"Jadi, kamu masih bekerja untuknya, Biru."
Tubuh Biru membeku untuk sesaat, dia perlahan menoleh setelah mengembalikan ketenangan dirinya. Membuat senyuman sebaik mungkin untuk Indra.
"Ya."
"Tapi, kenapa?"
"Aku hanya bekerja sampai minggu depan saja. Setelahnya, aku akan berhenti."
"Kenapa tidak sekarang saja berhenti? Kalau kamu butuh uang atau apapun, aku bersedia membantumu, Biru. Kamu tahu itu, kan?"
Biru mengangguk pelan, "Iya. Aku sangat tahu itu. Tapi, ini hanya satu minggu lagi."
Atas alasan itu, wajah Indra berubah drastis. Dia memijat dahinya dan raut wajahnya seperti menahan kesal. Helaan nafas panjang keluar dari mulutnya.
"Baiklah, tapi setelah 1 minggu. Pastikan kalian tidak melakukan kontak apapun lagi."
"Iya, Kak Indra."
"Bagus."
Biru kemudian melakukan tugas terakhirnya di restoran. Membersihkan meja dan lantai restoran. Karena hari ini banyak pengunjung yang datang, Biru lebih lelah dari biasanya.
"Apa malam ini kamu sibuk?"
Indra datang mendekat dari dapur, dia telah melepas celemek dan topi kokinya. Tubuhnya yang kekar dan besar terlihat memesona dibawah pakaian putih seorang koki.
"Memangnya kenapa?"
"Malam ini ada pasar malam di desa sebelah. Apa kamu mau ikut bersamaku kesana? Kita bisa bawa Dion juga."
"Maaf, Kak Indra. Tapi aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Hanya, tidak bisa saja."
Indra tampak kecewa namun berusaha tersenyum ramah, "Baiklah. Kalau kita tidak bisa pergi malam ini, masih ada malam lain."
Padahal alasan Biru menolak bukan karena dia tidak bisa, tapi karena...
"Ayo, kita berangkat sekarang."
Galang sudah berdiri di depan pintu rumah, dia memakai setelan kaos dan celana pendek. Membuat tampilan dirinya jauh lebih santai dan memukau. Biru, yang merasakan panas di pipinya segera menutup pintu.
Setelah beberapa saat kemudian, dia keluar dan membawa Dion yang telah berganti pakaian. Mereka semua naik ke dalam mobil jeep sewaan Galang.
Saat itu pukul 7 malam, dan hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai di pasar malam desa sebelah. Pasar malam itu cukup meriah dengan hadirnya berbagai wahana permainan. Ditambah ada berbagai jenis kios penjual makanan yang bisa menggugah selera orang yang datang.
Dion di sampingnya sudah menunjuk ke area wahana komidi putar. Walaupun tidak terlalu besar dan tampilannya terlihat tua, anak-anak yang menaiki itu tampak sangat bahagia.
"Kak! Dion mau naik itu!"
"Iya, kita kesana."
Karena hanya anak-anak yang boleh naik, para orang dewasa berada di luar area dan hanya memperhatikan mereka semua. Biru dan Galang pun berdiri berdampingan, memperhatikan wajah Dion yang sumringah.
Adegan itu tidak luput dari kamera yang tadi Biru bawa. Dia memotret wajah Dion yang menggemaskan itu.
"Terima kasih, karena mau ikut bersamaku kesini."
Saat mendengar Galang mengucapkan itu, Biru menoleh dan tersenyum. Sehari sebelumnya, Galang sudah mengajak Biru kesini. Awalnya Biru enggan, tapi melihat Galang yang kembali menggunakan Dion sebagai alasan, Biru tidak bisa berkutik dan mengukiti permintaanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|
General Fiction🌻 Bagi teman-teman yang mau baca karya saya dalam bentuk pdf, hubungi saya lewat aplikasi Line dari link di profil saya.🌻 Galang Mahendra hanya menganggap Biru Samudera sebagai objek tantangan konyol. Setelah di tolak oleh Biru, Galang tetap tidak...
![[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|](https://img.wattpad.com/cover/372070671-64-k791571.jpg)