Biru sudah tidak sabar menunjukan hasil jepretannya kemarin kepada Galang. Dia tidak sabar melihat reaksi Galang nantinya. Biru harap Galang akan suka.
Biru menaruh semua foto yang telah dicetak itu ke dalam tas miliknya. Sepanjang perjalanan menuju kampus, Biru sudah tidak bisa menahan lagi senyuman lebarnya.
Dia begitu senang dan bersemangat. Tidak sabar untuk segera bertemu dengan Galang.
Seolah-olah Tuhan mendengarnya, itu segera terkabulkan. Dia melihat Galang yang tengah duduk di tangga gedung fakultas seni rupa. Biru semakin tersenyum lebar, dia berteriak dan melambaikan tangannya.
"Galang!" Serunya.
Galang menoleh sebentar lalu menarik lagi tatapannya. Biru merasa ada yang aneh disini. Tapi dia tidak terlalu memusingkan itu. Dia segera berlari dan menghampiri Galang.
"Pagi, Galang!" Ucapnya sehangat cahaya matahari pagi.
"Aku senang sekali bisa segera bertemu denganmu, sudah semalaman aku menunggu momen ini!" Seru Biru dengan semangat penuh. Namun melihat respon Galang yang tidak menatapnya sama sekali membuat Biru bertanya-tanya.
"Ya, aku juga menunggu momen ini," katanya acuh tak acuh.
"Galang, ada apa?" Tanyanya hati-hati.
Baru saat itulah Galang menatap Biru dengan tatapan dingin dan marahnya. Tatapan tajam itu sangat menusuk jauh ke dalam ulu hatinya. Tidak hanya membuat hatinya sakit, tapi terasa dingin.
Ini kali pertamanya Galang memberi Biru tatapan ini.
"Kenapa Galang?" Tanya Biru dengan suara pelan dan hati-hati.
Galang menjawab dengan mendengus, kemudian segera menarik tangan Biru. Dia menyeret tubuh Biru dengan kasar. Tidak mementingkan Biru yang hampir terjatuh karena Galang berjalan terlalu cepat.
"Pelan-pelan." Pinta Biru di belakang.
Tapi Galang tidak mau mendengar apapun. Tatapannya terus lurus ke depan. Mengabaikan apapun yang ada di belakangnya. Dia membawa Biru menuju studio miliknya.
Dia membuka pintu lalu mendorong Biru masuk sampai membuat Biru terjatuh.
Biru merasa sakit hati di perlakukan serendah ini. Galang seperti orang yang tidak lagi memperdulikannya. Atau orang yang sudah selesai dengan kepura-puraan dan aktingnya.
"Jangan berperilaku lemah didepanku, aku tidak akan dibohongi lagi olehmu," kata Galang dengan nada tajam.
"Maksudmu?" Tanya Biru yang masih duduk di atas lantai.
Galang menyeringai kemudian dia berjalan sampai menginjak tas Biru yang terjatuh. Biru yang melihat itu merasa khawatir dengan foto yang telah dicetaknya. Takut itu lecet dan rusak.
"Jangan injak tasnya," kata Biru.
Alih-alih menyingkir, Galang lebih memilih untuk menendang tas Biru itu sampai terlempar jauh ke ujung ruangan.
"Tas menjijikan itu menghalangi jalanku. Merusak pemandangan dan sepatuku," kata Galang merendahkan Biru.
Selama ini Biru tidak merasa rendah saat orang lain mengatakan dirinya, miskin, menjijikan dan hal-hal semacam itu. Dia masih bisa membela dirinya dengan percaya diri. Tapi, ketika itu adalah Galang. Biru hanya diam membisu. Dia merasa sedih dan sakit hati.
"Kenapa diam? Itu memang benar kan? Kau itu miskin dan menjijikan. Aku tidak tahu kenapa aku harus repot-repot dekat denganmu. Bermain denganmu. Aku khawatir kalau diriku akan terjangkit penyakit miskin sepertimu," katanya merendahkan Biru dengan blak-blakan.
Biru menatap Galang dengan tatapan nanar, kedua matanya sudah memerah dan terasa berair. Biru tahu kalau dia miskin, dia tahu dia sangat rendah, dan tidak panatas bersama Galang.
"Aku tahu," katanya dengan suara lirih. Dia tersenyum terpaksa kepada Galang.
"Aku tidak akan termakan oleh aktingmu itu," kata Galang dengan tajam.
"Sudah puas dengan permainanmu selama ini? Sudah puas melihatku yang telah kau bodohi selama ini? Sudah merasa puas? Kalau orang paling populer seperti diriku bisa mengaku kepada orang buangan sepertimu? Orang yang tidak penting dimata siapapun!" Suara Galang terlihat marah dan menuntut.
"Ada apa dengan permainan dan kebohongan?" Tanya Biru setelah bangun.
"Halah! Jangan sok polos! Jangan pura-pura tidak mengerti. Kau tahu sejak awal kalau aku datang kepadamu demi sebuah tantangan. Kau pura-pura tidak tahu itu dan terus mempermainkan diriku! Aku layaknya orang bodoh!" Teriak Galang dengan marah.
"..."
Biru tidak bisa membela dirinya sendiri, memang dirinya salah. Memang dirinya sengaja pura-pura tidak tahu. Dia melakukan itu hanya karena ingin terus merasakan kebaikan, kehangatan, dan perhatian dari Galang.
Walaupun itu hanya semu belaka.
"Sekarang kau balas dendam kepadaku dengan cara merusak lukisanku? Kau pasti nya sangat bahagia kan? Bisa melihat diriku kacau seperti ini! Mengacaukan pameran yang sangat penting bagiku!"
"Merusak lukisan?" Tanya Biru dengan suara lirih.
"Ya! Tidak ada gunanya aku mengeluh dan mendapatkan semangat darimu. Kalau detik berikutnya kau menghancurkannya!"
Galang kemudian membuka stand kanvas yang telah ditutupi kain putih. Biru melihat kanvas itu sudah robek dan hancur. Banyak coretan cat warna yang tidak jelas.
"Kenapa bisa begini?" Tanya Biru.
"Jangan pura-pura tidak tahu. Kau sendiri yang merusaknya kan?!" Seru Galang kesal.
"Tidak, aku tidak melakukannya." Kata Biru berusaha memegang tangan Galang. Tapi Galang segera menghentakan tangan Biru.
"Aku tidak percaya. Jelas-jelas kau adalah pelakunya. Kemarin malam aku memergoki kau keluar dari gedung ini. Padahal kau meninggalkan catatan kalau kau telah pulang."
"Itu—"
"Selain itu aku melihat dari kamera pengawas, kalau kau adalah satu-satunya orang masuk ke dalam studio ini. Tidak ada orang lain selain dirimu."
"Aku bisa jelaskan—"
"Aku tidak butuh penjelasan apapun! Semua bukti sudah jelas. Kau telah merusak mahakarya milikku!"
Biru berusaha untuk menjelaskan, namun Galang selalu menghentikannya. Biru memilih untuk diam. Disaat seperti ini, dia tahu Galang tidak akan mau mendengarkannya.
Galang kemudian mendorong tubuh Biru ke tembok. Biru terjepit di antara tubuh Galang dan tembok. Galang menatapnya dengan tajam dan dingin. Hilang sudah tatapan hangat dan penuh kasih sayang dari Galang.
Biru tersenyum nanar, dia tahu kalau semuanya telah berakhir.
"Jangan tersenyum! Itu menjijikan!" Seru Galang dengan galak.
"Dirimu! Aku tidak mau melihatmu lagi!"
"Jadi, pergi dari hadapanku dan jangan pernah berani menunjukan batang hidungmu ini!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
A/N : Tidakkk😭
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|
General Fiction🌻 Bagi teman-teman yang mau baca karya saya dalam bentuk pdf, hubungi saya lewat aplikasi Line dari link di profil saya.🌻 Galang Mahendra hanya menganggap Biru Samudera sebagai objek tantangan konyol. Setelah di tolak oleh Biru, Galang tetap tidak...
![[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|](https://img.wattpad.com/cover/372070671-64-k791571.jpg)