Chapter-48

2.1K 137 3
                                        

Karena Hotel M perlahan mulai dikunjungi oleh para wisatawan yang ingin menginap, otomatis itu juga berdampak pada restoran milik Indra. Walaupun belum sepenuhnya ramai dan Biru juga masih bisa membagi waktunya antara vila dan restoran. Tapi itu bisa dikatakan adalah peningkatan yang baik.

Sore itu, Galang secara khusus meminta Biru agar libur. Karena pekerjaanya di restoran belum selesai. Biru tidak mengatakan apapun dan hanya mengangguk setuju.

Karena tidak ada hidangan untuk makan malam, Galang memilih untuk datang ke restoran yang berplang nama, Ocean Blue.

Pertama kali melihat plang nama itu, entah kenapa Galang langsung mengingat nama Biru. Biru Samudera. Itu persis nama Biru hanya saja dalam bahasa Inggris.

"Apa ini benar restoran milik Indra?"

Galang bertanya kepada Biru yang baru saja mengantarkan pesanan kepadanya. Di beberapa meja terdapat orang-orang, baik itu wisatawan lokal maupun mancanegara. Mereka tengah sibuk mengobrol dengan asyik sambil melahap hidangan di depan mereka.

"Iya. Memangnya kenapa?"

Biru mengerutkan keningnya sambil menaruh piring dan gelas di atas meja. Galang kemudian mengisyaratkan Biru untuk duduk di depannya.

"Aku sedang bekerja, jangan mengganggu."

"Ayolah, hanya sebentar saja. Ini penting."

"Penting apanya, kau pasti akan berbicara omong kosong lagi. Menanyakan apa aku sudah ingat apa belum."

"Tidak. Sungguh. Aku ingin bertanya hal lain."

Biru terlihat ragu-ragu namun melihat tidak ada pelanggan yang datang lagi dan belum ada permintaan tambahan, Biru akhirnya mengangguk pelan.

"Katakan."

"Kemarin, Dion bilang kalau Indra terlihat aneh."

"Apa?"

"Iya, Indra aneh."

Biru menghela nafas panjang, seolah perkataannya itu benar dan langsung terbukti.

"Jika kau hanya ingin menjelek-jelekkan Kak Indra, kau bicara pada orang yang salah."

Biru bangun dari atas kursi dan hendak pergi tapi Galang segera menahan tangannya, "Tunggu, dengarkan aku."

"Berhenti mengucapkan hal tidak masuk akal seperti itu. Karena yang jelas-jelas aneh itu kau. Bukan Kak Indra. Dia tidak bisa dibandingkan dengan dirimu. Kau bahkan tidak layak untuk dibandingkan."

Setelah mengatakan itu, Biru menghentakkan tangannya dan membuat tangan Galang terlepas begitu saja. Dia pergi menuju bagian counter kasir dan saat tatapan mereka bertemu, Biru terlihat sangat marah.

"Sepertinya Biru memang sangat mempercayainya."

Entah kenapa Galang merasa murung atas fakta itu. Lagipula itu tidak bisa dihindari ketika Indra adalah orang yang memang diandalkan Biru.

Namun, mengingat kata Dion kemarin. Galang masih penasaran, sebenarnya apa yang dimaksud anak sekecil itu. Dion tentu tidak akan pernah berbohong. Namun, karena dia masih kecil, kata-katanya masih terbatas.

Saat Galang bertanya lebih lanjut, dia hanya menggelengkan kepalanya.

Galang ingin mencari tahu, tapi dia sendiri tidak tahu harus mencarinya dari mana. Kalau dia bertanya kepada Biru, bukan tidak mungkin Biru malah akan menyikapinya dengan emosi.

Galang menghela nafas panjang dan akhirnya memilih untuk makan.

***

Rasa penasaran masih membanjiri pikirannya, maka dari itu, setelah menyelesaikan makanannya, alih-alih kembali ke vila dan beristirahat, Galang segera pergi ke hotelnya dan bertanya kepada satpam penjaga hotel.

"Pak, apa bapak tahu siapa pegawai hotel ini yang asalnya asli orang sini?"

"Memangnya kenapa, Pak Galang?"

"Engga, jawab aja."

"Oh, itu Mba Sri yang jadi resepsionis di hotel ini."

"Baik, Terima kasih, Pak."

Setelahnya Galang datang ke meja resepsionis, Sri, perempuan itu yang tadinya tengah bersantai sambil makan kaget melihat bosnya tiba-tiba ada di gedung hotel. Dia segera menyembunyikan makanannya di bawah meja.

"Maaf, Pak Galang."

"Tidak apa. Tapi lain kali kau harus tahu tempat."

"B-baik, Pak Galang."

Setelah itu hanya ada hening diantara keduanya, Sri mendongak dan mendapati kalau bosnya masih ada dan belum pergi. Dengan hati-hati dia bertanya.

"Ada apa, Pak Galang?"

"Apa kau asli orang sini?"

"Ya, saya memang asli orang sini."

"Kalau begitu, kamu tahu Indra?"

"Saya sangat tahu! Dia adalah pria paling tampan di daerah ini. Hampir tidak ada yang bisa menandingi ketampanannya. Selain tampan dia juga baik, dia begitu ramah kepada semua orang. Membuat setiap wanita tergila-gila dan jatuh cinta padanya."

"..."

"...Ah, maaf."

Sri yang tadinya berbicara panjang lebar tentang Indra, tiba-tiba berhenti. Merasa bersalah karena dia tidak tahu tempat.

"Ceritakan dia lebih detail, tapi jangan bicarakan soal ketampanan dan kebaikannya. Namun hal selain itu."

Berdasarkan perkataan Sri, Indra adalah anak asli orang sini. Sama seperti dirinya. Berbeda dengan Biru yang berasal dari tempat lain dan baru pindah beberapa tahun terakhir.

Indra merupakan anak dari Kepala Desa di daerah ini. Ayahnya sudah menjabat sebagai kepala desa hampir 10 tahun lamanya. Membuat dirinya menjadi salah satu orang yang terpandang dan disegani orang-orang.

Selain itu dia anak semata wayang membuat Indra menjadi anak kesayangan kedua orang tuanya. Dia diberi pendidikan yang jauh lebih baik dibandingkan orang-orang di desa yang sama. Dia sampai bisa berkuliah di universitas yang sama dengan Biru dan Galang tanpa beasiswa.

Pada fakta ini, Galang sangat terkejut. Tidak menyangka kalau Indra adalah seniornya. Salah satu alumni di universitas bergengsi.

"Kalau dia lulusan itu, kenapa dia tidak mencari pekerjaan di perkotaan? Kau bilang dia juga mendapatkan gelar cum laude, kan? Mudah baginya untuk diterima di perusahaan besar."

"Kalau soal itu. Saya dengar kalau dia pernah bekerja di salah satu perusahaan, namun, saya tidak tahu itu dimana. Namun, setelah beberapa bulan dia akhirnya keluar dan kembali lagi ke desa ini."

"Kenapa?"

"Orang-orang bilang karena kedua orang tuanya yang memintanya untuk pulang dan menjaga mereka."

Galang mengangguk mengerti, itu cukup masuk akal. Mengingat dia adalah anak semata wayang.

"Lalu, apa kau tahu atau mungkin merasa ada yang aneh dengannya?"

"Aneh ya? Mungkin karena dia tidak pernah terlihat berpacaran dengan seorang gadis?"

Galang merasa kecewa, itu bukan sesuatu yang aneh. Karena dirinya juga sekarang menyukai pria. Jika, Indra menyukai Biru, itu terdengar lebih masuk akal, kenapa dia bisa mau membantu Biru.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang