Chapter-39

2.6K 161 4
                                        

"Jadi, kau benar seorang pencuri ya."

"Aku bukan, Biru."

"Halah, mana ada seorang pencuri yang mau mengakui dirinya pencuri."

"Tapi, aku memang bukan."

Galang merasa tidak berdaya, dituduh pencuri langsung oleh Biru. Membuat dirinya merasa rendah diri.

"Dia bohong, Nak Biru. Dia datang masuk ke area Villa dengan mengendap-ngendap. Kalau bukan mencuri, lalu tujuannya apa?"

Pria itu malah semakin memperkeruh suasa dengan melemparkan bensin ke atas api yang tengah membara. Membuat mata Biru tajam ke arah Galang. Siap untuk menusuk tubuhnya.

"Kalau kau bukan pencuri, lantas apa yang kau lakukan di villa pribadi seperti ini?"

Suara Biru terdengar datar dan mengintimidasi, layaknya seorang polisi yang tengah mengintrogasi pelaku kejahatan.

"Dengar. Aku datang kesini karena aku adalah anak pemilik Villa ini. Ibuku menyuruhku untuk tinggal disini."

"Anak pemilik villa? Kamu pasti berbohong! Saya tidak pernah dengar pemilik villa punya anak. Pemilik villa juga tidak pernah datang membawa siapapun kesini."

Pria tua kembali menyela pembicaraan mereka, Galang pun hanya menahan rasa kesalnya.

"Iya, ini adalah kali saya pertama kesini. Tapi, bukan berarti saya berbohong kalau saya anak pemilik villa ini. Kalau kalian berdua tidak percaya, kalian bisa bertanya langsung kepada Pak Anton."

Setelah mengatakan nama Pak Anton keduanya langsung diam. Tampak meragukan penjelasan Galang. Entah meragukan Galang yang berbohong atau memang benar.

Galang menghela nafas kemudian menghidupkan ponselnya dan membuka galeri foto. Menggulir layar selama beberapa saat sebelum akhirnya kedua matanya  jatuh pada salah satu foto keluarga miliknya.

"Lihatlah. Ini foto keluarga saya."

Galang menunjukan itu kepada mereka berdua, kedua mata mereka langsung membuka sempurna. Sesekali melirik ke arah Galang. Memastikan wajah Galang dan wajah di foto itu sama.

"M-maaf, Tuan!"

Pria tua itu langsung setengah membungkuk meminta maaf. Mendapati apa yang dikatakan oleh Galang benar adanya.

"Tuan, saya minta maaf atas kelakuan saya yang sembrono dan lancang."

Pria tua itu semakin membungkukkan tubuhnya. Kemudian tangannya menarik Biru untuk mendekat dan sambil melirik ke arah Biru untuk mengikutinya. Biru awalnya terlihat enggan, namun dengan paksaan pria tua itu. Dia akhirnya menurutinya.

"Kami minta maaf."

"Bangunlah. Kalian tidak perlu sampai sejauh itu."

"Tapi kelakukan kami benar-benar tidak sopan. Menuduh anda sebagai pencuri tuan."

"Tidak apa. Bangunlah."

Keduanya akhirnya perlahan bangun dan berdiri tegak. Hanya saja kepala mereka berdua masih menunduk ke bawah. Galang merasa tidak nyaman melihat Biru menjadi seperti ini.

"Karena kesalahpahaman ini telah selesai. Sekarang tolong jelaskan, sebenarnya kalian siapa?"

Pria tua itu adalah orang yang lebih dulu mendongak dan menatap Galang, dengan penuh kesopanan dia berbicara dengan pelan, seolah dirinya yang tadi memukuli Galang dan sapu lidi telah hilang.

"Maaf, Tuan. Perkenalkan saya adalah Agus. Dulu ketika villa ini selesai dibangun, orang tua tuan secara khusus merekrut saya untuk menjadi penjaga villa ini. Dan sudah sejak 10 tahun lalu saya bekerja disini."

"Baik, Pak Agus."

"Oh, iya. Biru, anak ini juga bekerja disini."

Mendengar itu, Galang sedikit mengerutkan keningnya. Dia menoleh ke arah Biru, yang sayangnya masih menunduk.

"Maksudnya?"

"Orang tua tuan tidak hanya meminta saya menjaga villa ini namun juga merawat seluruh area. Hanya saja, beberapa tahun terakhir, kesehatan saya menurun. Dan saya tidak bisa banyak bekerja apalagi yang berat. Oleh karena itu saya meminta Biru untuk membantu saya membersihkan villa ini selama seminggu sekali."

Setelah penjelasan panjang itu, Biru sedikit mengangkat kepalanya, dan ketika mata mereka bertemu, Biru segera berpaling ke arah lain.

Galang disisi lain, hanya mendengus pelan. Dia merasa tidak percaya fakta baru ini. Ketika dia dulu kehilangan Biru dan tidak tahu Biru ada dimana. Ternyata, Biru berada di villa milik keluarganya.

Ironisnya.

***

Ketika pintu kayu terbuka secara sempurna, ruangan yang didekorasi dengan gaya lokal menyambut kedatangan mereka. Ruangan terawat dan bersih itu terlihat sangat nyaman untuk ditinggali.

"Saya akan menunjukan setiap sudut rumah."

Biru berbicara pelan, melupakan nada jutek dan kasarnya beberapa saat lalu. Dan Galang tidak bisa menahan dirinya untuk terkekeh pelan. Saat Biru menoleh, Galang pura-pura tenang. Biru memimpin di depan.

Beberapa saat lalu, Galang secara khusus meminta mereka untuk menunjukan seluruh area villa ini. Pak Agus langsung merekomendasikan Biru, dia bilang dia sudah tidak sanggup untuk naik tangga ke lantai 2. Dan membiarkan Biru melakukan itu.

Selama beberapa saat Biru tampak enggan, namun dia juga sepertinya tidak punya pilihan lain. Dan menerima permintaan Pak Agus.

"Ini adalah kamar utama di lantai satu."

Dan sekarang, hanya ada mereka berdua di Villa besar ini. Biru menunjukan sebuah kamar di bagian samping kanan. Galang sekelebat memperhatikan kamar itu sebelum tatapannya kembali jatuh kepala bagian belakang tubuh Biru.

"Dan ini adalah ruang tengah. Walaupun ada televisi, itu tidak bisa dinyalakan karena sudah terlalu jadul."

Galang memperhatikan televisi berbentuk seperti tabung besar seperti itu. Kalau anak muda jaman sekarang mungkin tidak akan menyangka kalau sebelum televisi layar tipis ada, dulu ada televisi semacam ini. Selain itu ada radio jadul di bagian samping televisi.

Setelah itu mereka berdua berjalan menuju bagian dapur, walaupun tidak banyak peralatan masak dan makan yang tersedia. Namun, perabotan yang ada cukup untuk digunakan 3 sampai 5 orang.

Setelah puas melihat seisi dapur, mereka berdua menuju bagian belakang villa yang ternyata terdapat sebuah kolam air. Walaupun itu tidak terlalu besar, namun muat untuk beberapa orang dewasa masuk secara bersamaan.

Airnya begitu jernih dan terlihat sangat biru.

"Biru, apa kamu ingin tahu?"

"Aku tidak mau tahu!"

Galang tidak bisa menahan senyumannya mendengar tanggapan kesal dari Biru, walaupun begitu dia tetap melanjutkan, "Kamu tahu apa yang terjadi setelah kamu pergi?"

"..."

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang