Chapter-11

3.8K 221 1
                                        

Biru tengah membawa kamera kecil di tangannya.

Dia tengah memotret si hitam yang tengah menjilati bulunya. Merasa pemandangan itu berharga, Biru memotret itu dari berbagai arah. Kemudian dia bermain dengan si hitam. Si hitam yang telah kenyang itu, dengan malas-malasan berbaring di atas tanah.

"Ternyata kamu sudah memberinya makan," suara Galang datang dari belakang.

Biru menoleh dan mendapati Galang membawa paperbag berukuran besar.

"Kamu bawa apa?" Tanya Biru penasaran.

"Aku tadi pergi untuk membeli makanan kucing. Tapi ternyata aku datang di waktu yang salah," jelas Galang.

"Eh, padahal kamu tidak perlu membeli sebanyak itu." Ucap Biru. Melihat isi dari paperbag. Isinya mulai dari makanan kucing berbagai merek dan jenis.

"Itu terlalu banyak untuk si hitam," ucap Biru.

"Kalau begitu ini untukmu," balas Galang.

"Aku tidak makan makanan kucing," kata Biru sambil terkekeh pelan.

Galang merasa malu karena salah bicara, jadi dia segera menjelaskan, "Maksudku. Kamu simpan ini dan berikan kepada si hitam untuk nanti."

"Baiklah, terima kasih banyak." Jawab Biru sambil menerima kantong yang berat itu.

"Kamu tengah apa? Dan untuk apa kamera di tanganmu itu?" Tanya Galang sambil menunjuk kamera kecil dan terlihat usang di tangan Biru.

"Aku suka memotret. Kadang kala jika aku merasa bosan belajar, aku akan mulai memotret sesuatu. Bisa hewan, tanaman atau apapun itu," jelas Biru kepada Galang.

"Kamu bosan belajar?" Wajah Galang tampak tidak percaya dengan ucapan Biru.

Biru mengangguk, dia pun menjawab, "Tentu aku adalah manusia biasa yang bisa bosan kapanpun."

"Aku kira kamu adalah robot belajar," balas Galang.

"Terima kasih untuk pujiannya," Biru menanggapi itu dengan penuh rasa positif. Tidak menganggapnya sebagai hal negatif.

"Bisakah aku melihat fotonya?" Tanya Galang.

"Tidak usah. Foto yang aku ambil tidak sebagus photografer profesional. Ini hanya sekedar hobi saja," jawab Biru sambil menggaruk tengkuknya. Dia merasa malu menunjukan hasil gambarnya kepada orang lain. Karena selama ini, dia hanya menikmati ini sendirian.

"Aku yang memutuskan sendiri apa itu bagus atau tidak, jadi berikanlah. Biarkan aku melihatnya." Pinta Galang dengan kukuh. Selama beberapa saat Biru masih enggan, tapi melihat wajah Galang yang menunggu, Biru memberikan kamera itu dengan perasaan berat kepada Galang.

"Jika fotonya jelek. Jangan hujat aku," ucap Biru sambil menunduk.

Galang mengambil kamera Biru dan menjawab, "Aku tidak akan pernah melakukannya."

Setelah itu Galang sibuk dengan kamera Biru. Sedangkan Biru sibuk dengan perasaan gugup dan gelisah. Dia menunggu tanggapan Galang dengan was-was.

"Bagus."

Suara Galang itu, bagaikan angin segar bagi Biru. Biru dan Galang saling bertatapan. Biru mendekat dan berseru, "Benarkah? Apa itu bagus?"

"Ya. Menurutku ini bagus," ucapan Galang sudah bisa membuat Biru tersenyum lebar. Biru merasakan kalau momen ini adalah salah satu momen yang membahagiakan seumur hidupnya. Biru sampai tidak bisa menahan kegembiraan dan melompat tanpa sadar.

"Terima kasih! Aku lega mendengarnya!"

Galang membeku selama beberapa saat. Ekspresi Biru kali ini begitu bebas. Tidak seperti biasanya, yang mana walaupun tersenyum tipis, Biru seperti tengah menahan sesuatu di dalam sana.

Tapi Biru sekarang begitu ekspresif. Dia sampai mengangkat si hitam ke atas. Dan memberikan Galang tatapan yang menunjukan kalau dia tengah bahagia sekarang ini.

Setelah beberapa saat, Biru akhirnya sadar kalau dia terlalu heboh. Dia menurunkan si hitam yang sudah merasa pusing di putar-putar olehnya. Dia mendekati Galang dan berkata, "Maaf. Pasti aku terlihat kekanakan."

Galang membalas dengan senyuman hangat sambil memegang pipi Biru, "Tidak apa. Justru aku senang melihat kamu bahagia. Senyuman kebar itu sangat cocok di wajahmu. Jadi, sering-seringlah tersenyum."

Biru mengangguk pelan, kemudian menunduk. Dia merasa malu, dan tahu kalau sekarang ini pipinya sudah memerah.

"Aku mengatakan ini bukan dari kacamata orang awam. Aku sungguh-sungguh mengatakan kalau foro yang kamu ambil semuanya bagus. Gambar itu seolah memberikan kesan sendiri yang bisa membuat orang tertarik untuk melihatnya," jelas Galang setelahnya.

"Walaupun hasil gambarnya tidak sejernih kamera mahal, tapi ini membawa kesan unik. Aku suka," ucap Galang dengan mantap.

Biru mengangguk puas. Dia merasa sudah cukup senang dengan pujian Galang. Dia yakin Galang mengatakannya dengan sungguh-sungguh, dan bukannya mengada-ngada.

"Tampaknya kamu tahu banyak daripada aku?" Tanya Biru.

"Karena aku berada di fakultas seni rupa," jawab Galang.

"Seni rupa?" Tanya Biru memastikan.

"Iya," jawab Galang lagi.

"Aku tidak menyangka kamu berada di fakultas seni rupa," jawab Biru.

"Aku tahu itu, karena banyak orang yang kaget." Ucap Galang.

"Tidak. Maksudku bukan hal negatif. Aku rasa kamu cocok berada di fakultas itu. Kamu tampaknya sangat berbakat di bidang itu. Walaupun tidak menutup kemungkinan kamu bisa cocok di segala bidang. Aku yakin, kamu bisa melakukan semuanya!" Biru berusaha menjelaskan, tapi dia jadi berbicara kemana-mana.

Biru dan Galang, walaupun mereka sudah dekat selama dua minggu terakhir, Biru tidak bertanya Galang dari fakultas apa, dan Galang tidak repot-repot memberitahunya.

"Jika kamu berada di fakultas seni rupa, kamu berada di level yang berbeda denganku. Aku yakin, kamu lebih jago daripada aku." Kata Biru.

"Tidak terlalu. Aku lebih menggemari melukis. Membuat sesuatu yang baru," bantah Galang.

Biru langsung membayangkan bagaimana sosok Galang yang tinggi itu duduk selama berjam-jam, memegang kuas yang bergerak kesana kemari di atas kanvas. Tampaknya itu pemandangan bagus.

"Aku penasaran dengan lukisan yang kamu hasilkan," ucap Biru setelahnya.

Galang menyeringai, kemudian berkata, "Jika kamu penasaran, mau datang ke studio ku nanti?"

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang