"Aku pulang duluan. Maaf karena tidak memberitahumu. Aku tidak ingin mengganggumu. Tetap semangat, semoga kamu berhasil menyelesaikannya."
Kata Galang saat membaca note yang ditinggalkan Biru. Galang menatap itu dengan senyuman tipis di wajahnya. Setelah itu dia memasukkan note itu ke dalam sakunya. Kemudian pergi keluar.
Malam sudah menunjukan pukul 8 malam. Dan selama beberapa jam terakhir, Galang sangat fokus dengan lukisannya. Setelah kedatangan Biru, dia merasakan angin segar yang selama ini hilang.
Kali ini dia percaya dengan hasil lukisannya. Dan dia berjanji, akan menunjukan kerja kerasnya itu kepada Biru. Biru akan jadi orang pertama yang melihatnya. Dan Galang tidak sabar untuk membawa Biru lagi.
Tapi, dia bisa menyimpan itu untuk besok hari. Karena sekarang sudah terlalu malam. Mungkin juga Biru tengah sibuk mempersiapkan ujian akhir semester yang sudah dekat.
Galang memilih untuk datang ke sebuah kafe untuk merilekskan tubuhnya yang kaku karena duduk terlalu lama. Sambil menunggu pesanan selesai, Galang memperhatikan lalu lalang orang diluaran sana.
Tidak lama dia mendapatkan pesan dari seseorang.
Henri [Kau dimana?]
Galang kemudian membalas [Kafe dekat kampus]
Datang balasan lagi.
Henri [Tetap disana. Aku kesana.]
Setelah itu Galang tidak membalas apapun. Hingga pesanan Galang selesai. Henri akhirnya datang dan menghampirinya.
"Bagaimana dengan lukisanmu? Kau sudah menyelesaikannya?" Tanya Henri.
"Ya. Semuanya sudah selesai," jawab Galang santai sambil menyeruput minumannya.
"Begitukah? Aku kira kau akan kesulitan. Apalagi setelah kejadian tadi siang," balas Henri.
"Kejadian tadi siang?" Tanya Galang sambil mengerutkan dahinya. Merasa aneh dengan perkataan Henri barusan.
"Oh, tidak. Tidak. Maksudku, selama beberapa hari terakhir ini kau memang tengah kesulitan." Kata Henri dengan wajah gelisah. Galang menatapnya dengan aneh. Namun dia tidak terlalu memusingkan itu.
"Aku senang mendengarnya karena kau telah menyelesaikannya. Aku jadi penasaran, ingin melihat bagaimana hasil lukisanmu!" Seru Henri dengan semangat.
"Tidak bisa." Tolak Galang.
"Kenapa?" Tanya Henri kecewa.
"Tidak ada alasan." Jawab Galang dengan santai.
"Pasti kau mau menunjukan itu kepada Biru kan?" Tanya Henri. Karena Galang hanya diam saja. Henri menjawab sendiri, "Tuh, kan. Benar!" Seru Henri yang telah menebak dengan benar.
"Diam," keluh Galang karena Henri terlalu berisik.
Padahal Galang datang ke kafe untuk bersantai. Tapi, Henri malah datang dan mulai menganggunya. Tanpa mengucapkan kata apapun Galang kemudian bangkit dan keluar dari kafe.
"Eh, tunggu!" Seru Henri dibelakangnya.
Namun Galang tidak mendengarkan apapun. Mengabaikan teriakan Henri dibelakangnya. Dan terus berjalan kembali ke kampus dengan santai.
Suasana kampus di malam hari tidak seramai pada siang hari, namun masih ada beberapa orang yang berkeliaran di sekitar kampus. Disaat Galang berjalan mendekati gedung fakultasnya, dia melihat Biru baru saja keluar dari dalam gedung.
Tampaknya dia tidak melihat Galang. Karena dia langsung pergi ke arah gedung fakultasnya. Galang heran. Padahal Biru berkata sudah pulang, kenapa dia ada di kampus?
"Itu Biru kan?" Tanya Henri di sampingnya.
Galang tidak menjawab. Kemudian dia berjalan menuju studio miliknya. Henri di belakng masih terus mengikutinya. Karena dia sangat penasaran dengan lukisan Galang.
Saat Galang membuka pintu sudio miliknya, dia menemukan kalau lukisannya telah hancur.
"Apa-apaan ini?"
Tanya Galang kaget melihat lukisannya telah robek menjadi beberapa bagian. Dia mendekat dengan tatapan tidak percaya apa yang dilihatnya.
"Astaga!" Henri dibelakangnya sama kagetnya.
Galang menyentuh lukisannya yang sudah tidak berbentuk lagi. Tidak hanya di robek, lukisannya telah dicoret coret sebelumnya. Hingga jejak terakhir sudah tidak terlihat lagi.
"Apa kau tidak mengunci pintunya sebelum keluar?" Tanya Henri.
Galang menggeleng pelan. Itu karena dia pikir tidak akan ada orang yang masuk. Selain itu dirinya hanya pergi sebentar ke kafe.
"Entah siapa yang pelakunya. Aku yakin dia sengaja melakukan ini, karena kau tengah berpartisipasi dalam sebuah pameran besar." kata Henri.
Galang sangat marah. Lukisan hasil kerja kerasnya. Sudah tidak berbentuk lagi. Padahal dia sudah ingin mengatakan ini kepada Biru. Dan memajangnya dengan bangga di pameran. Tapi sekarang semua bayangan itu telah sirna.
Galang yang marah kemudian menendang stand kanvas sampai itu terbanting jatuh ke atas lantai. Setelah itu dia meluapkan amarahnya dengan menendang kertas kanvas yang berserakan.
"Sial! Brengsek!"
"Tenanglah. Tahan emosimu," Henri berusaha menenangkan Galang. Galang menepis tangan Henri.
"Siapapun pelakunya. Aku tidak akan memaafkan dia!" Seru Galang, amarah tertuang di setiap kata-katanya.
"Lebih baik kita cari pelakunya. Mati kita cek kamera pengawas. Aku yakin seseorang sengaja masuk ke dalam," saran Henri.
Galang tidak menjawab apapun, tapi dia keluar dari studionya dan mulai pergi ke bagian ruangan pusat kamera pengawas. Perkataan Henri benar. Dia harus segera menangkan bajingan yang telah menghancurkan lukisannya.
Saat tiba di ruangan itu, petugas kaget melihat kedatangan Galang dengan aura yang menyeramkan.
"Pak, segera cek kamera pengawas di gedung fakultas seni rupa lantai 5!" Seru Galang dengan keras.
Petugas itu langsung mematuhi perintah Galang. Dia segera membuka video rekaman di lantai 5. Video di putar setelah beberapa menit Galang keluar. Video itu terlihat putus-putus. Karena petugas membuka beberapa video. Seperti telah ada yang terpotong.
"Setelah saya keluar kenapa videonya terpotong beberapa menit?" Tanya Galang heran.
"Ah, itu, itu, biasanya suka ada sedikit error. Jadi sebagian terpotong," jelas petugas dengan gelagapan.
"Putar videonya lebih cepat!" Suruh Galang.
"Iya,"
Video kemudian diputar dalam kecepatan 2 kali lipat. Galang dan dua orang di ruangan itu memperhatikan layar dengan seksama. Tidak ada pergerakan apapun, hingga tiba saatnya dua orang datang. Salah satunya masuk ke ruangan di samping studio Galang. Dan satunya masuk ke studio Galang.
"Bukankah itu Biru?" Tanya Henri dengan mulut menganga.
Galang tidak menjawab apapun, tapi dia sudah mengeratkan kedua tangannya di bawah sana. Tidak lama setelah itu Biru keluar.
Tidak ada orang lain yang masuk selain mereka berdua setelah kepergian Biru.
"Itu sudah sangat jelas. Biru adalah pelakunya!" Kata Henri.
Galang diam, dia sungguh tidak bisa mempercayai ini. Dia tidak mau mengakui ini, tapi rekaman dengan jelas memperhatikan kalau Biru adalah orang terakhir yang masuk.
Galang tidak tahu mengapa Biru tega melakukan ini.
"Pantas saja kita berdua melihatnya keluar dari gedung fakultas. Sepertinya dia memang telah merusak lukisanmu," tambah Henri.
Galang tetap diam. Tapi amarah sudah terpatri jelas dari gestur tubuhnya. Dia seperti tengah menahan itu sekuat tenaga.
Henri yang melihat reaksi Galang, membuat seringaian kecil di wajahnya tanpa Galang ketahui.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|
General Fiction🌻 Bagi teman-teman yang mau baca karya saya dalam bentuk pdf, hubungi saya lewat aplikasi Line dari link di profil saya.🌻 Galang Mahendra hanya menganggap Biru Samudera sebagai objek tantangan konyol. Setelah di tolak oleh Biru, Galang tetap tidak...
![[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|](https://img.wattpad.com/cover/372070671-64-k791571.jpg)