Chapter-54

2.1K 134 11
                                        

Kedua tangan Galang turun perlahan, dia menatap Biru yang wajahnya meringis. Kedua matanya berkedip beberapa kali. Dia menggigit bibir bawahnya seolah tengah menahan tangisnya.

"Kenapa harus berhenti? Kamu bahkan baru bekerja 2 minggu."

"Aku ingin berhenti."

Galang menghela nafas panjang. Dia yakin kejadian kemarin mempengaruhi pikiran dan keputusan Biru saat ini. Galang sungguh-sungguh dengan kalimatnya, dia walaupun terkejut dan merasa sakit hati, dia bisa menerima dan menahan itu. Tidak apa jika Biru berpura-pura melupakannya.

Tapi, dengan dia berhenti bekerja. Semua yang Galang lakukan berakhir sia-sia. Mereka kembali menjadi dua orang asing yang tidak memiliki ikatan apapun. Dan Galang tidak mau itu terjadi.

"Tidak bisakah kamu tetap bekerja, setidaknya sampai kamu mendapatkan gaji pertamamu?"

"..."

Galang benar-benar kacau. Dia ingin marah kepada Indra. Pasti Indra telah menghasut Biru dan membuat Biru kembali meragukan Galang.

"Hanya dua minggu saja. Selama waktu itu, kamu tetap bekerja disini dan selama itu aku akan membuktikan kepadamu kalau aku akan memegang teguh janjiku kemarin."

Biru tampak ragu-ragu. Dia juga seperti gelisah. Galang yakin kalau Biru tampaknya masih menaruh harapan kepada Galang, tapi karena Indra, harapannya itu kembali goyah lagi.

"Beri aku satu kesempatan."

Setelah beberapa saat, Biru akhirnya mengangguk setuju. Galang merasa ingin menangis bahagia kala itu. Dia segera memeluk Biru dengan erat. Menaruh wajah Biru di dadanya dan dia menaruh wajahnya di bagian atas kepala Biru. Menghirup dalam-dalam aroma Biru yang menyegarkan.

Galang baru melepas pelukannya ketika dia merasakan Biru mendorongnya. Sekarang mereka berhadapan dan Biru yang malu menoleh ke arah lain.

"Sekarang kita pergi ke hotel. Kita makan disana."

"Eh—"

Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Galang menarik tangan Biru. Dia merasa senang karena Biru tidak menepis tangannya, itu berarti dia menepati janjinya untuk menerima usaha Galang.

Restoran hotel terbagi bagian dalam dan bagian luar. Bagian luar adalah hal yang paling menjadi daya tarik lebih dari hotel ini, karena langsung menghadap ke lautan lepas.

Biru sudah memperhatikan laut sejak tadi, sedangkan Dion dan Si Hitam berada di dalam ditemani oleh salah satu pegawai Galang.

"Permisi."

Seorang pelayan restoran datang, dia membawa pesanan yang tadi Galang pesan secara khusus. Itu adalah steak setengah matang dibalut suus kecoklatan dan beberapa sayuran tambahan. Itu semua disajikan di depan mereka berdua. Tidak lupa, ada minuman pelengkap yang disediakan.

"Selamat menikmati hidangannya."

Pelayan pamit dan meninggalkan mereka berdua saja disana. Biru menatap Galang beberapa saat sebelum menarik piring lebih dekat kepadanya. Galang di sisi lain segera memotong daging steak menjadi beberapa bagian kecil. Kemudian menyerahkan itu kepada Biru dan menarik piring Biru.

"Makanlah secara perlahan."

Biru mengangguk setuju, Galang tersenyum puas. Walupun mereka makan dalam hening, dia tetap merasa bahagia.

Setelah mereka selesai, Galang membuka percakapan.

"Apakah kamu masih menyukai fotografi?"

"Tidak."

"Kenapa, bukankah itu adalah hobi yang kamu gemari?"

"Hanya saja, aku sudah lama melupakan itu."

"Kenapa tidak melakukannya lagi? Karena kamu memiliki bakat untuk itu."

"Tidak juga."

"Tunggu disini."

Sebelum Biru bereaksi, Galang sudah lebih dahulu masuk ke dalam. Disana dia mendapati Dion sudah tertidur bersama Si Hitam. Dia kemudian membawa Dion dan Si Hitam naik ke lantai paling atas. Menempatkan mereka di kamar yang dulu dipakainya.

Setelah menemukan apa yang dicarinya, Galang kembali turun ke bawah dan bertemu Biru yang telihat kebingungan.

"Dion dan Si Hitam ada di atas. Biarkan mereka beristirahat. Sesekali akan ada pegawai yang mengecek mereka. Jadi, jangan terlalu khawatir."

"Baiklah."

"Sekarang, ini adalah waktu untuk kita berdua."

Galang menarik Biru keluar dari hotel. Mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju pantai lewat area hotel. Di tengah perjalanan, Galang menyerahkan paper bag yang dari tadi dibawanya.

"Ambillah, karena kamu adalah pemilik asli sebenarnya."

Biru terlihat ragu-ragu, namun tetap mengambil itu dan menemukan kamera. Dia berhenti selama beberapa saat, lalu melakukan kontak mata dengan Galang.

"Bukankah ini?"

"Iya, itu adalah hadiah yang aku berikan kepadamu. Sekarang aku mengembalikannya kepadamu. Karena itu adalah milikmu."

Biru memeriksa kamera itu dengan hati-hati. Seolah menyusuri semua jejak lama yang telah ditinggalkannya.

"Aku beruntung membawanya bersamaku kesini."

Biru tidak merespon itu dan mulai sibuk mencoba kamera lama itu. Walaupun sudah lama tidak terpakai, hasil bidikannya tetap bagus seperti pertama kali dia mencobanya.

Mereka tiba di pantai, matahari sore bersinar dari kejauhan menyelimuti tubuh mereka berdua. Biru fokus memotret setiap area pantai dengan kamera. Dan Galang fokus memotret setiap gerakan Biru dengan kedua matanya dan menyimpan hasilnya di otak dan hatinya. Biru benar-benar mempesona dibawah cahaya jingga matahari sore.

Klik

Galang kembali tersadar karena mendapati Biru mengarahkan kamera ke arahnya.

"Kenapa memotretku?"

Biru tersenyum malu-malu sebelum akhirnya berlari. Galang merasa Biru lucu dan segera mengejarnya. Sesekali Biru melempari Galang dengan pasir putih, mencegahnya mendekat. Tapi, Galang berhasil menahannya. Dan membuat Biru jatuh di atas pasir.

"Kamu tertangkap!"

"Lepaskan aku Galang!"

Galang yang sekarang tersipu malu-malu. Dia merasakan jantungnya berdebar kencang mendengar namanya diucapkan Biru.

"Katalan namaku lagi."

"Tidak!"

"Kalau begitu aku melakukan ini!"

Galang menggelitik seluruh area tubuh Biru. Biru tertawa terbahak-bahak merasakan geli di seluruh tubuhnya. Sampai air mata sedikit jatuh dari ujung matanya.

"Hentikan, aku mohon."

"Cepat katakan namaku."

"Galang, ahh— hentikan..."

Galang menelan ludahnya dengan berat, dia berhenti dan duduk di samping Biru. Biru di sisi lain sudah duduk sambil membersihkan pasir di atas pakaiannya.

Mereka berdua menatap matahari yang tenggelam ke dalam lautan. Langit oranye perlahan berwarna keunguan. Hingga akhirnya berganti menjadi gelap.

"Jadi, kenapa kamu memotretku?"

"Kamu adalah model terbaikku, Galang."

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang