Dion jelas adalah titik lemah Biru.
Wajah Biru terlihat pasrah dan tidak berdaya ketika Dion terus bergelantungan di tangannya, kedua mata lebarnya menatapnya dengan penuh harapan dan tidak lupa ada suara lembut yang terus memohon.
Biru menghela nafas sebelum akhirnya mengangguk. Dalam hatinya Galang ingin sekali berseru. Namun, dia menahan itu dan hanya bisa tersenyum puas saat Biru menatap tajam ke arahnya.
"Kalau begitu, aku akan pergi ke hotel dan meminjam sepeda motor. Kalian tunggu disini dan bersiap saja. Aku tidak akan lama."
Setelah mengatakan itu, Galang buru-buru pergi, sebelum Biru menarik kembali persetujuannya. Sepanjang perjalanan Galang berlari dengan kencang. Hal itu tidak luput dari Pak Anton yang kaget ketika mereka bertemu. Keadaan Galang begitu basah kuyup oleh keringat, padahal hari belum siang.
"Pak Anton!"
"Ah, ya. Kenapa Pak Galang?"
"Pinjamkan saya motor!"
"Hah?!"
"Jangan bengong, saya mau pinjam motor."
"Ah, oke."
Pak Anton sedikit gelagapan karena permintaan Galang yang tiba-tiba. Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan kunci motor miliknya.
"Ini—
Galang segera mengambil itu tanpa mengucapkan terima masih, hanya untuk kembali beberapa saat kemudian dan berkata dengan canggung, "Saya tidak bisa mengendarainya."
Saat tiba di villa, Galang segera menyuruh Pak Anton untuk turun dan meminta Biru dan Dion untuk naik. Sebelum Galang naik di belakang motor dia berbicara kepada Pak Anton, "Tolong jaga Si Hitam. Kalau dia terlihat bosan, beri dia mainan. Aku mengandalkanmu."
Dan tanpa mendapat persetujuan Pak Anton, Galang meninggalkan Pak Anton dalam keadaan melongo. Tidak mengerti maksud Galang. Dan malah menganggap Si Hitam sebagai hantu.
***
Ternyata butuh waktu hampir satu jam untuk sampai ke pasar. Selain itu, pasar yang dibayangkan Galang tidak seperti pasar modern yang ada di perkotaan. Di sini semua pedagang menjual dagangannya dengan menggelarnya di atas tikar.
Selain itu, pasar disini tidak selengkap yang ada si kota. Mereka hanya sedikit menjual berbagai bahan makanan dan barang.
Walaupun begitu, Dion, anak itu sudah turun dan berlarian mencari barang yang diinginkannya. Sedangkan Biru di sisinya menatap Galang dengan malas berkata, "Beli apapun yang kau butuhkan."
"Ehh... itu."
"Tidak tahu apa yang harus dibeli?"
"Ya."
Biru menghela nafas panjang kemudian pergi dengan wajah cemberut, Galang di belakang segera menyusulnya.
"Tolong beli untuk kebutuhan memasak di rumah. Terserah padamu, aku mempercayakan semuanya padamu."
Biru tidak menanggapi itu dan malah fokus memilih sayuran, mengecek keadaan sayuran. Galang merasa Biru tidak mau diganggu, jadi sia menyerahkan sejumlah uang kepada Biru.
"Bayar pakai ini. Aku akan pergi mencari, Dion."
"Emm."
Di pasar yang tidak terlalu besar dan tidak terlalu ramai, Galang bisa langsung menemukan Dion yang tengah berjongkok di depan pedagang ikan hias. Kedua matanya tampak takjub melihat ikan dengan berbagai jenis warna.
"Sedang apa, Dion."
"Ikannya lucu paman"
"Kamu mau?"
Dion menoleh ke arah Galang, kemudian berbalik melihat kakaknya yang tengah berbelanja ayam. Wajahnya yang sumringah beralih menjadi murung.
"Kak Biru pasti marah."
"Jangan khawatir. Kalau dia marah, bilang saja kakak yang beli ini untuk kamu."
"Memangnya boleh? Kak Biru bilang tidak boleh sembarangan menerima barang dari orang asing."
"Tapi, kakak bukan orang asing."
"Ehh..."
Dion tampaknya masih bimbang.
"Begini saja, sebagai imbalan kakak beli ikan untuk Dion. Dion harus menjawab perkataan kakak. Bagaimana?"
"Boleh!"
"Oke, bagus."
Galang meminta Dion untuk memilih ikan yang ingin dibelinya, dan Galang langsung membayar itu. Dia cukup terkejut, karena harganya begitu murah. Dan dia tidak pernah membeli barang apapun semurah itu.
"Kak Biru, lihat! Oh, Kak Indra!"
Dion berlari ke arah dua orang pria, saat Galang menemukan pria bernama Indra itu, dia merasa tidak senang. Karena Biru terlihat ramah kepadanya. Berbeda dengan sikap jutek kepada Galang.
"Kenapa kamu beli itu lagi?"
"Tadi, Paman beliin ini untuk Dion. Paman bilang tidak apa-apa."
Dan tentu saja, tatapan menghunus langsung datang ke arahnya. Namun, tunggu dulu. Kenapa Dion memanggilnya paman sedangkan pria bernama Indra itu dipanggil kak.
'Dion ini tidak adil!'
Padahal, dia dan Biru jelas seumuran. Dan Indra jauh terlihat lebih tua dari pada dirinya. Galang walaupun tidak senang tetap menahan itu.
"Kenapa dia ada disini?"
"Hanya membantunya membeli bahan makanan."
"Kenapa kamu melakukan itu?"
"Aku akan menceritakannya nanti."
Galang tidak senang kepada Indra yang mau tahu urusan miliknya. Dia merasa Indra ingin ikut campur.
"Lalu apa yang Kak Indra lakukan disini?"
"Aku juga perlu membeli bahan. Ada pesanan pelanggan."
"Kenapa Kak Indra tidak bilang."
"Tadi, aku ke rumahmu namun kamu tidak ada."
Galang merasa dirinya hanyalah seekor lalat yang memperhatikan dua orang yang tengah berbicara. Mereka berdua sama sekali tidak memperdulikanny. Sedangkan Dion, sibuk dengan ikannya.
"Maaf. Kalau begitu apa saja yang perlu dibeli. Biar aku bantu."
"Tidak apa."
"Biarkan saja. Aku tidak akan lama."
Setelah menerima sejumlah uang dan catatan dari Indra, Biru sekarang meninggalkan Galang dan Indra berdua saja. Karena Dion juga mengikuti kakaknya. Dan hal itu membuat suasana menjadi canggung diantara mereka.
Tatapan mereka berdua persis sama, memperhatikan Biru yang tengah bercengkrama dengan pedagang. Sesekali menawar harga barang.
Beberapa orang yang ada di pasar, memperhatikan dua pria tinggi yang cukup menyita perhatian. Orang yang jelas mengenali Indra menyapanya sedangkan yang lain hanya tersenyum ramah kepada Galang.
"Jika kau ingin main-main, lupakan rencana itu. Karena Biru tidak pantas kau permainkan."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|
General Fiction🌻 Bagi teman-teman yang mau baca karya saya dalam bentuk pdf, hubungi saya lewat aplikasi Line dari link di profil saya.🌻 Galang Mahendra hanya menganggap Biru Samudera sebagai objek tantangan konyol. Setelah di tolak oleh Biru, Galang tetap tidak...
![[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|](https://img.wattpad.com/cover/372070671-64-k791571.jpg)