Chapter-18

3.9K 242 4
                                        

Galang duduk sila di depan Biru sambil memejamkan matanya. Sedangkan Biru mulai mengobati luka Galang dengan obat merah serta salep. Sesekali Galang mengeluh sakit.

"Selesai," ucap Biru.

Galang kemudian memegang wajahnya perlahan, menemukan beberapa plester kecil di bagian pelipisnya. Dia tersenyum hangat dan berkata, "Terima kasih,"

Biru mengangguk, kemudian dia membereskan semua barang-barang yang dipakai untuk mengobati luka Galang. Galang di belakangnya terdengar berbicara, "Bisakah aku tetap disini?"

"Tentu," jawabnya.

Setelah selesai membereskan semuanya, Biru melihat Galang yang tengah memejamkan matanya. Biru mengira Galang tengah tidur. Jadi dia tidak mau mengganggunya.

Di waktu kosong ini, Biru memilih untuk belajar saja. Ujian akhir semester tidak lama lagi. Dia harus mempersiapkan semuanya sedini mungkin. Agar semua nilainya bisa tetap sempurna.

Saat dia fokus belajar, Biru dikagetkan oleh Galang yang tiba-tiba tidur di atas pangkuannya. Biru menoleh ke bawah dan bertatapan dengan mata Galang.

"Ini nyaman, aku ingin terus tidur di atas pahamu," katanya dengan santai.

Biru malu, apalagi dia merasa geli di bawah sana. Namun dia tidak mau mengatakan itu. Dan membalas dengan mengangguk saja.

Selama beberapa jam ke depan, mereka tetap berada di posisi yang sama. Galang juga sampai tertidur dengan lelap. Sedangkan Biru sesekali memperhatikan wajah Galang dan buku yang ada di meja.

***

Saat Galang bangun, dia menemukan kalau Biru tengah tertidur sambil menyandarkan kepalanya ke dinding kosan. Galang rasa itu posisi yang kurang nyaman untuk tidur.

Tapi, sebelum Galang membangunkan Biru, dia memperhatikan wajah Biru dengan lekat. Berbagai pikiran datang silih berganti di otaknya. Membuat Galang kebingungan.

"Aku tidak tahu, apa yang aku harus lakukan kepadamu?" Suaranya terdengar parau.

Galang memegang wajah Biru, kemudian berkata, "Setelah semuanya berakhir, dibandingkan merasa senang, justru aku merasa kosong." Ucapnya.

"Aku tidak mengerti," tambahnya.

Kemudian Galang membaringkan Biru di atas kasurnya. Merapikan semua buku dan laptop Biru. Kemudian menyelimuti Biru agar tetap hangat.

Sebelum dia pergi, Galang berbisik di telinga Biru, "Kamu tahu, ini kali pertamanya aku berkelahi karena seseorang,"

Setelah itu Galang keluar dari kosan Biru, menutup pintunya dengan pelan.

Kedua mata Biru terbuka, dia tidak tahu apa maksud dari perkatan Galang barusan. Apa setelah semuanya Galang merasa bingung? Entahlah, Biru juga tidak tahu pasti.

Yang jelas, bagi Biru saat ini adalah, dia akan terus berada di samping Galang, sampai Galang bosan padanya.

***

Pagi itu, Biru keluar dari kosannya untuk mencari sarapan pagi. Karena kelasnya berada di siang hari nanti, Biru tidak perlu terburu-buru datang pagi ke kampus.

Dengan pakaian sederhana, Biru mencari makanan yang banyak dijual di pinggiran jalan. Jenis makanan untuk sarapan ada beragam. Mulai dari bubur, nasi udur, gorengan dan lainnya.

Biru memilih untuk memesan bubur saja, mengatakan pesanan yang biasa dibelinya kepada penjual. Karena banyaknya yang memesan, Biru harus mengantri.

Di sela-sela menunggu, datang seorang wanita di awal 40 tahunan, dengan seorang anak lelaki yang Biru rasa berusia di sekitar 5 tahunan. Ibu itu memangku anaknya. Anak kecil itu terlihat senang.

"Pak, pesan bubur 4 porsi, kayak biasa ya." Katanya. Dia terdengar seperti orang yang sering beli disini.

"Siap, Bu," jawab penjual bubur.

Ibu itu kemudian duduk di kursi plastik, tidak jauh dari tempatnya. Biru terus memperhatikan Ibu itu dengan seksama. Mulai dari penampilannya yang begitu nyentrik. Pakaian mahal, wajah full make up dan emas yang ada di kedua tangan dan lehernya.

Selain itu, Biru memperhatikan perlakuannya kepada anak itu seolah anak itu adalah anak yang paling disayanginya. Jujur, di sana Biru merasa iri dengan anak itu.

Mungkin karena memperhatikan mereka terlalu lama, Biru bertemu dengan mata Ibu itu. Ibu itu terlihat tidak suka saat Biru memperhatikannya seperti itu. Biru akhirnya menunduk, kemudian, rasa yang berat datang di dadanya.

Biru tidak sanggup lagi.

Biru akhirnya segera bangkit, membatalkan pesanan buburnya, berlari sekuat tenaga. Mengabaikan orang-orang yang dilewatinya. Dan kembali ke kosan miliknya.

Mengunci kosannya, menutup semua jendela, dan mematikan lampu, serta bersembunyi dibalik selimut. Menumpahkan semua kesedihannya yang selama ini dipendamnya.

Biru terisak dengan keras di kegelapan, sendirian.

Biru tidak menyangka akan bertemu dengan ibunya.

Saat pertama kali melihat Ibunya yang sudah lama tidak pernah ditemui, Biru sangat terkejut. Dia membeku di tempat. Namun dia berusaha tenang. Karena menantikan bagaimana ibunya bereaksi saat melihatnya.

Tapi reaksinya tidak sesuai dengan harapan Biru.
Sosok ibu yang sudah melupakannya. Biru begitu merindukan ibunya, namun, ibunya tidak mengenali Biru sama sekali. Hal itu semakin membuat ulu hati Biru sakit.

Biru mengira ibunya, orang yang telah melahirkannya, akan ingat wajahnya, tapi dia tidak. Dibandingkan senang bertemu dengannya, dia telah melupakan Biru.

Ibunya terlihat sangat bahagia tanpa dirinya, lebih menyayangi anak kecil itu, dibandingkan mengingat wajah anak pertamanya. Biru terus-terusan menangis, dia sampai lupa makan.

Setelahnya, Biru terus mengurung dirinya di dalam kamar. Mengabaikan semua pesan dan panggilan di ponselnya.

Dan untuk pertama kalinya, Biru akhirnya bolos kelas selama 1 hari penuh.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang