Biru tidak pernah melupakan apapun.
Di pertemuan mereka setelah sekian lama, Biru jelas terkejut mendapati Galang yang tiba-tiba berada di depan dirinya. Beberapa kali Biru berusaha meyakinkan kalau Galang di hadapannya itu bukanlah orang nyata dan hanyalah khayalan baginya.
Tapi, itu semakin jelas ketika Galang terus berbicara kepadanya. Berusaha mendapatkan perhatian Biru. Kadang-kadang dia bersikap menyedihkan supaya mendapatkan simpati Biru.
Kemudian itu semakin di perjelas ketika mereka terus bertemu untuk ketiga kalinya. Saat Biru di villa milik keluarga Galang. Dan ketika Galang mengungkapkan permintaan maafnya.
Biru tidak merasakan apapun.
Marah? Sudah lama hal itu menghilang dari pikiran dan hatinya. Kecewa? Dia jelas memang kecewa karena Galang tidak mau mendengarkan penjelasannya dulu. Namun, dia sudah membuang itu jauh di belakang.
Menganggap itu tidak pernah terjadi.
Mengubur masa lalu miliknya yang dalam. Suatu masa dimana dia baru menginjak dewasa. Salah satu kenangan baik dan buruk dalam hidupnya. Dia telah meninggalkan itu jauh di tempat itu.
Dan dia tidak pernah mau kembali dan tidak punya alasan apapun untuk kembali. Apalagi tempat ini, adalah tempat tinggalnya sekarang. Dia tidak berniat untuk pergi bahkan setelah bertemu Galang.
Dia hanya akan terus berpura-pura tidak mengingat apapun. Dan bekerja seperti biasanya. Mungkin, Galang suatu saat nanti akan pergi dari tempat ini.
Namun, itu tidak bisa sejalan dengan ucapan Galang yang katanya akan melakukan apapun untuk mengambil hati Biru.
Biru tidak tahu harus merespon apa atas itu.
Dulu, dia memang sangat jatuh cinta kepada Galang. Namun, jika ditanya apakah masih mencintai Galang? Biru tidak tahu jawabannya sama sekali.
"Kak Biru!"
Biru tersentak mendengar panggilan Dion. Dion, anak kecil berusaha enam tahun itu tengah berdiri di depannya. Menatap Biru dengan mata bulat dan jernih miliknya.
"Kenapa Dion?"
Dion datang mendekat dan bersikap manja. Dia memeluk Biru. Biru tahu sikap ini, dia sepertinya akan meminta sesuatu kepada Biru.
"Dion mau apa? Katakan sama kakak."
Dion terlihat malu-malu selama beberapa saat, sebelum akhirnya dia naik ke atas pangkuan Biru lalu mendekati telinga Biru, berbisik disana, "Dion mau sekolah."
Setelah itu, anak kecil itu turun dan menunggu respon Biru. Biru tersenyum dengan hangat namun di dalam hatinya dia merasa pahit.
"Wahh, kakak tidak menyangka kalau Dion sudah besar dan mau sekolah."
"Iya! Dion sudah besar! Dion mau sekolah seperti teman-teman Dion yang lain! Mereka selalu mengatakan kalau bersekolah itu seru dan kita bisa bertemu banyak orang disana! Dion jadi mau pergi sekolah!"
Anak itu berbicara dengan gembira, tangannya terus bergerak, seperti tengah menggambarkan sekolah yang diceritakan anak lain kepadanya.
Biru merasa bersalah, karena dia belum bisa memberikan kebahagiaan terbaik bagi Dion.
Sekarang Biru sadar, dia tidak mau memikirkan apapun. Atau Galang sekalipun. Karena prioritas Biru saat ini adalah kebahagiaan Dion. Dia adalah fokus utamanya saat ini. Tidak ada yang lain.
"Kalau begitu, nanti kakak daftarkan Dion untuk sekolah. Dion mau sekolah dimana?"
"Sekolah yang sama seperti yang lainnya!"
Sekolah yang dimaksudkan Dion jaraknya sedikit jauh. Karena tempat ini tidak memiliki banyak penduduk, otomatis tidak ada sekolah di tempat terdekat. Biru sedikit meringis, tidak tahu harus seperti apa.
Namun, dia tidak mau mengecewakan Dion. Jadi, dia mengangguk.
"Oke, nanti kita datang kesana."
"Yay!!"
Dion berseru dengan gembira, mengangkat kedua tangannya ke atas dan berlarian di dalam rumah yang tidak memiliki banyak perabotan. Anak itu begitu bahagia dan bersemangat.
Oleh karena itu, Biru bertekad untuk tidak putus asa.
Walaupun begitu, kenyataan pahit menghantam dirinya. Dia tidak punya pekerjaan yang layak. Dia tidak memiliki cukup uang. Apalagi ketika Dion pergi sekolah, dia harus membelikan Dion banyak barang.
Bekerja di restoran milik Indra tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya apalagi dengan kondisi restoran yang sepi akibat sedikitnya pelanggan yang datang, membuat Biru tidak bisa bekerja dengan maksimal.
Biru hanya bekerja ketika Indra memanggilnya datang. Selebihnya, dia akan berada di rumahnya dan menjaga Dion.
Bisa saja Biru mencari pekerjaan di tempat lain, namun dia tidak tega meninggalkan Dion tanpa pengawasan orang dewasa. Apalagi, Dion masih terlalu kecil untuk dia tinggalkan di rumah sendirian. Biru khawatir sesuatu akan terjadi kepadanya.
Biru terus melamun sambil memperhatikan langit malam yang gelap. Bagian luar rumah hanya diterangi oleh cahaya bulan dari atas sana.
Di atas ranjang, Dion sudah terlelap lebih awal. Dia sangat bersemangat dan berlarian dari tadi sore. Tidak sabar untuk segera sekolah dan bertemu teman barunya.
Biru terus memikirkan apa yang harus dilakukannya. Suatu pilihan yang terbaik bagi dirinya dan Dion. Dan hal itu sampai pada suatu kesimpulan.
Biru menghela nafas panjang, dia tidak punya pilihan lain selain itu.
Di pagi harinya, Biru dan Dion bangun. Dia segera memandikan Dion dan membantu Dion memakai pakaian baru. Baju yang dipakainya terlihat sedikit lusuh, karena sudah lama sejak mereka membeli pakaian baru. Hati Biru sedikit terusik karena itu.
Namun, Dion yang masih kecil tidak menyadari itu. Alih-alih dia bertanya tentang hal lain, "Kita mau pergi kemana, Kak Biru?"
"Ikut saja, nanti kamu akan tahu."
"Oke!"
Dion tidak bertanya lagi sampai Biru membawanya berjalan keluar. Mereka menyusuri jalan setapak selama seperempat jam, dan akhirnya di suatu rumah besar dan menjulang tinggi.
"Kenapa kakak kesini?"
"Mulai hari ini, kakak akan bekerja disini."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|
General Fiction🌻 Bagi teman-teman yang mau baca karya saya dalam bentuk pdf, hubungi saya lewat aplikasi Line dari link di profil saya.🌻 Galang Mahendra hanya menganggap Biru Samudera sebagai objek tantangan konyol. Setelah di tolak oleh Biru, Galang tetap tidak...
![[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|](https://img.wattpad.com/cover/372070671-64-k791571.jpg)