"Mau kemana?"
Suara dari Galang di belakang tubuh Biru cukup mengejutkan Biru. Biru yang tengah memasang sepatunya berhenti lalu memutar tubuhnya.
"Aku mau pulang," jawab Biru.
Raut wajah Galang terlihat sedikit dingin, Biru tidak tahu kenapa itu. Galang mendekat dan memegang tangan Biru.
"Jadi, kalau saja aku tidak memergokimu, kamu mau pulang begitu saja?" Tanya Galang.
"Aku tidak bermaksud pergi begitu saja, hanya saja, aku tidak tega membangunkanmu." Ucap Biru.
Padahal Biru berbohong. Dia sebenarnya sangat kaget ketika bangun tadi. Dia membuka matanya hanya untuk menemukan wajahnya dan Galang berada di jarak yang sangat dekat. Mungkin dengan sedikit gerakan, itu akan saling bersentuhan.
Biru merasa malu, apalagi dia juga memeluk Galang dengan erat dalam tidurnya. Dia tidak ingin ketahuan oleh Galang.
"Tetap saja. Seharusnya jangan pergi begitu saja." Keluh Galang dengan nada sedikit ngambek.
"Maaf," balas Biru menyesal.
"Baiklah, lantas kenapa pulang? Sekarang akhir pekan." Tanya Galang.
"Aku perlu mengganti pakaianku," jawab Biru. Merasa minder soal pakaian jeleknya ini. Dia merasa pakaiannya inj tidak cocok di apartemen mewah Galang.
"Kamu bisa memakai pakaianku," ucap Galang kemudian menarik tangan Biru masuk kembali ke dalam.
"Eh?" Biru tersentak.
Galang terus membawanya menuju kamar mandi, kemudian mendorongnya masuk.
"Kamu mandi saja sekarang, nanti pakaian bersih akan aku taruh di luar pintu," kata Galang kemudian menutup pintu kamar mandi dari luar. Biru membeku selama beberapa saat, berusaha mencerna semuanya.
Dia mandi dan memakai pakaian Galang? Wajahnya semakin memerah.
Demi menenangkan suhu tubuhnya, Biru pun memilih untuk mandi. Membersihkan diri dan pikiran kotornya yang sudah kemana-mana. Kemudian mengeringkan tubuhnya dan memakai pakaian yang sudah disiapkan Galang.
Biru menatap dirinya di depan cermin, pakaian Galang sangatlah longgar ditubuhnya. Biru merasa malu. Merasa dirinya lebih kecil dari Galang. Tapi, Galang memang menjulang tinggi dan bahunya juga lebar. Berbeda dengannya.
Setelah melipat ujung pakaian, Biru menghampiri Galang yang ada di luar. Dan ternyata sudah rapi seperti dirinya.
"Apa ini terlihat aneh? Karena aku pikir pakaianmu sangatlah besar?" Tanya Biru.
Galang di atas kursi menoleh, dia diam selama beberapa saat, sampai Biru mengira dia tengah melamun.
"Galang?" Panggil Biru.
"Ah ya, kenapa?" Tanya Galang kebingungan.
"Apa tidak ada pakaian yang lebih kecil dari ini?" Tanya Biru.
Galang mendekat, kemudian memegang tangan Biru, "Sayangnya tidak ada. Aku sudah memilih pakaian yang kecil." Jawabnya.
"Oh?"
"Pakai ini saja, toh ini sangat cocok kamu pakai." Tambah Galang.
"Benarkah?" Tanya Biru riang.
"Ya," jawab Galang dengan senyuman hangatnya itu.
"Karena kita berdua telah siap? Bagaimana kalau kita sarapan diluar?" Ajak Galang.
"Tapi, aku bisa memasak di rumahmu." Ucap Biru.
"Aku tidak mau menyia nyiakan penampilan bagusmu ini," Pujian Galang membuay Biru malu lagi. Dia kemudian mengangguk dan menuruti ajakan Galang.
Mereka pergi menuju salah satu restoran, dan makan bersama disana. Disana mereka menghabiskan waktu cukup lama, karena mengobrol banyak hal. Baik Biru dan Galang, mereka terlihat sangat nyaman.
"Bagaimana kalau kita ke kafe?" Tanya Galang.
"Aku setuju," jawab Biru senang.
Setelah dari kafe keduanya berjalan di area jalanan yang tenang. Mereka mengobrol lagi sambil sesekali menyeruput minuman yang tadi dibeli. Setelah puas berjalan diluar, mereka masuk ke dalam sebuah pusat perbelanjaan.
Galang membawa Biru ke salah satu pusat elektronik di dalam. Toko yang menjual barang elektronik itu, menarik perhatian Galang. Apalagi saat melihat ada banyak kamera bagus yang berjejer.
"Kamu mau beli apa?" Tanya Biru disampingnya.
"Aku butuh kamera untuk mengerjakan tugas baruku, bisakah kamu memilih kameranya untukku?" Pinta Galang kepada Biru.
"Tentu! Aku akan memilihnya untukmu!" Seru Biru.
Dia sangat antusias memilih kamera untuk Galang. Berbicara dengan kepada penjaga toko, bertanya tentang banyak hal. Mulai dari harga sampai dengan spesifikasi.
"Aku pikir ini bagus," kata Biru menunjuk salah satu kamera yang cukup besar.
"Tidak, pilihkan ukuran yang lebih kecil. Bisa dibawa kemana-mana dengan mudah," kata Galang.
"Oke," jawab Biru sambil berpikir.
"Bagaimana kalau ini?" Tanya Biru menunjuk salah satu kamera yang ukurannya muat dipegang satu tangan.
"Oke, ambil itu saja," kata Galang.
Setelah itu Galang membayar kamera itu yang harganya menyentuh angka belasan juta. Penjaga kasir kemudian membungkus kamera itu dengan sangat rapi ketika Galang mengatakan itu hadiah untuk seseorang.
Biru tidak mendengar itu, karena dia masih senang melihat kamera lainnya.
Galang memegang bahunya ketika dia datang dari belakang.
"Sudah?" Tanya Biru.
"Ya." Kata Galang.
Kemudian keduanya berjalan pergi dari sana. Setelah agak jauh, Galang membawa Biru masuk ke dalam salah satu toko penjual es krim. Dia meminta Biru untuk duduk karena dia yang akan memesan.
Galang kembali dengan dua es krim strawberry dan coklat di tangannya. Biru menerima itu dan keduanya memakan eskrim.
"Ini untukmu," kata Galang sambil mendorong satu kado kepada Biru.
"Eh, bukankah ini kamera yang tadi kamu beli?" Tanya Biru bingung.
"Itu benar. Dan ini untukmu. Maaf karena berbohong bilang untukku. Terimalah. Jangan menolaknya," ucap Galang dengan tersenyum manis.
Biru yang awalnya ingin menolak akhirnya membuang pikiran itu, dia tidak mau mengecewakan Galang.
"Terima kasih! Padahal ini sangat mahal! Aku merasa tidak berhak," walaupun Biru senang. Dia masih merasa ragu-ragu.
"Jangan berpikir seperti itu, kamu berhak mendapatkannya," kata Galang dengan lembut, kemudian tangannya datang mengusap rambut Biru. Membelainya dengan perlahan.
"Terima kasih!"
Biru begitu senang mendapatkan hadiah untuk pertama kalinya dari kekasihnya juga. Ini adalah momen yang membahagiakan dalam hidupnya. Tidak pernah disangka hal ini akan terjadi padanya. Mendapatkan hadiah dari orang yang dia kasihi.
Galang merasakan kebahagiaan yang terpancar dari wajah Biru, ketika dia yang mendekat dan hendak memeluk Biru, suara datang dari samping.
"Kau tengah kencan, Galang?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|
Ficção Geral🌻 Bagi teman-teman yang mau baca karya saya dalam bentuk pdf, hubungi saya lewat aplikasi Line dari link di profil saya.🌻 Galang Mahendra hanya menganggap Biru Samudera sebagai objek tantangan konyol. Setelah di tolak oleh Biru, Galang tetap tidak...
![[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|](https://img.wattpad.com/cover/372070671-64-k791571.jpg)