Happy Reading
🤘🤘🤘
*****
Tinggalah Darren sendiri di lokasi untuk memastikan bahwa semuanya telah dibawa oleh polisi dan tidak ada yang tersisa. Darren sudah menitipkan Athalia pada Agatha juga Atlas. Dia menyuruh mereka untuk pergi terlebih dahulu karena dia harus memastikan bahwa semuanya sudah teratasi dengan baik.
Darren menghampiri kepala polisi yang sudah bersedia membantunya untuk mengucapkan rasa terimakasihnya. "Terimakasih, Pak." Darren mengulurkan tangannya pada kepala polisi yang bertugas.
Polisi itu membalas uluran tangan Darren dengan senyuman tipis di wajahnya. Ia menepuk bahu Darren beberapa kali sebelum melepas jabatan tangannya. "Bukan masalah. Orang tua kamu sudah banyak membantu saya, jadi ini bukan masalah. Sudah tugas kami juga."
Darren mengangguk sambil tersenyum. "Kalau begitu saya pamit, Pak."
"Iya, hati-hati."
Setelah berpamitan, Darren masuk ke dalam mobilnya dan tanpa mengulur waktu lagi, ia menancap gas menuju rumah sakit di mana salah satu wanita yang menjadi korban tadi dibawa. Ia harus memastikan keadaan wanita itu karena nampaknya dia tidak memiliki siapapun setelah pihak seorang polisi yang menemaninya tadi menelepon.
*****
Athalia kini sudah bersama David juga Adeline. Atlas dan Agatha masih menemani Athalia di sini. Mereka duduk di sofa panjang ruang tengah dengan pakaian yang sudah diganti. Athalia dan Agatha sudah bersih-bersih dan sudah mengenakkan sepasang pakaian tidur.
"Kalian beneran gak apa-apa, kan?" tanya Adeline sembari meletakkan tiga cangkir coklat hangat untuk Agatha, Atlas, dan Athalia di meja tamu.
"Aman, Tante," ujar Agatha menjawab. "Ini aku minum, ya, Tante, Om," lanjut Agatha.
Adeline mengangguk. "Silakan."
Adeline mengalihkan perhatiannya pada kekasih anaknya yang diam saja sedari tadi. Adeline mengambil tempat duduk kosong di sebelah Athalia. Dia merangkul tubuh Athalia dan mengusap bahunya.
"Kenapa kamu, Nak?" tanya Adeline.
Athalia menggeleng pelan sambil tersenyum menatap Adeline. "Maafin Athalia. Karena Athalia semuanya jadi repot."
Agatha menepuk paha gadis itu begitu mendengar Athalia berbicara seperti itu sembari meletakkan cangkirnya ke meja tamu. "Apaan sih, Thal? Gak ada yang repot. Lagian, berkat lo juga kita berhasil nangkep James dan antek-anteknya."
Adeline mengelus rambut calon menantunya itu. "Kamu kalau ngomong gitu di depan Darren, dimarahin kamu. Yakin Mama."
"Lebih baik kalian beristirahat. Sudah malam. Agatha, di lantai 1 ini masih ada kamar tamu yang kosong. Pakai saja dulu," ujar David.
Agatha mengangguk. "Baik, Om."
Atlas bangkit dari duduknya dan menarik tangan Agatha. "Ke kamar duluan, ya Om, Tante."
Agatha melebarkan matanya sebelum menghempaskan tangan kekasihnya. Ia menatap kedua orang tua temannya itu dengan senyuman canggungnya.
"Ada dua kamar, kan, ya, Om?" tanya Agatha.
David terkekeh kecil. "Hanya satu. Tapi, di kamar tamu itu twin bed. Jadi ada dua ranjang di kamar itu."
KAMU SEDANG MEMBACA
HELLO, MR.EX! (END)
RomantikFOLLOW SEBELUM MEMBACA!!! ***** Banyak hal tak terduga terjadi di dalam hidup seorang perempuan cantik juga sederhana berusia 24 tahun bernama Athalia Aliesha. Termasuk momen ketika dirinya dipertemukan kembali dengan satu laki-laki yang tidak perna...
