Lembaran demi lembaran kisah akan terisi penuh lewat setiap jejak kaki pada kenangan yang diciptakan. Kendati demikian Ghaitsa tidak begitu menikmati hidup 17 tahun seorang gadis versinya.
Nomor dua pernah berujar, "Hidup itu seperti kolor. Awalnya...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
─── ・ 。゚☆ : .☽☽☽. : ☆゚• ───
HARI baru bergulir, matahari menyingsing menghantar hangatnya pada dunia, kicauan burung juga hadir menemani bak melodi dan perlahan-lahan, kesadaran kembali mengetuk raga. Iris tersebut menatap lurus pada tirai jendela yang menghalangi cahaya mentari, tanda ini memperjelas situasi di mana Ghaitsa mengakhiri konversasi kemarin dengan terlelap dalam dekapan dua kembaran. Hembusan napas berat pun mengudara, merasa sebal tanpa dasar dan satu-satu hal yang bisa puan tersebut lakukan ialah menenggelamkan diri dalam selimut. Tentu saja, ia frustasi dengan darinya sendiri. Jangankan penyelesaian masalah, bahkan Ghaitsa sendiri tidak dapat menahan diri dari kebiasaan tidur usai menangisㅡhei, setidaknya tidak dalam situasi genting juga, bukan? Semakin di ingat, semakin pula ia jengkel bukan kepalang.
Jika begini adanya, gadis itu sulit untuk memperkirakan langkah berikutnya. Ia belum mendapatkan solusi masalah, maka dari itu bertindak seolah-olah tidak ada yang terjadi di antara mereka justru akan terasa canggung sekali. Ghaitsa tidak mau sarapan sembari menahan sakit perut efek gangguan pencernaan lantaran saking gugupnya. Atau mengambil opsi langsung pergi ke sekolah dengan mengabaikan empat kakak laki-lakinya justru akan seperti ia tengah mengisyaratkan bahwa perang dingin masih berlanjut. Dan itu berarti, percakapan mereka di lapangan perumahan kemarin sore sama sekali tak memiliki arti.
Ya Tuhan! Mengapa alur hidupnya sangat sulit sekali?! Keinginannya begitu sederhana. Tidak muluk-muluk. Apa tidak bisa di permudah saja, Ya Tuhan? Yah, mau di katakan bagaimana juga, Ghaitsa sendiri yang menyulut api dalam keluarga mereka. Jadi, ujung-ujungnya Ghaitsa cuma bisa menyalahkan diri sendiri. Introspeksi diri dan berjanji kepada diri sendiri untuk berpikir matang-matang sebelum bertindak di masa depan yang akan datang.
Satu sekon kemudian, usai memastikan diri sudah merasa jauh lebih tenang dan dapat segera menggunakan otaknya untuk berpikir rasional. Ghaitsa baru saja menyibak selimut saat pintu kamar terbuka, cukup kuat malahan. Hening menyambar. Haidden mematung dengan masih menggenggam gagang pintu dan mendekap nampan berisi susu, ia tampak seakan seperti maling yang tertangkap basah ingin mencuri oleh tuan rumah. Sementara Ghaitsa juga berhenti bergerak dari niat awal turun dari ranjang. Sama-sama mematung, memandang kaku, mata saling terkunci satu sama lain dan kecanggungan ini benar-benar mencekik kalau-kalau sang kakak nomor dua tidak memaksakan diri guna mencairkan suasana.
"O-oh, udah bangun kamu ternyata." Mengelus tengkuk, melempar senyum kikuk dan pelan-pelan mendekati. "Abang baru aja mau bangunin kamu," sambungnya kemudian, menyodorkan segelas susu pada sang bungsu dan bergegas menyibak tirai jendela. "Abang kira kamu masih tidur. Gimana? Tidurnya nyenyak?"
Ghaitsa mencengkeram gelas amat kuat, resah perlahan-lahan memeluk jantung. Ia mengangguk kaku, "Ny-nyenyak, kok. Iya, nyenyak."
"Abang kemarin makan masakan kamu. Udah lama tapi rasanya masih enak, hehe.""Oh, gitu. Syukur, deh."