Chapter-47

2.1K 138 8
                                        

Satu minggu berlalu begitu saja.

Dalam waktu ini, Biru selalu datang setiap harinya. Dia hanya akan datang untuk memasak pada pagi, siang dan malam hari. Namun, dia tidak pernah membawa Dion bersamanya. Sekalipun Galang menggunakan alasan Si Hitam ingin bermain dengan Dion.

Walaupun Dion tidak pernah di bawa ke vila miliknya, Galang tahu kalau Dion di titipkan di restoran itu. Karena, saat dia pertama kali pulang dari hotel, dia pernah melihat Dion disana. Dan dia tengah bermain dengan Indra.

Dan sejak kejadian dengan Indra, Galang belum secara langsung berbicara lagi kepadanya. Kenapa dia bisa mengatakan hal seperti itu kepada Galang. Dan Galang yakin, Indra tahu sesuatu dari masa lalunya dengan Biru.

Dia menebak, itu ada hubungannya dengan kejadian dulu.

Di sisi lain, Biru tidak pernah menunjukan perubahan apapun pada Galang. Sikapnya masih dingin dan acuh tak acuh. Setiap kali dia bertanya, dia dengan sengaja mengabaikannya. Atau pun saat Galang berusaha untuk mendekatinya, dia selalu menghindar lebih dulu.

Sekalipun mereka bertemu, hanya hitungan jari Biru membalasnya. Walaupun merasa tidak berdaya, namun Galang tidak mau menyerah begitu saja. Dia akan tetap berusaha memenangkan hati Biru, setidaknya jika mereka tidak bisa seperti dulu, dia dan Biru masih bisa berteman. Menjadi kekasih, adalah bonus.

Tapi, walaupun begitu kalau Biru enggan berada di dekatnya, apa Galang masih punya kesempatan?

Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai Manajer Utama di Hotel M Semenanjung Timur. Galang mulai membereskan semua barang-barang miliknya.

Hotel yang sudah diperbaiki selama 1 minggu ini, akhirnya selesai juga. Beberapa bagian hotel yang sebelumnya terlihat buruk telah berubah menjadi lebih baik dan layak untuk digunakan. Walaupun tidak seperti hotel bintang 5 di tempat lain, keadaan sekarang sudah lebih dari cukup.

Selain itu, Galang juga sudah mulai mempromosikan hotelnya ini lewat berbagai media sosial. Kemudian bergabung dengan suatu aplikasi agar pembeli yang hendak melakukan reservasi secara online lebih mudah.

Walaupun, belum ada banyak pengunjung, itu tidak masalah. Dia yakin, itu hanya masalah waktu saja.

Galang keluar dari kantor pribadinya, sesekali menyapa resepsionis dan penjaga hotel. Dia berjalan menuju vila dengan setelan jas yang masih melekat padanya. Dia tampak seperti seorang pengusaha muda di jalanan yang tidak cocok dengan penampilannya.

"Selamat datang Tuan."

"Iya."

Pak Agus yang berjaga di depan vilanya menyap Galang, Galang menjawab singkat dan tersenyum.

"Apa Biru sudah datang?"

"Ya, dia baru saja datang bersama Dion."

"Oke. Terima kasih."

Galang tersenyum lebar, dia segera masuk ke dalam dan bertemu dengan tatapan lebar Dion. Mata besar itu terlihat terkejut melihat Galang dengan penampilannya yang baru ini.

"Paman sangat tampan!"

Dion memujinya sambil memberikan dua jempol kepadanya. Galang tersenyum lebar dan tanpa sengaja bertemu tatapan Biru di ruang makan. Biru juga termenung selama beberapa saat, ada jejak merah di bagian telinganya. Sebelum akhirnya dia kabur ke dapur.

"Hehe... dia lucu."

"Siapa yang lucu, paman?"

Galang tersadar kembali dan menatap Dion yang sudah berdiri di dekatnya.

"Engga. Omong-omong kemana saja kamu seminggu terakhir ini, kenapa jarang datang kesini. Padahal Si Hitam sering menunggumu."

"Kakak bilang jangan datang terlalu sering. Mungkin saja mengganggu paman."

Galang berjongkok di depan Dion dan memegang bahunya, "Dion tidak mengganggu. Justru kakak senang kalau Dion mau datang ke rumah dan bermain bersama kakak dan si hitam."

"Benarkah? Tidak apa-apa?"

"Iya! Dion bisa datang setiap hari."

"Oke! Dion mau, paman!"

Dion berseru dengan mengangkat kedua tangannya.

"Kenapa kamu selalu memanggil kakak dengan paman? Padahal kakak seumuran dengan kakakmu."

"Karena paman terlihat tua."

"Pfttt."

Mendengar tawa tertahan, Galang menoleh ke belakang. Biru menutup kedua mulitnya. Jelas berusaha untuk tidak tertawa. Walaupun dia cukup kesal karena Dion mengatakan dia tua, setidaknya dia bisa melihat Biru yang tertawa. Cukup sepadan.

"Jangan panggil paman lagi. Panggil aja Kakak atau Kak Galang. Oke?"

"Oke, Paman!"

"..."

Dion segera berlari ke arah tempat tidur Si Hitam, dia mulai bermain dengan Si Hitam yang tengah berbaring terlentang dengan santai. Kucing hitam gemuk itu benar-benar malas.

Galang datang mendekat, Dion menoleh dan bertanya, "Kenapa Kak Galang memakai ini?"

"Ah, ini karena ada rapat online."

"Rapat onlen?"

"Ya, semacam pertemuan."

Dion tidak bertanya lebih lanjut dan hanya mengangguk.

"Jadi, apa kakak benar tampan?"

"Ya."

"Lalu, bagaimana dengan kakakmu. Apa dia akan berpikir hal yang sama."

"Pastinya. Karena Kak Biru suka yang tampan!"

"..."

Kejujuran anak kecil benar-benar tidak ada duanya. Pada saat ini Galang bingung, apa dia harus bahagia kalau Biru menyukai penampilannya atau menyukai orang tampan.

"Apa kamu pernah lihat kakakmu dekat dengan orang lain?"

"Siapa?"

"Siapa saja. Mungkin pria tampan?"

"Ahhh, itu Kak Indra!"

"Apa ada orang lain?"

"Sepertinya tidak ada."

"Lalu, siapa Kak Indra itu?"

Dion lalu menjelaskannya dengan patah-patah. Dia mengatakan kalau Indra adalah orang yang memperkerjakan kakaknya di restoran itu. Dan bahwa mereka berdua juga adalah teman yang dekat.

Setelah mendengarkan, Galang bisa menyimpulkan bahwa Indra adalah orang yang diandalkan oleh Biru. Baik secara finansial dan mungkin emosi. Dan Biru cukup tergantung kepada Indra, karena dengan begitu, Biru tidak akan bisa tinggal di rumahnya.

Galang menghela nafas panjang, kalau begini jadinya. Sekali Indra mengatakan sesuatu kepada Biru tentang dirinya, pasti Biru akan langsung mengatakan ya tanpa berpikir panjang.

"Sepertinya dia baik."

"Ya. Kak Indra orang baik, tapi terkadang dia terlihat aneh."

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

[BL] Playboy Trap |Biru&Galang|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang