Kamu udah kasih Darren atau belum?! Apa mau saya ganti aja kamu sama sekretaris lain?!"

Dengan sangat terpaksa, Darren mengulurkan tangannya pada Clarissa. Sekretaris yang terancam itu menyerahkan ponselnya dengan tangan gemetar. Clarissa memang tidak begitu takut dengan atasannya, tapi jika berhadapan dengan bapaknya, ia undur diri.

Darren menerima ponsel itu dan ia dekatkan ke telinganya. "Pah, telepon ke Darren aja."

TIT

Darren mengembalikan ponsel itu ke pemiliknya. "Kamu keluar."

"Siap, Pak!" serunya dan berlari meninggalkan ruangan.

Darren sudah sengaja mematikan tidak menyalakan notifikasi agar ia tidak berurusan dengan ayahnya yang menelepon. Dari kemarin ayahnya itu selalu saja menelepon dan menanyakan kekasihnya.

"Halo, Pah?"

"Kamu itu sengaja apa gimana nggak angkat telepon Papah?"

Darren mendengus. "Kenapa?"

"Kamu katanya mau temuin Papah sama pacar kamu itu, tapi mana? Sampai sekarang nggak ada rencananya tuh."

Darren memijat dahinya jengah akan pembicaraan yang itu-itu terus. "Harus, kah Darren jelasin ke Papah lagi? Waktunya belum tepat, Pah. Nanti aja. Darren harus bicarain dulu sama pacar Darren."

"Kamu ini nggak bohong, kan? Kamu beneran punya pacar, kan?"

"Masa Darren bohong? Papah maunya Darren nggak punya?" balas Darren.

"Kalau kamu nggak punya, Papah ada Agatha yang suka dan mau sama kamu. Om James juga temen deket Papah, jadi kamu kalau sama dia bisa langsung nikah."

Pembicaraan yang tidak jelas, pikirnya. "Darren tutup. Ada meeting."

TIT

Darren mendesah panjang. Jika Athalia melihatnya mematikan sambungan telepon sepihak kepada orang tua seperti itu, kemungkinan Darren masih ada didunia itu mungkin 1 : 1.000.

*****

Malam ini hujan lebat dan Darren sedang dalam perjalanan pulang. Laki-Laki itu memang sedang sibuk-sibuknya sehingga beberapa hari ini ia selalu lembur.

HELLO, MR.EX! (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang