Sejak kemarin sore, Galang menghubungi Biru, namun tidak ada jawaban dari Biru. Ponsel Biru sepertinya mati, karena semua pesan tidak pernah terbaca sama sekali. Teleponnya pun tidak aktif saat Galang menghubunginya.
Awalnya Galang merasa tidak ada yang aneh. Mungkin Biru sibuk belajar seperti biasanya. Dia bisa saja tidak memperhatikan ponselnya.
Hingga keesokan harinya sampai sore hari, Galang masih tidak bisa menghubungi Biru. Biru pun tidak ditemukan di perpustakaan maupun area fakultasnya. Saat bertanya kepada orang-orang, mereka mengatakan tidak tahu.
Galang akhirnya mencari Biru ke kosannya, hanya untuk menemukan kosan Biru terlihat gelap dan sepi. Seperti tidak berpenghungi. Galang merasakan suatu getaran tidak myaman di dadanya.
Dia mengetuk pintu kosan Biru secara tidak sabar.
"Biru! Biru! Biru!"
Dia memanggil Biru beberapa kali. Namun tidak ada jawaban dari dalam sana. Galang semakin gelisah. Dia kembali melakukan hal yang sama sampai tiga kali.
Baru saat itu ada suara kecil dari dalam.
"Galang?" Suara itu sangatlah pelan dan tidak bertenaga. Kalau Galang tidak punya pendengaran tajam, mungkin dia tidak akan pernah mendengarnya.
Takut di dalam Biru terjadi apa-apa, Galang mendatangi penjaga kosan dan meminta orang itu untuk membuka pintu kosan Biru.
"Cepat, Pak!" Seru Galang tidak sabar.
"Iya, iya," jawab penjaga itu kesal.
"Ah, lama! Biar saya yang buka!" Galang menyingkirkan penjaga tua itu ke samping secara tidak sopan. Dia mengambil kunci cadangan dan membuka pintunya sendiri.
Galang mendorong pintu secara sembrono dan menemukan Biru yang tengah berbaring di atas kasur dengan wajah pucat. Galang segera mendekat dan memeluk tubuh Biru.
"Biru, kamu kenapa?" Tanyanya menatap tubuh Biru yang panas.
"..." Biru terlalu lemas untuk menjawab. Dia hanya membuka matanya sebentar dan bertatapan dengan Galang.
"Kita harus segera ke rumah sakit. Pertahankan kesadaranmu!" Seru Galang. Kemudian dia menggendong Biru bak seorang putri. Keluar dari area kosan menuju mobilnya, lalu pergi ke rumah sakit terdekat.
"Galang..?" Tanya Biru dengan suara lemah.
"Iya, ini aku Galang. Tolong jangan sampai kamu kehilangan kesadaran. Tetap buka matamu." Pinta Galang.
Tapi, setelah itu, Biru yang lemas, langsung jatuh di atas kursi penumpang. Galang menggigit bibirnya, gelisah melihat khawatir Biru yang telah kehilangan kesadaran. Detik itu juga, Galang segera memacu laju mobilnya, mengabaikan berbagai klakson yang memperingatinya.
Tiba di rumah sakit, Biru segera ditangani. Dan Galang disuruh untuk menunggu dulu diluar. Tidak mengganggu dokter yang tengah memeriksa Biru. Keringat dingin sudah bercucuran di wajah Galang, dan sesekali dia menatap pintu bangsal disebelahnya. Berharap dokter segera keluar.
Galang menyalahkan dirinya sendiri.
Dia seharusnya datang lebih awal. Lebih peduli kepada Biru. Dengan demikian hal ini tidak akan terjadi.
Setelah beberapa saat, dokter akhirnya keluar bersama seorang perawat. Galang segera bangun dan bertanya kepada dokter, "Bagaimana dengan teman saya Dokter? Dia baik-baik saja sekarang kan?"
"Dia terkena dehidrasi yang cukup parah. Tampaknya dia sudah tidak makan dan minum selama beberapa hati. Selain itu, dia tampaknya tengah stres akan suatu hal. Walaupun begitu, setelah mendapatkan perawatan disini, dia akan segera membaik." Kata Dokter menjelaskan.
"Tapi dia akan segera bangun, kan?" Tanya Galang.
"Kamu tunggu saja," jawab dokter sambil tersenyum tipis.
"Kami pergi dulu, jika dia sudah bangun, segera kabari kami," tambah dokter.
"Baik,"
Galang kemudian masuk ke dalam kamar yang diisi oleh Biru saja. Disana Biru tengah berbaring di atas ranjang putih. Sebuah selang transparan menggantung di sampingnya, mengalirkan sebuah cairan dari atas.
Dia duduk di sebuah kursi yang berada di samping ranjang. Memperhatikan wajah biru yang masih pucat pasi. Dia menghela nafas pelan kemudian bertanya kepada Biru.
"Kenapa kamu bisa seperti ini?"
"..."
Tentu saja dia tahu itu pertanyaan retorika.
***
Pagi harinya Galang bangun, tubuh bagian belakangnya terasa kaku dan sakit. Mungkin karena Galang tidur di samping ranjang Biru sambil duduk. Saat dia mengatur kesadarannya, tak sengaja matanya bertatapan dengan Biru.
"Sudah bangun?" Tanya Biru pelan.
Galang kaget, dan segera berdiri, "Kalau kamu sudah bangun dari tadi, kenapa tidak membangunkanku," keluh Galang, yang yakin Biru lebih dulu bangun darinya.
"Aku tidak tega. Kamu terlihat sangat kelelahan," ucap Biru pelan.
"Tapi, tetap saja..." setelah itu Galang menghela nafas pelan. Dia kemudian menekan sebuah alat yang bisa memberitahu perawat dan dokter, bahwa Biru di kamar ini telah siuman.
"Kita tunggu sampai dokter dan perawat, biarkan mereka memeriksa terlebih dahulu," kata Galang. Biru mengangguk patuh.
Tidak lama, dokter dan perawat akhirnya tiba, Galang menyingkir dan membiarkan mereka melakukan tugasnya. Setelah memperhatikan mereka, dokter akhirnya berbicara, "Dia sudah jauh lebih baik dari kemarin."
"Jadi, saya bisa pulang pagi ini dokter?" Sela Biru. Dan Biru mendapatkan tatapan kesal dari Galang.
"Maaf, tapi kamu tidak bisa. Setidaknya sampai sore nanti. Setelah kami memberikan pengecekan sekali lagi, kamu baru bisa dibolehkan pulang," jawab Dokter.
"Terima kasih, dokter."
Setelah itu, dokter dan perawat pergi dari sana. Meninggalkan Biru dan Galang yang menatap Biru dengan tatapan tajam. Biru merasa tidak nyaman dengan itu.
"Kamu mau pulang dalam keadaan seperti ini?" Tanya Galang dengan nada kesal.
"Aku..."
"Kamu tahu, bagaimana keadaanmu saat aku menemukanmu kemarin sore? Kalau aku telat datang ataupun sampai tidak datang, bagaimana dengan keadaanmu nanti? Kamu tahu, aku sangatlah khawatir Biru! Kenapa kamu tidak bicara padaku kalau kamu tengah sakit! Dan hanya membiarkannya! Bukankah kita telah menjadi pasangan?! Kamu bisa bergantung kepadaku, dan aku tidak akan keberatan!" Galang akhirnya mengeluarkan semua keluh kesah yang dari kemarin dia tahan. Biru menundukkan kepalanya..
"Aku minta maaf," kata Biru pelan sambil menunduk.
Galang memijat dahinya, dia menyesali apa yang barusan dikatakannya. Dengan emosi yang membara. Galang mendekat dan duduk di kursi samping Biru.
"Aku seharusnya tidak memarahimu," katanya penuh penyesalan.
"Kamu tahu, pikiranku tengah kacau saat ini. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih," tambahnya dengan nada pelan.
Biru memegang tangan Galang dan berkata, "Tidak apa. Aku mengerti. Ini karena diriku. Ini semua salahku yang tidak memberitahumu. Aku minta maaf untuk semuanya. Dan aku juga berterima kasih karena kamu telah merawatku." Balas Biru.
Walaupun Galang mendapatkan permintaan maaf dari Biru, itu tidak membuatnya tenang dan lega. Justru malah semakin membuat dadanya sesak. Galang tidak mengerti. Apa mungkin dia perlu diperiksa oleh dokter juga?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|
Narrativa generale🌻 Bagi teman-teman yang mau baca karya saya dalam bentuk pdf, hubungi saya lewat aplikasi Line dari link di profil saya.🌻 Galang Mahendra hanya menganggap Biru Samudera sebagai objek tantangan konyol. Setelah di tolak oleh Biru, Galang tetap tidak...
![[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|](https://img.wattpad.com/cover/372070671-64-k791571.jpg)