"Apa Biru tidak datang kesini lagi?"
"Tidak."
Galang menghela nafas panjang karena merasa kecewa. Sudah beberapa hari semenjak mereka berpisah di pasar malam waktu itu. Sampai hari ini, dia tidak mendapati Biru yang datang ke vila. Dia juga tidak menemukannya di rumahnya. Tidak juga di restoran.
Tubuhnya bergerak linglung saat berjalan menuju hotel. Dia merasa lemas dan lelah. Seolah-olah energinya hilang bersama Biru.
Dia tidak tahu kemana Biru pergi, tapi yang dia tahu, Indra pasti membawanya.
Karena di malam itu, ketika mereka bertemu Indra, wajah Biru terlihat sangat pucat. Dia memiliki ekspresi bersalah dan terlihat gugup. Sedangkan Indra tidak mengatakan apapun, tatapan tajam dan mata nya sudah lebih dari cukup menjelaskan semuanya.
"A-aku akan pergi bersama, Kak Indra."
Belum sempat Galang menghentikannya, Biru sudah lebih dahulu pergi membawa Dion. Mengikuti Indra di belakangnya. Galang tahu ada sesuatu diantara mereka. Dan dia yakin kalau Indra melarang Biru dekat dengannya, dan Biru melanggar itu.
Tiba di hotel, Galang tidak merasa berdaya. Dia juga tidak punya semangat untuk bekerja, padahal ada tumpukan dokumen yang harus dikerjakannya. Tapi, dia hanya melamun.
Dia juga tidak bisa berbicara kepada Indra, karena orang itu tidak datang ke restoran. Seolah-olah Indra membawa Biru kabur bersamanya.
Ring, ring, ring
Dering ponsel di atas meja terdengar menggema di kantor kerjanya. Galang merasa tidak berdaya dan mengabaikan itu. Tapi, semakin lama dia mengabaikannya, semakin itu mengganggu pikirannya.
"Siapa sih?!"
"Halo?!"
Galang menjawab dengan nada tegas dan kesal. Seolah tengah meluapkan kemarahan kepada orang di seberang sana.
-Ada apa dengan jawabanmu?!
Selama beberapa saat Galang mengedipkan matanya, dia berusaha mencerna siapa orang di balik pemilik suara ini. Setelah mencari di data otaknya, dia akhirnya tahu siapa orang ini.
"Oh, Kak Danu."
-Kau dimana? Aku jauh-jauh datang kesini, tapi aku sama sekali tidak melihat batang hidungmu.
"Tunggu, Kak Danu ada dimana memangnya?"
-Dimana lagi kalau bukan lobi Hotel M Semenanjung Timur.
"Diam disana. Aku akan segera turun."
Galang menutup telepon secara sepihak, kemudian dia masuk ke dalam lift yang mengarah ke lantai dasar. Saat pintu lift terbuka, dia melihat seorang dewasa yang berdiri di pintu masuk. Beberapa orang berusaha bertanya kepadanya, tapi sikap sombongnya itu mengabaikan mereka.
Baru saat bertemu tatapan Galang, dia mengayunkan tangannya. Galang mendengus melihat orang itu. Dia datang mendekat lalu bertukar salam dengan pria itu.
"Bagaimana kabarmu, Kak Danu?"
"Aku baik."
"Bagaimana dengan dirimu? Betah tinggal disini?"
"Betah."
"Aku tidak menyangka kau bisa mengatakan ini."
Setelahnya, mereka berdua melanjutkan obrolan di ruang kerja Galang. Danu tidak duduk di atas sofa melainkan menyelidiki ruang kerja secara teliti. Bergerak dari satu sudut ke sudut lain.
"Kau masih tidak mau menghubungi Henri?"
Mendengar nama itu setelah sekian lama, membuat Galang sedikit tersentak. Kemarahan yang dulu tersimpan di bagian hatinya yang dalam, sekarang kembali naik ke permukaan.
"Setelah apa yang dilakukannya, Kak Danu mengharapkan apa?"
Danu, pria itu menutup berkas yang tadi dibukanya. Dia menaruh itu kepada tempatnya lagi. Kemudian menyandarkan tubuhnya kepada rak di belakang sambil melipat kedua tangannya.
"Aku tahu, perbuatan adikku itu salah. Dan aku tidak bisa membela kelakukannya."
"Itu, Kak Danu tahu kan. Dia sudah melewati batas. Dia dengan sengaja menghancurkan lukisanku untuk pameran. Berpura-pura menjadi seorang pahlawan sambil menuduh orang tidak bersalah."
"..."
"Kalau bukan karena kelakuannya, aku tidak akan pernah kehilangan keahlianku dan kekasihku."
Setelah kejadian itu, tidak hanya kehilangan Biru, Galang juga kehilangan bakat melukisnya. Dia merasa jijik dan tidak sanggup saat melihat kuas dan kanvas lukis. Karena itu akan mengingatkan dirinya atas apa yang dilakukannya kepada Biru.
Perasaan bersalah, marah dan kecewa semuanya menunpuk menjadi satu. Dan menjadikan dirinya kehilangan minat atas melukis.
Melukis tidak seindah dulu lagi, karena itu hilang bersama Biru.
Sejak saat itu, Galang tidak mau lagi melukis atau datang ke pameran. Dia juga berganti jurusan ke fakultas bisnis dan manajemen. Memantapkan dirinya untuk fokus bekerja di perusahaan hotel keluarganya.
Wajah Danu perlahan menjadi sendu, dia terihat sedih melihat teman adiknya itu. Apalagi setelah ditinggalkan oleh kekasihnya, dia begitu frustasi. Semua itu hanya karena kelakuan Henri yang kekanakan.
"Hanya saja, tidak bisakah kamu memberinya ucapan selamat. Dia baru menikah seminggu yang lalu. Dan dia menunggumu."
"Aku tidak akan pernah melakukannya. Tidak juga bertemu dengannya. Jadi, Kak Danu berhenti membahas orang itu. Aku sudah pusing karena aku tidak bisa menghubungi calon kekasihku."
Danu tampak tertarik setelah mendengar itu, dia datang mendekat dan duduk di sofa panjang. Berhadapan langsung dengan Galang.
"Apa kau sudah move on dan bertemu orang baru?"
"Tidak. Itu adalah dia. Biru."
"Kau berhasil menemukannya?!"
"Ya. Tapi, itu tidak semudah yang terdengar."
Wajah Galang terlihat kusut, Danu bisa melihat kalau itu memang tidak berjalan mulus. Mungkin dia bahagia karena mereka akhirnya bertemu, tapi mungkin orang lain tidak mau menerimanya kembali.
"Jangan menyerah, setelah semuanya, bagaimana kamu bisa menyerah begitu saja? Kejar dia dengan benar dan tunjukan kepadanya dirinya kalau kau bersungguh-sungguh dan tidak main-main seperti dulu lagi."
Atas nasihat itu, Galang mengangguk. Apa yang dikatakan Danu itu benar. Dia jika menyerah dan diam begitu saja, lalu apa siapa yang akan mengubah nasib dalam hubungan mereka.
Karena takdir tidak hanya datang dari ketetapan Tuhan, tapi harus datang dari usahanya sendiri.
"Apa kau menyimpan nomor ponselnya?"
Mendengar itu, Galang menggeleng pelan. Danu seolah tidak percaya melihat itu.
"Galang, kau tampak bodoh saat ini."
Galang menatap tajam ke arah Danu, dan pria itu tampak tidak merasa bersalah.
"Setelah bertemu dengannya dapatkan nomor ponselnya. Jika kau tidak punya, kau mau menghubungi dia kemana?"
"Tapi, aku takut dia akan memblokirku."
"Apa kalian sering bertemu dan menghabiskan waktu bersama?"
"Ya."
"Jika dia mau melakukan itu. itu tandanya dia sudah menerima dirimu secara perlahan di hidupnya. Jika kau berharap dia tidak meragukanmu, kau seharusnya tidak meragukannya juga. Mengerti?"
Setelah beberapa saat, Galang mengangguk pelan. Dia kembali setuju dengan pendapat Danu lagi. Ternyata memiliki seseorang yang lebih dewasa di dekatnya bisa membuat dirinya berpikir lebih bijak.
"Jadi, secantik apa wajah Biru itu sampai membuatmu bodoh seperti ini?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|
General Fiction🌻 Bagi teman-teman yang mau baca karya saya dalam bentuk pdf, hubungi saya lewat aplikasi Line dari link di profil saya.🌻 Galang Mahendra hanya menganggap Biru Samudera sebagai objek tantangan konyol. Setelah di tolak oleh Biru, Galang tetap tidak...
![[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|](https://img.wattpad.com/cover/372070671-64-k791571.jpg)