"Jangan pergi ibu, jangan tinggalkan Rhea. Rhea ingin ikut ibu dan ayah, jangan pergi.... Rhea takut ibu.... Ayah...."
Gadis itu tersentak dalam tidurnya, dadanya naik turun akibat jantung nya yang berdetak tidak stabil membuat nafas nya terengah-engah. Keringat dingin membasahi tubuhnya meskipun ruang kamarnya dingin ber-AC.
Rhea akan bermimpi yang sama di setiap tahunnya, kejadian kelam ayah dan ibunya berpisah. Itu sebabnya ia sangat membenci hari ulang tahunnya sendiri.
Meskipun dendamnya sudah hilang tetapi tetap saja ingatan buruk itu tidak akan pernah ia lupakan, Rhea meraih ponselnya dan melihat jam masih pukul 2 dinihari. Tangannya gemetaran mengambil segelas air mineral yang tersedia di atas nakas.
Seandainya Rayyan di sini mungkin Rhea tidak akan mengalami malam seberat ini. Ketika orang lain bersuka cita menyambut hari kelahiran nya, berbeda dengan Rhea yang takut memejamkan mata dan memilih untuk tidak tidur agar tidak mengalami mimpi' buruk.
Tetapi setelah bersama Rayyan ia tidak lagi memikirkan kapan ulang tahunnya tiba. Sampai ia pun tak ingat dan tertidur begitu saja, sepertinya kejadian masa lalu benar-benar tertanam di alam bawah sadarnya. Gadis itu meringkuk di atas kasurnya yang empuk namun tidak ada kenyamanan yang ia rasakan. Hanya sesak di dada sampai hanya air mata yang mampu ia luapkan.
"Terkadang aku masih sangat merindukanmu meski di saat yang sama aku juga sangat membencimu." Ucapnya memandang ke arah jendela.
Orang yang ia maksud adalah ayahnya, Sejak kejadian malam itu ia tak pernah lagi melihat wajah teduh yang sangat ia kagumi dulu, kebencian nya pada sang ayah tak sebesar kebencian pada sang ibu, tetapi rasa sakit membuat bayangan nya tentang seorang ayah pun ikut hancur.
"Tetapi aku berharap kau baik-baik saja, menjalani hidup mu dengan tenang. Dengan begitu aku bisa tetap membencimu." Air mata itu kembali lolos begitu saja, bagaimana pun kenangan indah bersama kedua orang tuanya pernah membuat nya menjadi seorang anak yang sangat bahagia.
Rhea yang gelisah berjalan menuju kamar mandi, menenggelamkan setengah tubuhnya ke dalam bathtub. Berusaha meredam jantungnya yang terus berdebar tak karuan.
Betapa sulit baginya untuk sembuh dari sebuah trauma meskipun satu persatu dendamnya sudah terbalaskan. Tetapi apa itu cukup? Tentu tidak, tak ada yang kembali normal seperti sedia kala. Rayyan seperti sebuah cahaya dalam hidup nya yang gelap. Pria itu adalah sebuah harapan yang tak pernah Rhea bayangkan sebelumnya.
Degh...
Sudah beberapa hari ini Rayyan tidak pulang, bahkan juga tidak memberi kabar. Mengapa perasaan gadis itu tiba-tiba menjadi galau, kemana Rayyan pergi?
"Apakah kau sudah bosan padaku?" Gumam Rhea.
Pikiran gadis itu menjadi kacau, mungkin saja Rayyan memang sudah bosan padanya, lalu pergi ke tempat lain untuk mencari gadis lain yang tentunya lebih baik dari dirinya. Ah.... Pemikiran liar itu membuat nya kesulitan bernafas, sesak sekali. Rhea semakin menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam bak, beberapa menit kemudian ia tersedak karena kelamaan di dalam air.
Nafasnya tersengal, hidungnya memerah akibat kemasukan air. Tangan nya mengepal memukul dadanya sendiri yang terasa berat.
"Tidak... Aku harus percaya padanya, dia tidak akan meninggalkan ku dan aku sudah sejauh ini ingin keluar dari sumur gelap itu. Aku tidak akan kalah dan tidak akan pernah mengalah." Tekad nya dan bangkit dari bathub berjalan ke wardrobe untuk berpakaian.
Suara ketukan mengejutkan nya, beberapa pelayan bersama orang orang berpenampilan rapi menemuinya.
Di antaranya ada fashion stylist dan designer ternama di kota itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Girl
RomanceRhea adalah seorang gadis malam, usia nya baru menginjak 21 tahun. Usia yang terbilang cukup muda untuk seorang wanita penghibur yang cukup terkenal di kelamnya dunia malam. Suatu hari ia mendapatkan tawaran pekerjaan yang cukup menarik, menjadi pe...
